Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Menyembunyikan Kenyataan


__ADS_3

Hari ini hari wisuda untuk Mark. Pemuda itu sudah menyelesaikan studi S2 nya. Jihan dan keluarga kecilnya bersama Papa juga turut hadir. "Selamat Sayang." Wanita itu memeluk Adiknya dengan bangga. "Terimakasih untuk semuanya Kak. Terimakasih untuk semuanya juga yang selalu dukung aku." Ucapnya begitu terharu. "Sudah. Kita rayakan di rumah saja." Ajak Jihan buru buru.


Siang hari semua turut di undang untuk merayakan kelulusan Mark. Cafe dan ruko sengaja di liburkan agar mereka bisa berkumpul bersama. Tetangga sudah di bagikan makanan dan bingkisan untuk acara syukuran tinggal mereka kini yang berkumpul di rumah. "Bukan gitu." Nah baru saja tenang damai dan hanyut dalam suana bahagia dan haru suara ngeyel Jihan sudah terdengar. Wanita itu sedaritadi berdebat dengan suaminya hanya perkara hal sepele yaitu rujak. "Kemarin kemarin kamu sudah makan rujak Dek." Ucapnya sambil duduk di samping sang istri yang bergabung dengan yang lain. "Kan kemarin, hari ini belum." Jihan kan pintar. Jadi selalu bisa menjawab. "Nanti perut kamu sakit lo." Meta ikut membantu Riza. "Aku nggak mudah sakit perut. Mas Riza tuh. Eh enggak deh..Kemari dia bohongi aku kayaknya." Ucap sang istri membuat Riza membelalakkan mata. "Bukan bohong Dek. Memang sakit. Tapi sampai rumah sudah sembuh." Jawabnya.

__ADS_1


Riza menyuapi istrinya. Wanita itu sangat sulit makan jika tidak di paksa. "Kamu kan harus minum Obatnya Dek. Harus makan dulu." Ucapnya. "Aku sudah sehat Mas. Mau sampai kapan harus minum obat terus?" Ucap wanita itu membuat semuanya terdiam. Memang Jihan belum tau kondisinya. Mereka akan menyampaikan di waktu yang tepat dan pelan agar tidak membuat wanita itu tertekan di keadaan seperti ini. "Pokoknya setiap hari harus minum obat sayang. Menurutlah." Ucap Papa mengelus lembut kepala putrinya. Meta berpamitan pergi. Wanita itu tak kuasa menahan air matanya. Tidak mungkin kan Ia menangis di depan semua orang.


"Kenapa Ma?" Tanya Amir menghampiri istrinya. "Aku nggak tega Mas. Mau sampai kapan kita sembunyikan kondisi Jihan." Ucapnya sambil sesenggukan." Amir menghela napas. " Cepat atau lambat Jihan akan tau. Tunggu waktu yang tepat." Jawabnya menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Kalian tidur juga sama Jalwa sini." Ajak Jihan dengan suara pelan agar putrinya tidak terbangun. "Nggak ngantuk kak." Jawab Gita dan Lita. "Yasudah. Kalian mau disini atau ikut kakak keluar?" Tanya Jihan. "Ayo keluar." Jawab mereka menggandeng kedua tangan Jihan.


"Sudah tidur?" Tanya Papa melihat putrinya kembali. "Sudah. Jaffan dimana Pa?" Wanita itu duduk di samping Papanya. "Disini Ibu." Bocah tampan itu berlari lalu duduk di pangkuan Ibunya. "Jaffan sama Adek masuk pondok pesantren mau?" Tanya Riza tiba tiba membuat Jihan menatap suaminya itu sambil menyipitkan mata. "Enggak mau Ayah." Jawabnya dengan cepat. "Kenapa kamu tiba tiba tanya begitu?" Ucap Jihan. "Ya pengen anak anak dapat Ilmu agama yang cukup Dek." Jawab Riza sambil menunduk. "Anaknya nggak mau. Jangan di paksa." Tegasnya. "Ustadz dulu mondok juga kan ya? Kalau mbak Jihan?" Tanya Mereka. "Nggak lah. Modelan kaya aku mondok. Sehari udah minta pulang." Jawabnya sambil terkekeh. "Ibu mau eskrim." Jaffan mengalungkan tangan di leher Ibunya. "Nah. Om Mark. Ambilkan dong. Empat. Jaffan tidak sampai nih." Ucap Jihan membuat semuanya tertawa. Mark yang baru saja akan ikut duduk bergabung kembali lagi ke dapur untuk mengambilkan eskrim.

__ADS_1


"Ini. Empat. Jalwa kan tidur. Satu lagi untuk siapa?" Tanya Mark. "Satu untuk Jaffan, dua untuk Gita dan Lita." Ucap Jihan membuka bungkus dan membagikan pada ketiganya. "Satu lagi untuk kakak. Suapi Pa." Manjanya pada pria paruh baya itu. "Biar meta saja Om. Om lanjut ngobrol saja." Ucapnya merebut eskrim itu dari tangan Jihan dan mulai menyuapi. "Sudah punya dua anak kelakuan masih kaya bocah. Susah banget di bilangin." Ucap Meta. "Masih muda aku tuh." Jawab Jihan. "Tanya aja sama suami. Ya kan Mas?" Riza hanya bisa mengangguk. Memang kenyataannya Jihan masih muda. "Jaffan kalau Ibu punya anak lagi mau?" Tanya Meta tiba tiba. "Tidak." Jawab Jaffan dan Ayahnya kompak. "Kenapa Ustadz?" Tanya Mereka setelah puas tertawa. "Dua saja cukup. Kita patuh aturan pemerintah." Jawab Riza beralasan.


__ADS_2