
Riza hendak bangun untuk sholat tahajud. Pria itu merasakan jika tubuh istrinya panas. "Dek. Kamu panas." Ucapnya sambil menempel kan telapak tangan pada kening wanita itu. "Nah. Ini ruam ruam juga Dek." Ia semakin panik melihat leher istrinya yang merah merah. "Kita ke rumah sakit ya." Kata Riza. "Ummm....Nggak mau." Jawabnya dengan mata yang masih terpejam. "Mas sholat sebentar. Nanti kembali lagi." Ucapnya mengecup kening Jihan sebelum pergi.
Pagi hari semuanya sedang berkumpul di kamar Jihan. "Nggak usah panggil dokter Mas." Ucap wanita itu tiba tiba membuat Riza mengernyit. " Kata Jihan membuat suaminya mengerti heran."Badan kamu masih panas Dek." Ucap Riza khawatir. "Males Ah. Minum obat nanti juga sembuh." Kata Jihan. "Nggak. Panggil Dokter Za. Nggak usah dengerin istri kamu." Tegas Papa langsung di angguki menantunya.
Beberapa menit kemudian dokter datang berbarengan dengan Jaafar juga. Wanita itu langsung memeriksa keadaan Jihan. "Bagaimana Dok?" Kini Jaafar yang angkat bicara lebih duluan. "Hanya demam biasa. Kalau ruam pada kulit itu sepertinya hanya iritasi saja." Jawab Dokter menjelaskan. "Ini resep obatnya. Saya permisi ya. Semoga cepat sembuh." Pamitnya sambil tersenyum. "Iya dok terimakasih banyak." Jawab Mereka.
__ADS_1
"Ibu." Jalwa dan Jaffan menghampiri Ibunya. "Kalian sudah mandi?" Tanyanya. "Sudah. Ibu kok bisa sakit. Jangan sakit." Keduanya memeluk Jihan yang duduk bersandar di headboard ranjang. "Hm. Iya. Ayo siap siap. Ibu bantu." Mereka meggeleng pelan. "Ibu istirahat saja biar cepat sembuh. Kita bisa pakai baju sendiri. Nani kita kesini lagi untuk sarapan." Jaffan mengecup pipi Ibunya diikuti sang adik kemudian berlalu pergi.
"Memangnya kamu nggak ngajar Mas?" Tanya Jihan sembari di suapi oleh Riza. "Nanti berangkat agak siangan." Jawabnya. "Anak anak nanti biar berangkat sama aku kak." Ucap Mark dan Jihan hanya mengangguk.
Riza sedang bersiap. "Pakaikan dasiku Dek." Ucapnya sambil duduk di ranjang. Jihan mengangguk. Wanita itu meletakkan ponselnya kemudian mulai mengikat dasi sang suami. "Sakit ya?" Tanya Riza mengusap ruam di leher istrinya. "Tadi kamu sudah tanya berapa kali Mas?" Jawabnya. "Entah. Mas sendiri lupa." Jihan menghela napas atas jawaban pria di depannya itu. "Sudah. Sana berangkat. Nanti kesiangan." Riza mengangguk kemudian memeluk istrinya. Ia menciumi wajah Jihan tak terlewat sedikitpun. "Mas berangkat dulu Dek. Sayang. Kamu cepat sembuh ya. Atau mau dibawakan apa?" Tanyanya namun Jihan menggeleng. "Yasudah nanti kalau ada apa apa kabari. Assalamualaikum." Pria itu mengecup kening istrinya lagi. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan.
__ADS_1
Jaafar memasuki kamar adiknya. "Kakak nggak kerja?" Tanya Jihan. "Nggak. Kakak disini temani kamu. Yang lain kan sudah berangkat semua." Jawabnya sambil duduk di ranjang. "Nggak perlu. Kakak kamu mau kerja, kerja aja." Ucap Jihan. "Nggak. Lagi malas." Pemuda itu merebahkan dirinya di ranjang. "Kakak kenapa belum menikah?" Tanya Jihan. "Sebenarnya sudah. Kakak di jodohkan dengan anak teman Ayah. Lalu kami bercerai setahun kemudian karena yah....Dia kembali pada mantan pacarnya." Ucap Jaafar membuat adiknya terkejut. Menikah? Bahkan Jihan saja tidak tau. "Kasihan sekali." Gumamnya. "Tidak perlu mengasihani kakak. Justru kamu yang paling menderita. Kakak minta maaf." Ucapnya menggenggam dan menciumi tangan Jihan. "Sudah aku maafkan kan." jawabnya. "Terimakasih. Terimakasih sudah berbesar hati memaafkan kakak. Hatimu begitu mulia Dek." Jaafar meneteskan air mata haru.
"Mau kemana?" Tanya Jaafar melihat adiknya menuruni tangga. "Mau ambil minum." Jawab Jihan. "Berhenti di situ. Balik lagi ke kamar. Biar kakak yang ambilkan." Ucapnya. "Balik dek. Atau kakak gendong nih." Lanjut Jaafar karena masih melihat Jihan berdiri mematung disana. "Iya." Jawab Wanita itu kemudian segera pergi kembali ke kamar.
Jaafar kembali ke kamar sang adik memberikan minum dah buah buahan juga. Ia kemudian memijit kaki Jihan dengan pelan. "Nggak usah di pijit kak." Tolaknya. "Diam. Kamu itu kecapean makannya sakit." Ucap Jaafar sok tau. "Kaya ngerti aja." Gumamnya membiarkan pria itu melakukan sesuka hati.
__ADS_1