Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Yaampun Jihan


__ADS_3

Jihan dan suami kini sedang berada di rumah Meta. Wanita itu baru saja pulang setelah melakukan operasi Caesar. "Astaga banyak banget. Mau bikin toko." Ucap Meta melihat Riza dan Mark meletakkan banyak barang barang kebutuhan bayi. "Enggak." Jawab Jihan langsung menghampiri mertua Meta yang sedang menggendong cucunya. "Hati hati Dek." Tegur Riza melihat istrinya berjalan cepat. "Dek Jihan." Wanita paruh baya itu tersenyum. "Hati hati kalau jalan. Sedang hamil lo." Lanjutnya memperingati. "Pinjam Buk." Ucapnya membuat Meta membelalakkan mata. "Memangnya anakku itu barang kamu pinjam." Ucapnya namun Jihan tak peduli. Ia mulai menggendong bayi laki laki itu dengan hati hati. "Sedang hamil. Sambil duduk saja." Ucap Mertua Meta. "Nggak Buk. Enak sambil berdiri." Jawab Jihan sambil menimang. "Oh. Mirip Ayahnya. Dari lahir sampai sekarang mirip Om Rudi." Kata Jihan sambil tertawa kecil.


Riza panik melihat hidung istrinya memerah. Jihan bersin bersin. Wanita itu memilih menjauh daripada membuat anak Meta terbangun. "Alerginya kambuh itu." Kata Meta menyusul adiknya diikuti Riza dan yang lain. "Alergi apa?" Tanya Ibu Rudi kebingungan. "Alergi debu Tante." Jawab Mark.

__ADS_1


"Pulang ya. Mas nggak bawa Obat." Ucap Riza merasa bersalah karena kelupaan. Jihan mengangguk pasrah karena hidungnya sudah gatal gatal. "Kita pulang dulu ya. Maaf." Ucap Jihan menutup hidungnya dengan tissue. "Nggak papa. Di rumah langsung minum obat dan istirahat." Pesan Meta dan mertuanya sambil memeluk Jihan. Wanita itu mengangguk kemudian segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan.


"Alergi debu?" Gumam Ibu Rudi bertanya tanya. "Iya nek. Bukan cuman debu. Beberapa makanan dan detergen juga." Ucap Gita. "Obat juga." Lita menambahi. "Yaampun Jihan. Ada ada aja. Kecelakaan, Alergi." Wanita itu menggelengkan kepala memikirkan semua yang dialami Jihan. "Kalau di rumah sendiri Jihan begitu juga?" Tanya Ibunya Amir. "Ya enggak dong Bu. Rumahnya bersih licin jauh dari jalan raya. Ibu kalau ke sana kaya di istana." Jawab Pria itu sambil terkekeh.

__ADS_1


Sampai di rumah Jihan langsung mandi kemudian istirahat setelah minum obat. "Istirahat di kamar saja Dek." Ucapnya namun wanita itu menggeleng. "Mau." Jihan segera duduk ketika melihat Mark membawa eskrim untuk di makan dengan kedua ponakannya. "Hidung kakak meler begitu mau makan eskrim. Nggak boleh." Jihan cemberut. Apalagi melihat eskrim vanilla yang di bawa Mark begitu menggoda. "Lagian kamu makan dibawa kesini." Kesal Papa. "Minta dong...." Riza menghela napas melihat istrinya mulai merengek. "Nggak makan teratur makan eskrim mulu. Kamu tadi nggak makan siang Dek. Makan siang dulu." Ucapnya. "Habis itu baru boleh makan eskrim." Lanjut Riza dan Jihan mengangguk setuju. "Sebentar Mas ambilkan." Pria itu bergegas pergi untuk mengambil makan siang sang istrinya.


Riza kembali lagi menghampiri istrinya. Pria itu duduk di samping Jihan sembari menyangga piring. "Banyak banget." ucap Jihan terkejut. "Tadi pagi kamu nggak sarapan Dek." Kata Riza. "Eh. Aku sarapan Mas. Makan roti tadi pagi. Jangan ngada ngada kamu." Kesalnya. "Iya. Tapi kan cuma roti saja. Itu kurang." Riza pandai menjawab. Belajar darimana ustadz itu. "Nggak jadi makan kalau gitu. Nggak mau aku." Jihan menolak ketika suaminya hendak menyuapi. Gampang berubah kan. Tadi mau sekarang sudah lain lagi. "Ayo dong Dek." Bujuknya namun Jihan tetap menggeleng.

__ADS_1


"Mau eskrim ngga Bu?" Jaffan mendekati Ibunya sambil membawa cup eskrim. "Mau." Bocah tampan itu tersenyum kemudian menyuapi Ibunya. "Makasih Sayang." Ucapnya Sambil memeluk Jaffan. "Ayo makan. Keburu nasinya nangis." Perkataan Riza mengundang gelak tawa semua orang. "Aku bukan bocah Mas." Kesalnya kemudian melahap nasi yang sudah di depan mulut.


"Assalamualaikum." Ucap Seorang memasuki ruangan. "Waalaikumsalam." Jawab Mereka. "Hay adikku sayang. Sedang makan ya?" Tanya Jaafar memeluk dan mencium Jihan. "Jangan di ganggu Kak. Baru mau makan ini lo." Kata Riza menegur Iparnya. "Ini untuk Om, Mark, Ipar, Adek dan dua lagi untuk keponakan paman." Ucapnya sembari membagikan oleh oleh. "Terimakasih Paman." Jaafar mengangguk kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa. "Kerjaan kamu di sana sudah beres?" Tanya Papa. "Sudah Om. Alhamdulillah." Jawabnya sambil tersenyum. "Alergi kamu kambuh ya dek?" Tanya Jaafar melihat hidung adiknya memerah. Jihan mengangguk karena masih mengunyah. "Kasihan. Kok bisa sih." Ia mengusap wajah Jihan dengan lembut membuat Riza menghela napas. "Tambah satu lagi datang." Gumamnya dalam hati. "Udah kenyang Mas." Jihan menolak suapan suaminya. "Baru tiga suap. Lagi ya." Wanita itu menggeleng dan Riza hanya bisa menurut saja. "Mana? Tadi katanya mau kasih eskrim kalau aku makan. Ustadz jangan pura pura lupa." Jihan mengingatkan. "Kalau masalah itu inget Mulu." Riza berdiri kemudian segera pergi mengambilkan eskrim sang istri setelah mengecup kening wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2