Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mulut Pedas Jaafar


__ADS_3

Riza baru sampai di rumah langsung mencari keberadaan istrinya. "Mark. Kakak dimana?" Tanya Pria itu karena sudah mencari tapi tidak menemukan. "Lagi ke minimarket beli sesuatu. Tadi aku mau antar tidak boleh. Dia jalan kaki." Jawabnya menjelaskan. "Daritadi?" Tanya Riza di jawab anggukan. Pria itu bergegas pergi keluar untuk mencari Istrinya. "Bumil beli apa sih lama banget." gerutu Riza di sepanjang perjalanan.


"Dek." Panggil Riza menghampiri istrinya. Pria itu langsung mengambil dua kantong kresek yang sedang di tenteng oleh sang istri. "Kamu ngapain?" Tanya Jihan heran. "Jemput kamu. Kata Mark kamu belanja daritadi nggak pulang pulang. Jangan bawa berat berat. Kamu kan bisa tunggu aku pulang." Kata Pria itu sembari mengimbangi langkah Jihan. "Jangan cepat cepat jalannya Dek. Nanti kamu tersandung."


Jihan dan Riza sudah sampai di rumah langsung menata belanjaan di dapur. "Dek. Kita diundang makan malam di rumah Bunda sama Mark juga. Datang ya." Pinta Riza terdengar seperti permohonan. "Lihat saja nanti." Jawab Jihan sambil memasukkan beberapa susu UHT ke dalam kulkas. "Katanya semua pada kangen sama kamu." ucap Riza menyampaikan apa yang dikatakan mertuanya. "Kan masih katanya belum tentu iya." Jihan selalu bisa menjawab membuat suaminya gemas.

__ADS_1


Malam hari Jihan dan Mark sudah siap hanya menunggu Riza yang masih belum juga turun. "Ngapain aja sih. Dandannya lama banget. Perasaan tadi baju sudah aku siapkan." Wanita itu mulai mengomel melihat kedatangan suaminya. "Masih cari ponsel aku Dek." Riza tersenyum segera menggandeng tangan wanita cantik itu.


"Dek. Duduk di depan sini kenapa sih?" Protes Riza karena sang istri memilih duduk di belakang bersama Mark. Dikira dirinya ini supir harus duduk sendiri di depan. "Nggak. Kalau nggak terima aku nggak jadi pergi." Ancam Jihan membuat Suaminya diam seketika. Pria itu hanya bisa bersabar lalu mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman.


Di kediaman Al Rasyid.

__ADS_1


Mereka makan malam sambil mengobrol kecuali Mark dan Jihan yang hanya diam. Bahkan wanita itu tak menyentuh makanannya. "Kenapa Dek? Kamu mau yang lain?" Tanya sang Ayah dan Jihan menggeleng. "Sedang tidak ingin makan." Jawabnya singkat. "Dek. Kapan kamu akan mulai pakai jilbab?" Jena berusaha mengajak bicara si bungsu. "Tidak tau. Memangnya kenapa? kalian malu?" Ucap Jihan membuat Jaafar menghembuskan napasnya dengan kasar. Sedaritadi Ia menahan diri karena jawaban adiknya itu terkesan ketus. "Bisakah kau lebih sopan. Memang. Memang kami malu mempunyai keluarga sepertimu. Kamu mau apa ha?" Ucap Jaafar pada akhirnya setelah tertahan. "Bagus. Jadi sekarang aku punya alasan untuk tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi." Ucap Jihan bergegas pergi. Mereka hanya bisa memandang punggung wanita itu yang mulai menjauh. Sementara Jaafar meruntuki kebodohannya sendiri karena tak mampu mengontrol emosi.


Mereka sudah sampai di rumah. "Dek." Panggil Riza mengejar istrinya yang sudah masuk terlebih dahulu. "Dek." Panggilnya lagi sembari mencekal tangan Sang Istri. "Apa?" Jihan berbalik dan menatap Riza. Pria itu langsung membawa istrinya dalam pelukan. "Jangan sedih." Ucapnya sambil mengelus punggung Jihan dengan lembut. "Dek. Kakak minta maaf." kata Jaafar yang sudah berdiri di belakang adik iparnya. "Aku mau istirahat." Jihan mendorong tubuh suaminya dan meninggalkan mereka.


"Sabar kak. Nanti biar aku yang bicara." Ucap Riza menenangkan iparnya. "Aku menyakiti hatinya lagi." Jaafar menunduk merasa bersalah. "Aku takut dia benar benar tidak mau lagi bertemu dengan kami." Kata Jaafar sembari menghela napasnya. Ia sebenarnya tak bermaksud berbicara seperti itu. Namun mulut dan emosinya tidak terkontrol membuatnya bicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

__ADS_1


Riza baru keluar dari kamar mandi langsung ikut tidur bersama istrinya. Wanita itu sudah pulas dengan ponsel yang masih berada di tangan. Perlahan pria itu mengambil ponsel Jihan dengan hati hati dan menaruhnya di atas nakas. Ia mengecup seluruh wajah istrinya dengan lembut dan tidur sambil memeluk Sang Istri dengan hangat.


__ADS_2