
Hari ini Jihan sudah berada di Jogja di rumah suaminya. Papa tidak ikut karena tidak kuat untuk perjalanan jauh. Jadi hanya Jihan suami dan ketiga anaknya saja. "Ayah. Pasang AC dong biar kita kalau kesini nggak kepanasan." Usul Juma. "Nggak. Sudah ada kipas angin di tiap ruangan. Kita kesini nya jarang. Nggak usah pasang AC segala." Jawab Pria itu sambil membawa barang barang masuk ke dalam rumah diikuti anak anaknya.
Semuanya berkumpul di ruang tengah untuk makan siang bersama. Jihan sudah membawa lauk pauk tinggal di hangatkan dan masak nasi saja. "Ibu. Minta acarnya lagi." Kata Jaffan menyodorkan piringnya. "Seneng ya kamu makan acar." Ucap wanita itu sembari mengambilkan acar untuk putranya. "Enak. Asem seger." Jawabnya sambil tersenyum. "Pasar sore itu masih ada kan Mas? Nanti belanja ya." Riza mengangguk menanggapi istrinya. "Kalian di rumah saja ya." Semuanya kompak menggeleng. "Nggak dong Yah. Kita ikut." Jawab Juma. "Iya Yah. Kita ikut." Jalwa mendukung sang adik. "Sebentar saja. Kalian ini." Keluh Riza atas tingkah anak anaknya yang tak mau jauh dari sang Ibu.
__ADS_1
Riza menghela napas melihat istri dan anak anak sudah tertidur pulas di atas karpet. Padahal Ia tinggal sebentar untuk menutup pagar depan rumah. "Aku harus dimana?" Gumam pria itu karena tak cukup tempat. Terpaksa Riza harus mengalah. Pria itu tidur di sofa yang tak jauh dari sana. Semakin dewasa mereka sama sekali tidak berubah. Tetap sama dan ingin selalu dekat dengan Ibunya.
Sore hari Jihan dan keluarga sudah sampai di pasar. "Mau dimasakin apa nih?" Tanya wanita itu saat turun dari mobil. "Ayam goreng Bu. Sama sambel enak." Kata Jaffan. "Yang lain?" Tanya Jihan meminta pendapat mereka yang belum menjawab. "Sayur asem aja Bu." Jawab Jalwa. "Kalau Juma mau ayam rica rica aja Bu." Si bungsu menyahut. "Kalau kamu Mas?" Tanya Jihan. "Urap kangkung enak." Jawabnya sambil tersenyum. "Iya Deh. Ayo cari bahannya." Ajak Jihan mulai melangkah diikuti mereka semua.
__ADS_1
Sampai di rumah Jihan langsung menuju dapur bersama putrinya sedangkan Riza dengan yang lain masih memetik mangga di depan rumah. "Ibu. Ayamnya sudah di cuci." Kata Jalwa. "Baiklah. Di marinasi dulu. Bumbunya ingat nggak?" Tanya Jihan. "Ingat Ibu. Masukin ketumbar bubuk, kunyit bubuk, garam, bawang putih bubuk sama lima sendok air di aduk terus di diamkan." Jawab Jalwa. "Wah... Pinter anak Ibu. Tapi kalau mau ayamnya lembut. Kita kukus dulu sebentar sekalian nanti biar bumbunya meresap. Setelah itu baru di goreng." Jalwa mengangguk kemudian segera melakukan instruksi dari Ibunya. "Ibu." Panggil Jalwa. "Iya." Jawab wanita itu masih fokus memotong sayuran. "Kenapa Ibu dulu mau menikah sama Ayah? Ayah kan umurnya jauh di atas Ibu. Bagaimana kisah Ibu dan Ayah? Ibu tidak pernah cerita soal itu." Tanya Jalwa. "Ibu dan Ayah dulu di jodohkan. Semua itu karena adanya surat perjanjian dari almarhum Bapaknya Ayah dengan Ayah Ibu. Awalnya Ibu menolak hingga mereka memanipulasi surat itu dan bilang jika wasiat itu dari Nenek. Akhirnya Ibu setuju dan menikah dengan Ayah. Hubungan kami sulit di awal. Namun seiring berjalannya waktu membaik dan Alhamdulillah bisa menghadapi segala ujian hingga awet sampai sekarang." Jawab Jihan sambil tertawa kecil mengingat yang sudah berlalu. "Dari belum punya anak Ayah memang bucin begitu ya Bu?" Jihan mengangguk. "Makin tua tapi makin parah. Prosesif parah. Ibu mau ke kondangan saja sampai tidak boleh. Ayah kalian memang keterlaluan." Jawabnya sambil cemberut. "Maklum lah Bu. Ibu tuh masih kelihatan sangat muda. Wajar jika Ayah was was, cemburu atau membatasi Ibu. Mana rela Ayah membiarkan orang lain menikmati wajah cantik istrinya. Ayah begitu karena sangat mencintai Ibu. Oh...Temanku saja bilang katanya Ibu itu saudara kembar aku karena wajah kita yang mirip. Kalau di pikir pikir memang benar sih Bu. Ibu, Aku, kak Jaffan, dan Juma itu seperti saudara." Kata Jalwa sambil terkekeh.
Riza membawa mangga yang sudah di petik ke dalam rumah bersama dua putranya. "Ada yang Mateng nggak?" Tanya Jihan menghampiri mereka. "Ada Bu." Jawab Jaffan. "Ibu kupasin." Ucapnya hendak kembali ke dapur. "Biar Jalwa yang ambilkan pisau dan piring. Ibu duduk saja." Kata Gadis itu bergegas ke dapur.
__ADS_1
Jihan mengupas mangga di bantu Jalwa. "Dek." Panggil Riza. "Ya." Jawab Jihan memotong mangga dan memasukkan ke dalam piring. Jihan mendongak menatap suaminya yang diam. "Mau ngomong apa sih Mas?" Tanya Wanita itu. "Cuman mau panggil aja." Jawab Riza sambil tersenyum. Jihan menggelengkan kepala atas tingkah suaminya yang tidak jelas.