Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Ustadz Galak


__ADS_3

Jihan sedang menyuapi anak anaknya makan sembari mengobrol bersama sang Papa. "Ibu. Bikin yang bulat itu lo. Enak." Kata Jalwa setelah menelan nasi di mulutnya. "Bulat apa sih sayang? Yang jelas dong." Jawab Jihan membuat Papanya tersenyum. "Yang bulat hijau itu lo Ibu. Teman Jalwa tadi bawa ke sekolah. Jalwa di kasih. Rasanya enak." Wanita itu semakin bingung di buat anaknya. "Papa ngerti nggak Pa?" Tanyanya namun hanya di jawab gelengan. "Kamu kan tau sendiri Papa juga pendatang." Ia terkekeh melihat putrinya kebingungan. "Nanti kita tanya Ayah saja kalau sudah pulang." Putusnya.


Riza baru pulang sekitar jam 2 siang. "Assalamualaikum." Ucapnya memasuki rumah. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan menghampiri suaminya kemudian mencium tangan pria itu. "Mark belum pulang Mas?" Tanyanya. "Belum. Masih mengajar dia." Jawab Riza mengajak istrinya duduk kemudian menciumi wajah wanita itu. "Anak anak tidur?" Tanyanya sambil merebahkan kepala di pangkuan sang istri. "Iya. Baru tidur. Tadi ribut perkara makanan." Jawab Jihan sambil memijit lengan suaminya. "Kenapa ribut soal makanan?" Tanya Riza sambil tertawa kecil. "Itu lo Mas. Katanya Jalwa itu pengen makanan kaya punya temannya. Makannya suruh aku bikin. Kata dia warnanya ijo bulat. Dia bilangnya begitu. Kan aku nggak ngerti. Aku suruh tanya ke kamu deh kalau pulang. Memangnya itu makanan apa sih?" Riza menggeleng. Pria itu membalikkan badan dan menenggelamkan kepalanya di perut rata sang istri. "Nggak tau juga. Nanti kita tanya." Jawabnya.

__ADS_1


Riza menghela napas. Ternyata anak perempuannya itu ingin kelpon setelah di tanya ciri-ciri detail dari makanan yang dimaksud. "Ini resepnya Dek." Kata Riza memberikan ponselnya pada sang istri. "Pakai ubi, daun pandan, gula merah, parutan kelapa sama tepung ketan. Kalau gula sama....eh. Ini belinya harus di pasar. Mas. Ada ya pasar jam segini buka?" Tanya Jihan. "Ada. Memangnya nggak bisa besok saja ya?" Wanita itu menggeleng menanggapi suaminya. "Orang bocahnya dari pulang tadi sudah merengek. Ayo berangkat sekarang." Ajaknya sambil melangkah pergi.


Mereka sudah sampai di pasar. "Pakai ini Dek." Ucap Riza memasangkan masker pada istrinya. "Buat apa sih. Nggak enak tau." Protes Jihan. "Disana banyak laki laki. Mas nggak mau wajah kamu di lihat orang lain." Kata Riza. "Ih..Kan sudah tau punya anak punya suami. Siapa yang mau godain." Kesal Jihan hendak melepas maskernya namun langsung di cegah pria itu. "Kalau tidak menurut tidak jadi turun. Kita pulang lagi." Tegasnya. "Ustad galak." Kesal Jihan hanya bisa menurut dengan terpaksa.

__ADS_1


Setelah makan malam semuanya berkumpul di ruang keluarga. Anak anak dan yang lain begitu asyik makan kelpon buatan Jihan yang di adopsi dari resep di internet. "Enak. Sering sering bikin kak." Ucap Mark dengan mulut penuh. "Iya Dek. Sering bikin." Ucap Jaafar menyetujui. Ia datang sore tadi dan hari ini akan menginap. "Asalkan ada bahan saja aku bikinkan." Jawab Jihan. "Biar aku aja Dek. Nanti tangan kamu kena getah. Kamu kan ngga pernah makan beginian." Kata Riza mengambilkan daging nangka untuk istrinya kemudian menyuapkan pada wanita itu. "Enak. Namanya apa tadi?" Tanya Jihan sambil mengunyah. "Nangka." Jawab Riza sembari tersenyum melihat ekspresi istrinya.


Jihan menghampiri suaminya yang masih sibuk mencuci tangan di dapur karena terkena getah. "Belum ilang juga?"Riza menggeleng kemudian memberi minyak goreng pada tangannya. "Sini aku bantu." Ia merah tangan pria itu dan mulai menggosoknya. "Eh...Perlahan hilang." Jihan takjub membuat Riza mengecup bibir mungil itu yang sedang melongo itu beberapa kali. "Suka ya cari kesempatan." Ucap Jihan menatap suaminya. "Katanya orang harus memanfaatkan peluang sebaik mungkin dek." Jawab Pria itu sambil terkekeh. "Kamu gemukan ya Mas?" Tanya Jihan tiba tiba. "Iya nih. Kamu masakin enak terus. Mana bisa nolak. Aku ngga pernah olah raga juga." Jawabnya jujur. "Ya olahraga sana. Di rumah satunya kan ada tempat gym." Jihan memberi saran. "Mana sempat Dek." Riza beralasan membuat istrinya menghela napas. "Sempat kalau kamu mau. Daripada menempel terus sama aku mending olahraga." Riza tersenyum. "Malam malam itu juga olahraga lo Dek. Sekalian ibadah malahan. Nanti malam lagi ya." Ucap Riza membuat Jihan membelalak kan mata. Tiap hari Pria itu selalu menggarapnya tanpa jeda dan sekarang..... Memang benar istri adalah ladang bagi suaminya. Namun si ustadz keterlaluan ini tidak memberinya hari libur. "Dasar mesum. Nggak nyambung." Ucap Jihan buru buru mencuci tangannya kemudian meninggalkan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2