
"Mbak Jihan." Bibi langsung memeluk majikannya diikuti yang lain. "Loh. Kok sudah pulang. Masih ada dua hari lagi." Kata Jihan heran. "Kita nggak tega ninggalin Mbak Jihan lama lama. Urus ini itu sendiri, makannya kita cepat cepat balik." Jawabnya. "Oh iya Mbak. Keluarga titip salam dan terimakasih juga oleh oleh dari Mbak." Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. "Waalaikumsalam, sama sama." Jawab Jihan.
Semua pekerja rumah dan keluarga berkumpul. Mereka duduk bersama setelah bermaaf maafan. "Astagfirullah. Banyak banget. Apa itu?" Tanya Riza melihat supirnya menaruh beberapa kardus dan tas. "Ini oleh oleh ustadz. Untuk semuanya." Jawab mereka. "Kalian itu nggak bawa oleh oleh. Lebih kaya orang jualan." Sahut Papa hanya di tanggapi senyuman. "Makasih. Tapi ini banyak banget." Jihan mulai menjelajah membuat Riza menggelengkan kepala. Wanita itu suka sekali makan macam macam tapi tetap kurus saja. "Cobain Mbak. Namanya Madumongso. Dari tape ketan hitam. Enak banget." Kata Bibi membukakan. "Mbak Jihan nggak lagi hamil kan?" Tanya Bibi sebelum memberikannya. "Enggak tau juga. Enggak kan Mas?" Nah lo...Dia malah bertanya pada Riza. "Enggak. Kemarin baru selesai datang bulan." Jawab Riza. "Memangnya kenapa Bi?" Tanya Jihan menerima kemudian memakannya. Ya kalau hamil nggak boleh makan. Mbak Meta dulu juga bilang begitu." Jihan mengangguk sambil sibuk makan. "Enak. Kalian nggak mau?" Ia menawari anak anaknya. "Masih makan keripik tempe Bu." Jawab Jalwa. "Juma mau." Bocah tampan itu memakan bekas Ibunya. "Ayo makan Dik. Jangan diam saja." Ajak Jihan. Remaja itu tersenyum kemudian ikut duduk bergabung di bawah bersama Ibunya. "Ini cobain." Jihan mengupaskan satu makanan manis itu dan memberikannya ke Dika. "Enak Bu." Ucapnya. "Iya. Ayo makan lagi." Jawab wanita itu.
"Dek udah dong." Keluh Riza karena sedaritadi istrinya sudah makan banyak dan tak mau berhenti juga. "Satu lagi." Jawab Jihan menawar. "Daritadi Ibu bilangnya satu lagi." Jaffan menggelengkan kepala melihat tingkah Ibunya. "Udah." Tegas Riza mengembalikan lagi apa yang sudah di ambil istrinya kemudian menarik tangan wanita itu untuk duduk diam. Bukannya apa apa. Riza cuman takut sang istri sakit perut gegara kebanyakan tape.
__ADS_1
Jihan baru saja selesai mandi langsung menghampiri suaminya yang duduk di sofa. "Juma masih tidur?" Tanyanya. "Iya. Belum bangun daritadi." Jawabnya menarik tangan sang istri untuk duduk di pangkuannya. Riza mencium bibir mungil lembab milik Jihan kemudian menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher wanita itu. Menghirup aroma wangi yang sangat menenangkan.
"Dek. Hari ini Mas baru gajian sama dapat uang dari hasil sewa tanah. Jaffan dan Jalwa kan tidak ada biaya pendidikan karena mereka dapat beasiswa. Kalau Julian sama Jason kan sudah kamu jatah. Dika juga tidak bayar. Aku hanya punya tanggungan pendidikan Juma saja. Kamu beli saja apa yang kamu inginkan pakai uang ini." Tanya Riza masih dalam posisi memeluk istrinya sambil menunjukkan amplop uang kiriman dari desa. "Nggak usah. Nggak perlu Mas. Mas simpan saja." Jawab Jihan. Riza menghela napas. Uangnya sekarang masih sisa karena Jason dan Julian sudah tidak di tanggung dirinya sesuai permintaan sang istri. Ia baru membiayai mereka satu semester dan Riza ingat waktu itu uangnya ludes tak tersisa sedikitpun dan bahkan itu juga masih kurang. Untuk kebutuhan rumah dan bensin saja yang tanggung istrinya. Belum lagi semua pajak serta lain lain juga full Jihan yang biayai. Kartu yang diberikannya pada sang istri pun jarang digunakan. "Semuanya apa apa dari kamu Dek. Mas..." Belum sempat melanjutkan Jihan mengecup bibir suaminya agar berhenti mengungkit lagi. "Ayo, aku minta sesuatu." Ucap Jihan membuat Riza tersenyum. Ia senang sang Istri meminta padanya.
"Sebenarnya kamu minta apa sih Dek?" Tanya Riza heran karena sedaritadi menyetir melewati Mall Jihan belum juga menyuruhnya berhenti. "Dekat taman itu berhenti. Aku mau mie Ayam." Jawabnya membuat Riza membulatkan mata. "Hanya mie ayam? Bukan baju, tas, sepatu atau apa begitu?" Jihan hanya menggeleng pelan menanggapi suaminya.
__ADS_1
"Kamu belinya disini?" Tanya Riza saat sudah berada di pasar. "Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Jihan. "Nggak di Mall?" Bukan menjawab Pria itu malah mengajukan pertanyaan lagi. "Bukan. Disini. Aku mau beli daster." Jawab Jihan membuat Riza tersenyum. Banyak orang yang tidak terlalu mampu memaksakan diri untuk hidup mewah sementara Jihan yang bisa beli apapun malah memilih membeli pakaian di pasar.
Riza tersenyum melihat Jihan memakai daster yang baru dibelinya siang tadi. "Nggak di cuci dulu?" Tanya Riza memeluk istrinya menghirup aroma daster itu ternyata sudah wangi pelembut sang istri. "Sudah baru sampai tadi." Jawabnya. "Sisa uangnya kamu pegang. Masih delapan juta tujuh ratus." Ucap Riza memberikan amplopnya. "Kamu simpan saja mas." Jawab Jihan. "Nggak Dek. Itu buat kamu." Jihan mengangguk. Ia menerima karena takut Riza berpikir Ia tak menghargai.
"Ibu Kakak nakal." Juma langsung memeluk Ibunya sambil merengek saat wanita itu datang. "Adiknya diapakan lagi?" Tanya Jihan. "Nggak diapa apakan kok Bu." Jawab Jaffan mewakili semuanya. "Kalian ini." Ia menggandeng tangan putra bungsunya untuk ikut duduk bergabung. "Ibu cantik." Kata Juma mengusap pipi mulus Ibunya lalu mengecup dengan lembut.
__ADS_1
Jihan baru kembali bersama putra bungsunya. "Ayo dipilih jangan yang coklat." Kata Juma membawa wadah berisi beberapa cup eskrim. "Katanya boleh pilih, kok jangan yang coklat." Jalwa yang pertama merespon adiknya. "Yang coklat tinggal satu itu punya Juma." Jawabnya. "Kakak strawbery saja." Jalwa mengambil satu. "Kak Julian mau yang caramel. Dua lagi buat kak Jason sama Kak Jaffan yang Vanila." Julian mengambil tiga. "Tinggal sisa satu. Buat kak Dika." Juma tumben berbicara agak panjang sambil memberikan eskrim pada Dika. "Terimakasih." Kata Dika sambil tersenyum seperti biasa.