
Jihan baru sampai di cafe langsung mengganti bajunya. Wanita itu harus berdebat dulu dengan sang suami sebelum sampai di sini. Pria itu tidak mengizinkannya pergi karena khawatir akan kelelahan. Ia segera bergegas setelah memakai pakaian dinasnya di dapur. Kembali bekerja lagi setelah sekian lama absen membuatnya begitu bersemangat.
__ADS_1
"Mbak Jihan." Mereka terkejut dengan kedatangan wanita dengan perut sedikit membuncit itu. "Kamu nanti kena omel suamimu kalau sampai dia tau." Meta menghampiri Jihan dengan buru buru. "Nggak papa." Jawab Jihan mulai memegang pisau untuk segera memasak. "Mbak Jihan jangan pegang pisau. Mbak Jihan tangani yang aman saja. Buat kue misalnya." Ucap salah satu karyawannya takut terjadi sesuatu pada bosnya itu. "Iya. Kamu sedang hamil begini." Tutur meta sambil mengusap perut wanita itu. "Pada kenapa sih. Perasaan aku baik baik aja." Ucap Jihan sambil bersedekap dada. "Sudah. Kamu menurut saja. Ayo pindah." Meta menggandeng tangan Jihan untuk pindah di bagian pembuatan kue. Ia juga menyuruh beberapa orang untuk menemani sekaligus menjaga Jihan.
__ADS_1
Di sisi lain Riza sedang khawatir karena istrinya sedaritadi di hubungi tetapi tidak di angkat. "Pak Riza." Panggil seseorang sembari duduk di depan Riza. "Pak Panji. Bu Zahra." Pria itu tersenyum menanggapi kedatangan keduanya. "Pak Riza sedang apa?" Tanya Zahra tersenyum genit. "Sedang mengecek tugas mahasiswa." Jawab Riza singkat. "Saya ke sana dulu." Ucap Panji memberikan keduanya waktu untuk bicara karena sudah sepakat dengan Zahra. "Pak Riza. Ada yang ingin saya bicarakan." Kata Zahra membuat Riza menghentikan kegiatannya. "Silahkan." Ucapnya tanpa memandang wanita di depannya itu. Sebenarnya Riza menahan diri. Ia tak mau duduk berdua seperti ini karena bisa mengundang fitnah. "Bukan sekarang Pak. Nanti saya tunggu di Unico cafe and restaurant jam 3 sore." Ucapnya segera bergegas pergi setelah mendapat anggukan.
__ADS_1
Riza menghampiri Zahra setelah memastikan sang istri masuk ke ruangan untuk berganti baju. Gadis itu sudah duduk di salah satu kursi di restoran istrinya. "Ada apa Bu?" Tanya Riza setelah mendudukkan diri di depan Zahra. Suasana restoran yang cukup ramai membuatnya berani untuk duduk berdua satu meja dengan Zahra. Gadis itu tampak beberapa menarik napas dan menghembuskannya. "Jadikan Saya istri kedua ustadz." Katanya cukup keras mampu menyita perhatian semua orang. Riza menghela napasnya. "Saya sudah punya istri. Saya mencintainya. Hanya dia istri saya." Jawab Riza namun tak membuat Zahra menyerah. Wanita itu beranjak dan berjalan menghampiri Jihan yang baru datang untuk menghampiri suaminya. "Jadikan aku sebagai madu mu." Kata Zahra menggenggam tangan Jihan membuat wanita itu mengernyitkan keningnya bingung. "Madu apa sih?" Tanya Jihan. "Terimalah aku sebagai istri kedua ustadz Riza. Aku mohon." Ucap Zahra langsung mendapat cibiran dari semua orang. "Hentikan Bu Zahra. Jangan konyol. Saya sudah punya istri. Cukup satu untuk selamanya." ucap Riza segera menarik tangan istrinya dan memeluk wanita itu dengan erat. "Jangan di dengarkan." Bisiknya sembari mengelus punggung Jihan dengan lembut.
__ADS_1
Riza segera mengajak istrinya pulang setelah kekacauan tadi berhasil di selesaikan. Pria itu fokus menyetir sembari sesekali melirik Jihan yang diam memandang ke arah luar. Ia merasa tak enek hati kerena kejadian tadi. "Dek..." Panggil Riza dengan lembut. "Kamu marah?" Tanyanya lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. "Enggak." Jawab Jihan menatap lurus ke depan. "Aku pengen buah di kasih sambel kaya waktu itu." Riza tersenyum. "Nanti aku buatkan." Ucapnya sembari menggenggam tangan sang istri.
__ADS_1