
Jihan menggandeng tangan anak anaknya yang berjalan malas menuju ruang makan. Mereka akan sarapan kemudian berangkat ke pondok pesantren. "Ayo sarapan dulu. Hari ini Ibu masak enak tuh." Ucap Papa Jihan untuk menghibur cucu cucunya. "Iya kek." Jawab keduanya duduk mengapit Jihan. Riza menghela napas. Mau tidak tega sudah terlanjur. Lagian ini juga bisa menjadi pengalaman bagi keduanya.
"Kita berangkat dulu Kakek. Om." Jaffan dan Jalwa memeluk Mark dan Papa bergantian. "Iya. Belajar yang baik." Si kembar mengangguk kemudian segera masuk ke mobil. "Kita berangkat dulu Pa. Assalamualaikum." Jihan dan Riza mencium tangan pria paruh baya itu. "Waalaikumsalam. Hati hati." Ucap Mark dan Papa. Keduanya menunggu hingga mobil keluar dari halaman. "Dramatis parah. Mau mondok lima hari aja sedihnya begitu." Kata Mark menggelengkan kepala. "Saking cinta sama Ibunya. Papa paham perasaan mereka." Sahut Papa. "Astaga kakakmu ini buat rumah bikin capek." Ucap Papa menaiki tangga. "Mantan Atlet masa begitu." Mark menyindir. "Dulu. Sekarang kan tidak." Sewotnya kemudian melangkah lebih cepat meninggalkan pemuda di belakangnya.
__ADS_1
Riza benar benar berperan sebagai supir. Ia menyetir di depan sementara istri dan anak anaknya sedang hangat berpelukan di belakang. "Hidung Ibu masih merah ya. Kok nggak sembuh sembuh." Kata Jalwa menyentuh hidung mancung Ibunya. "Iya Sayang. Ibu kan sudah tidak boleh minum obat. Jadi sembuhnya sedikit lama." Jawab Jihan.
Tak terasa mereka sudah sampai. Mobil Riza berhenti di halaman sebuah pondok pesantren yang cukup besar. Jihan turun bersama anak anaknya. "Ustadz Riza." Sapa Pria paruh baya pengurus pondok menghampiri mereka. "Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam." Jawab Riza dan Sang istri. "Ini istrinya ustadz. Lama nggak ketemu." Jihan tersenyum sambil mengangguk. "Anak anak ikut mondok ya?" Tanyanya ramah. "Iya kakek." Jawab keduanya. "Mari saya antar." Riza mengangguk kemudian mengajak istrinya untuk mengikuti. "Matanya nggak bisa liat orang cantik apa. Ini istri orang. Sudah pakai masker masih di lihatin aja." Gerutu Riza menyadari Jihan menjadi pusat perhatian para santriwan dan ustadz muda.
__ADS_1
Jihan selesai mengantar Jaffan ke asrama putra sekarang giliran mengantar putri kecilnya ke asrama putri. "Ibu." Sama dengan yang dilakukan kakaknya tadi. Jalwa menatap ibunya sambil menahan air mata. "Hanya lima hari sayang." Jihan berjongkok memeluk dan mencium anaknya. Ia juga sama tak tega tapi sebisa mungkin harus tegar. "Nanti Ibu sering jenguk kan?" Tanya Jalwa. Jihan mengangguk kemudian membiarkan putrinya bergabung dengan teman teman yang lain di antar oleh ustadzah.
Jihan dan Riza sedang duduk bersama setelah sholat dhuhur di mushola. "Minum dulu." Ucap Riza membuka botol air mineral dan memberikan pada sang istri. "Pakai masker terus pengap Mas. Aku buka aja." Ucapnya. Riza membiarkan saja meski tak rela wajah istrinya terekspose. Namun daripada Jihan tidak nyaman Ia memilih untuk membiarkan.
__ADS_1
Selesai berpamitan Riza langsung mengajak istrinya untuk pulang. Pria itu tak melepaskan genggaman tangannya dari Sang istri di sepanjang perjalanan menuju parkiran. "Ustadz. Assalamualaikum." Panggil seorang santriwan menghampiri Riza. "Waalaikumsalam." Jawab Pria itu. "Ini ada titipan untuk istri ustadz." Katanya sambil meyerahkan beberapa kotak. "Dari siapa?" Tanya Jihan menerimanya. "Tidak tau Kak. Kalau gitu saya permisi Assalamualaikum." Jihan mengangguk sambil tersenyum. "Waalaikumsalam." Gumamnya. "Buka Dek." Ucap Riza. "Nanti di rumah saja." Jawab Jihan bergegas masuk ke dalam mobil. "Dasar penggemar rahasia. Siapa yang berani berani. Nggak lihat suaminya disini apa?" Gerutu Riza sambil masuk ke dalam mobil.