Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Santai Saja


__ADS_3

Empat orang sedang duduk manis memperhatikan wanita yang sedang memasak sesuatu. "Masih lama ya kak?" Tanya Mark sudah memegang garpu nya. "Nggak sabaran benget. Jaffan sama Jalwa aja anteng begitu nunggunya. Kamu kok ribut." Ucap Jihan sambil menata hidangan di piring.


"Silahkan dimakan." Jihan menyajikan sepiring spaghetti bolognese di depan masing masing. Wanita itu makan sambil menyuapi anak anak. "Mas. Lampunya itu mati." Kata Jihan menunjuk lampu dapur. "Iya. Sudah beli tapi belum dipasang. Nanti habis ini." Jawab Riza sambil makan dengan lahap. "Katanya nggak doyan makanan orang bule. Sini buat aku aja." Ucap Mark mulai menyebalkan. "Kalau istri yang masak doyan." Jawab Riza menjauhkan posisi piringnya dari adik ipar takut takut Mark akan mencomot makanannya. "Ibu. Mau minum." Jihan mengangguk kemudian segera membantu dua bocah itu untuk minum. "Nanti malem jalan jalan yuk." Ajak Jihan. "Kemana?" Mark yang paling cepat menyahut. "Ke mana aja terserah." Riza menelan makanan di mulutnya. "Ke mall gimana? Sekalian mau beli printer. Printer di rumah lagi rusak." Sahut Riza diangguki keduanya.


Riza kembali lagi ke dapur setelah beberapa saat pergi. Pria itu menegakkan tangga tepat di bawah lampu untuk menggantinya. "Kapan kamu beli lampunya Mas?" Tanya Jihan menghampiri suaminya setelah selesai mencuci piring. "Kemarin habis dari ruko mampir sebentar Dek." Jawabnya. "Kak. Dicari pak Samsul tuh." Mark datang memanggil iparnya. "Iya. Aku ke depan dulu Dek. Jangan diapa apakan." Ucap Riza memperingati sebelum pergi. "Iya. Memangnya bohlamnya akan aku makan apa." Gerutu Jihan.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu Riza tak kunjung kembali. Pria itu masih mengobrol dengan pak Samsul. Entah apa yang di bahas tapi suara tawa keduanya sampai ke dapur. "Gini aja aku bisa." Ucap Jihan mulai menaiki tangga satu persatu. "Nah." Ucap wanita itu ketika sudah sampai di ujung. Ia mulai memutar lampu untuk melepaskan dari tempatnya. "Dek." Panggil Riza membuat wanita itu terjengkat kaget dan Bruk...... "Dek...." Riza panik karena darah mengucur dari kening istrinya. Pria itu langsung menggendong sang istri untuk dibawa ke rumah sakit.


Orang orang sedang cemas menunggu dokter yang masih belum keluar. Meta dan suami juga datang setelah mereka pergi ke rumah Jihan ternyata wanita itu sedang berada di rumah sakit. "Gimana kejadiannya tadi?" Tanyanya sambil bergumam. "Jatuh dari tangga. Tadinya aku mau ganti lampu dan suruh dia nggak usah macam macam karna aku pergi sebentar ke depan ada tamu. Eh tenyata dia sudah di atas dan jatuh seperti ini." Jawab Riza.


Papa langsung berdiri menghampiri dokter yang baru keluar. "Gimana keadaanya dok?" Tanya pria paruh baya itu khawatir. "Baik. Sebentar lagi boleh pulang kok." Jawab Dokter itu sambil tersenyum membuat mereka semua lega.

__ADS_1


Riza menggenggam tangan istrinya. "Dek. Mas minta Maaf. Karna Mas kamu jadi seperti ini. Mas sebagai suami lalai melindungi kamu. Mas minta Maaf dek." Ucapnya merasa bersalah karena secara tidak langsung dialah yang membuat istrinya jatuh. Jika bukan karena terkejut mungkin Jihan tidak akan seperti ini. "Kenapa sih. Santai saja." Jawabnya membuat mereka semua melongo. Santai dia bilang? Riza sudah berkata panjang lebar dan bukan hanya itu Jihan juga sukses membuat semuanya jantungan malah dia bilang santai. Kira kira sesantai apa hidup wanita itu? Apakah semua tidak ada yang masuk ke perasaan atau bagaimana? Jika sudah membahas tentang Jihan ini akan berbuntut panjang dan membingungkan. Yah memang ajaib dan patut untuk di maklumi. "Kita jadi ke mall kan? Ayo kalian ikut juga." Ajaknya. Semuanya tak habis pikir dengan wanita itu. Baru saja jatuh sampai kepalanya bocor masih mau ke Mall. "Kamu sudah bikin kita jantungan bilang santai saja? Sekarang mau ke Mall? Kamu baru sembuh Dek. Astaga jika bukan karna sayang sudah aku buang kamu sejak lama." Kesal meta membuat Jihan terkekeh. "Sudah ah. Jangan pada mengomel. Ngabisin tenaga. Sekarang kan aku baik baik saja." Kata wanita itu membuat semua orang menghela napas. "Marahin Kakak emang nggak ada efeknya. Malah kita yang pusing." Ucap Mark.


Riza sedang menemani istrinya beristirahat. Anak anak juga sudah tidur di kamar mereka. "Masih sakit." Tanya pria itu mengusap pipi istrinya. "Enggak." Jawab Jihan. "Gimana rasanya?" Jihan membuka matanya menatap pria itu. "Mau coba?" Tanya Jihan balik membuat suaminya menghela napas. "Mas khawatir Dek." Lirih pria itu sambil berkaca kaca. "Eh. Mas. Cengeng banget sih. Jangan gini dong. Aku yang jatuh kenapa kamu yang nangis." Jihan memeluk suaminya. Riza benar benar khawatir. Memangnya salah menghawatirkan istrinya. Dia juga tidak ingin menangis. Air matanya jatuh begitu saja tanpa diminta. "Jangan terluka lagi." Ucap Pria itu sambil mendekap tubuh istrinya dengan erat.


Dilanjut nggak nih........

__ADS_1


Atau mau di tamatkan saja. Soalnya udah tembus berapa episode. Author terlalu rajin up sih...Wkwkwk...


__ADS_2