Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tidak Diinginkan


__ADS_3

Jihan duduk bersama putranya menunggu Jalwa yang masih bersiap. Ia akan mengantar putri satu satunya itu untuk ke dokter kulit. "Dek. Aku ke ruko dulu. Ada kiriman barang." Riza menghampiri sang istri. "Iya. Hati hati." Jawab Jihan mencium tangan suaminya diikuti anak anak. "Mau dibawakan apa?" Pria itu menawari membuat Jihan tersenyum penuh makna. "Nanti aku chat kamu." Jawabnya sambil tersenyum. "Yasudah Mas berangkat dulu. Assalamualaikum." Ia memberikan kecupan di kening sang istri dengan lembut. "Waalaikumsalam. Hati hati." Jawab mereka.


"Lama banget dandannya. Ibu nunggu lama." Kata Jaffan melihat kedatangan adiknya. "Maaf Bu." Ucap Jalwa. "Nggak Papa. Ayo berangkat." Jalwa mengangguk segera menggandeng tangan Ibunya. "Juma nggak diajak? Nanti nangis lo." Tanya Jason. "Lagi tidur dia. Kita cuman sebentar." Jawabnya kemudian segera berpamitan.


Lima belas menit perjalanan Jihan dan putrinya sudah sampai di dokter kulit langganan. "Ibu waktu remaja dulu juga sering perawatan?" Tanya Jalwa. "Nggak. Akhir akhir ini aja. Semenjak kerjaan Ibu banyak. Kalau capek terus perawatan bikin rileks." Gadis itu mengangguk. Tidak perawatan pun Ibunya tetap cantik dan terlihat sangat muda. Bahkan dia saja kalah cantiknya.

__ADS_1


"Selamat siang Bu Jihan." Sapa dokter Dinda yang menjadi langganan Jihan. "Jangan basa basi." Jawab wanita itu segera duduk di ikuti putrinya. "Selalu begitu." Dinda berdecak. "Ada masalah di kulit kamu? Sensitif atau apalagi?" Lanjutnya bertanya karena jika datang Jihan selalu mengeluhkan kulitnya bermasalah karena produk tertentu. "Bukan aku. Anak aku. Nggak tau kenapa. Katanya ganti sabun muka jadi merah iritasi begitu." Jelasnya. Dokter Dinda mengangguk kemudian segera melakukan pemeriksaan.


"Ini sih kulit sensitif kaya Ibumu. Jangan pakai sabun yang ada belerangnya. Juga pilih facial foam yang lembut dan nggak bikin kulit kering. Kalau mau scrub juga pilih yang lembut." Jelas Dokter Dinda. "Iya dok." Jawab Jalwa. "Disini ada nggak? Coba dulu satu paket." Tanya Jihan. "Ada. Ini yang untuk kulit sensitif. Mau yang milk, cucumber, edelwise, rose, atau green tea? Pilih yang kamu sukai." Ia menunjukkan katalog produk skincare nya. "Mau yang mana?" Tanya Jihan pada anaknya. "Yang ini Bu." Tunjuk Jalwa. Dinda mengangguk kemudian segera mengambilkan.


"Kita ke Mall dulu ya." Ajak Jihan. "Mau beli apa Bu?" Tanya Jalwa. "Mau jalan jalan aja. Nanti kalau ada sesuatu yang bikin tertarik baru beli." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Jalwa ikut ibu aja." Jawabnya. Kesibukan kuliah membuat Ia jarang ada waktu keluar berdua dengan Ibunya. Jika keluar pun pasti dengan para saudaranya yang banyak itu. Apalagi kalau ada Juma. Tidak ada yang bisa menyentuh sang Ibu.

__ADS_1


"Assalamualaikum." Jihan memasuki ruang keluarga karena mendengar suara tangisan dari sana. "Waalaikumsalam." Jawab semua orang. "Kenapa nangis?" Tanya wanita itu. "Cari kamu Dek. Apalagi." Jawab Riza. "Ibu darimana? Kebiasaan kalau Juma tidur pergi pergi." Ucap Bocah itu yang kini sudah memeluk erat pinggang sang Ibu. "Antar kak Jalwa. Ayo duduk. Jangan nangis. Udah besar masa nangis." Jihan menggendong dan mendudukkan anaknya di sofa.


Jaffan menghela napas melihat adiknya masih rewel minta selalu di perhatikan Ibunya. "Juma. Jangan egois. Anak Ibu bukan cuman kamu. Jangan merengek terus minta di perhatikan. Memangnya kamu saja yang mau di manja Ibu. Kita semua juga mau tapi kamu selalu menghalangi. Kesel kakak sama kamu. Bukan cuman kakak. Semuanya bosen sama kelakuan kamu. Aturan dulu nggak usah punya adik saja." Ucap Jaffan berapi api membuat adiknya seketika terdiam. "Jaffan." Tegur Riza dan Jihan. "Kakak jahat." Juma berlari pergi. "Jaffan. Tidak seharusnya kamu bicara begitu." Tegur Riza. "Maaf Yah. Jaffan nggak tahan." Jawabnya pelan.


"Sayang. Buka pintunya. Ibu mau bicara." Jihan mengetuk pintu kamar anaknya. "Ibu boleh masuk?" Tanya wanita itu saat pintu terbuka. "Boleh." Jawab Juma sambil sesenggukan.

__ADS_1


Jihan memangku putranya. Mereka sedang duduk di balkon menikmati angin segar yang berhembus di siang hari. "Ibu nggak sayang Juma?" Tanyanya setelah tenang. "Sayang. Sayang banget. Ibu dan semuanya sayang Juma. Juma kan anak yang paling kecil." Jawab Jihan sambil mengusap kepala putranya dengan lembut. "Kenapa kakak bicara begitu? Kakak nggak mau punya adik Juma?" Jihan bingung harus menjawab apa. Jika boleh jujur suami dan anak anaknya dulu memang tidak menginginkan kehadiran Juma. "Bukan begitu sayang. Kakak hanya cemburu karena Juma dapat perhatian lebih dari Ibu." Jawab Jihan pada akhirnya. "Nggak papa kalau memang semuanya nggak mau Juma ada. Yang penting Ibu selalu sayang sama Juma. Cinta Ibu lebih besar dari mereka semua." Ucapnya memeluk Jihan dengan erat membuat wanita itu meneteskan air mata.


__ADS_2