Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Perjuangan Yang Tak Disangka


__ADS_3

Jihan sedang di tangani dokter. Wanita itu mengalami masalah di paru parunya hingga kesulitan bernapas. "Maaf Pa." Kata Riza. Papa hanya diam tak menyahuti menantunya. Jika kesabarannya sudah habis ingin sekali dia memukuli suami dari putrinya itu. "Diam Za. Jangan ngomong sama Papa dulu." Jawabnya kemudian duduk menghampiri kedua cucunya yang sedang bersama Mark.


Sekitar seperempat Jam menunggu, dokter akhirnya keluar. "Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Riza. "Saya kan sudah berpesan jika jangan sampai kondisinya drop. Untung saja cepat di bawa ke rumah sakit. Mbak Jihan baik baik saja. Jangan di jenguk dulu. Biarkan istirahat." Jelas dokter sedikit kecewa karena Jihan seperti ini dalam keadaan hamil pula. Jihan merupakan pasien tetap nya. Jadi hubungan dokter dengan wanita itu bisa di bilang dekat.

__ADS_1


"Om. Ibu nggak papa kan?" Tanya Jaffan yang sedang duduk dalam pangkuan Mark. "Nggak papa Sayang. Nanti kita jenguk. Sekarang biarkan Ibu istirahat dulu. Kita beli eskrim sambil nunggu yuk." Ajak pemuda itu kepada dua ponakannya.


Riza ikut duduk bergabung dengan Papa mertuanya setelah Mark dan anak anak pergi. "Pa." Panggil Riza pelan. "Jihan bulan tipe orang seperti itu Za. Papa mengenalnya sedari dia bayi. Papa tau baik buruknya dia. Dia putri Papa. Jika sudah melabuhkan hatinya pada satu orang maka dia akan menetap, setia dan bertahan. Sekali di sakiti dia akan melepaskan. Begitulah Jihan memakai hatinya. Setia dan keras dalam satu waktu. Tapi untuk bermain di belakangmu. Tidak mungkin. Memang dia ketus dan datar. Tapi begitulah caranya mencintai seseorang. Ia tak pandai bersikap manis. Namun hatinya tulus." Tutur pria paruh baya itu apa adanya. "Maaf Pa. Riza emosi." Lirihnya. "Semua orang pernah membuat kesalahan. Jujur saja. Papa ingin sekali memukulimu karena telah membuat putriku seperti itu. Tapi aku mengurungkannya. Kamu tau apa yang Papa pikirkan?" Riza meggeleng menanggapi mertuanya. "Papa berpikir jika menyakitimu sama saja Papa menyakiti putri Papa sendiri karena dia mencintaimu maka dia akan merasakan apa yang kamu rasakan." Ucap Papa begitu mengenai hati Riza. Pria itu meneteskan air matanya mendengar cerita bagaimana perjuangan Jihan untuk terus bertahan menjaga hati Riza di antara semua laki laki yang masih mengejarnya hingga saat ini. Sampai sampai wanita itu tak memiliki aku media sosial apapun karna takut nantinya Riza akan salah paham jika sesuatu terjadi. Jihan juga pernah mengutarakan pada Sang Papa agar Ia memakai cadar saja agar tidak mengundang fitnah. Sebegitu besarnya niat Jihan untuk terus menjaga rumah tangganya namun Riza tak tau.

__ADS_1


Jihan menggerakkan jarinya diikuti dengan mata yang mengerjap hingga terbuka sempurna. "Sayang. Kamu bangun." Ucap Papa. Wanita itu tampak tersenyum. Tangannya terulur mengelus pipi kedua putra putrinya bergantian. "Ibu." Lirih keduanya. "Ada yang sakit?" Tanya Jaafar. "Tidak." Jawab Jihan pelan. "Dek." Panggil Riza. Ia tak tau harus berkata apa. Semua masalah berakar dari dirinya.


Pukul 9 malam Jihan sudah di bawa pulang karena wanita itu yang meminta. Dia bilang jika kondisinya sudah baik baik saja. "Kakak menginap?" Tanya Jihan pada Jaafar yang sedang menuntunnya menuju kamar. "Iya. Sepi tidur di apartemen sendiri." Jawabnya sambil tertawa kecil. Mereka membiarkan Jihan untuk istirahat agar keadaanya cepat pulih. Semuanya keluar setelah berpamitan. Begitu pula dengan si kembar. Keduanya kembali ke kamar begitu selesai mendaratkan ciuman di pipi dan kening Ibunya.

__ADS_1


"Dek." Panggil Riza. Memiringkan tubuhnya menghadap sang istri yang tidur terlentang. "Mas minta maaf." Ucapnya pelan. "Bukan sekali dua kali Mas. Ini sudah berkali kali." Jawabnya tanpa menoleh pada suami. "Mas mohon maafkan Mas." Kata Riza dengan tenggorokan yang tercekat. "Mas. Apa pernah dulu ketika kamu ada kasus dengan rekan dosen mu itu aku emosi atau marah atau menuduh kamu selingkuh? Padahal jika orang lain yang melihat pasti mereka mengira kalian ada hubungan apa apa. Tapi aku tidak kan? Aku coba sabar mas meski hatiku sakit. Waktu kejadian itu apa pernah aku menyalahkan kamu meskipun aku disini pihak yang di rugikan? Gara gara orang yang mencintai kamu aku harus menanggung sakit seumur hidup. Apa aku pernah berkata ini semua gara gara selingkuhan kamu begitu? Tidak kan? Semuanya aku lakukan agar kita dan rumah tangga kita baik baik saja. Tapi nyatanya kamu tetap meragukan." Ucap Jihan. "Dek.." Panggil Riza. Lidahnya keluh tak tau harus berucap apa. "Jangan bicara dengan aku dulu. Aku tidak mau ada kata yang tidak di harapkan keluar dari mulut dan akan menyakiti hati mu." Jihan berbalik memunggungi suaminya setelah mengucapkan kata yang begitu membuat hati Riza serasa di hujam ribuan belati.


__ADS_2