Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bibir Ibu


__ADS_3

"Sakit Mas." Keluh Jihan sedaritadi memegangi perutnya. Wanita itu sudah muntah muntah sejak pagi tadi. Mengeluh pusing dan nyeri di perut. "Padahal sudah minum obat tapi belum reda." Kata Jalwa yang sedang duduk menemani Ibunya bersama saudaranya yang lain. "Ayah telpon dokter Dewi." Putus Riza karena sedaritadi di cegah oleh Jihan saat hendak menelpon dokter langganan pribadi istrinya itu. "Jangan Mas." Kata Jihan sambil menahan rasa sakitnya namun Riza tak peduli dan tetap menelpon juga. "Biar Ibu cepat sembuh." Juma memeluk Ibunya.


Dokter Dewi yang baru datang langsung berdecak. Ia tau apa yang dialami Jihan. "Sudah di bilang kan Ji. Semalam kita kan sudah peringatkan jangan makan ramen." Ucapnya sambil memeriksa membuat semua orang membulatkan mata. "Ya semalam waktu Jihan makan malam sama aku sama Mia juga dia maunya makan ramen. Padahal kami sudah larang loh. Tapi dia nggak mau dengar sih." Lanjutnya lagi menjelaskan. "Mama begitu." Julian gemas sendiri dengan Ibunya yang susah dibilangin. "Oh. Begitu ceritanya." Riza mengangguk paham. "Iya ustadz. Seperti biasa jika sudah seperti ini tidak boleh makan kasar, minum obat dan istirahat banyak banyak biar cepat sembuh." Ucap Dokter Dewi kemudian segera berpamitan.

__ADS_1


"Begitu kan. Makannya kalau keluar sendiri yang Mas khawatirkan ya ini." Riza mengomeli Istrinya. "Dengar tidak?" Tanya Papa yang kini juga ikut ikutan. "Dengar Pa." Jawab Jihan dengan wajah pucatnya. "Makan dulu Bu. Setelah Itu minum obat." Kata Dika yang datang sembari membawa nampan. "Makasih Dik." Riza segera meraih mangkuk bubur untuk menyuapi istrinya. "Ih Mas. Bubur hambar. Nggak mau ah. Itu airnya juga pasti air hangat." Keluh Jihan mengomentari menunya. "Ibu jangan protes. Biar Ibu cepat sembuh. Ayo di makan." Kata Jaffan. "Ibu. Ibu kalau nggak makan nanti nggak bisa minum obat. Ibu harus makan dulu." Juma ikut membujuk. "Makan Dek. Setelah itu baru minum obat." Riza sedikit memaksa mulai menyuapi istrinya.


Jihan segera beristirahat setelah meminum obatnya. "Kamu nggak ikut keluar?" Tanya Riza melihat Juma ikut berbaring memeluk Ibunya. "Nggak. Juma mau temani Ibu." Jawab bocah tampan itu. "Jangan banyak tingkah. Ibu lagi tidur." Ia memberikan peringatan sebelum pergi. Juma mengangguk pelan lalu memejamkan mata ikut Ibunya tidur.

__ADS_1


Riza menghampiri istrinya di dapur. "Mau buat apa Dek?" Tanya Pria itu sambil memeluk dari belakang. "Mau makan roti." Jawab Jihan mengeluarkan roti tawar dan selai coklat dari kulkas. "Mas bikinkan." Ucap Riza menyuruh istrinya untuk duduk menunggu. "Mau pakai keju?" Tawarnya di jawab anggukan. "Tambah susu dinginnya Mas. Rasa coklat." Jihan meminta. "Baru enakan perutnya minum es. Susu hangat saja ya." Riza menawar. "Dingin Mas. Siang siang begini enaknya susu dingin." Jawabnya masih enggan mengubah kemauan.


Jihan makan roti buatan suaminya. "Dek. Warisan Papa yang di kasih ke kamu itu ada di inggris?" Tanya Riza. "Iya sebagian, sebagian kan ada di sini." Jawab Jihan. "Kalau di inggris di nganggur dong hartanya, kan nggak ada yang tepati disana." Jihan menggeleng menanggapi suaminya. "Disewakan. Disana sewa properti menguntungkan. Begitu juga dengan lahan usaha." Riza tiba tiba mengecup bibir istrinya. "Ada coklat." Ucap Pria itu sambil tersenyum. "Kan bisa pakai tangan." Kata Jihan sambil mencubit pelan lengan suaminya. "Maunya pakai bibir." Riza selalu bisa menjawab membuat Jihan berdecak.

__ADS_1


"Pelan pelan jalannya." Tegur Riza melihat Istri dan putra bungsunya berjalan cepat. Ia menuruti keinginan Jihan untuk membeli kelapa muda di sekitar jalan menuju rumah. "Mas. Beli duren yuk." Ajak Jihan. "Baru sembuh sudah minta duren. Nggak ada. Mas nggak mau." Jawabnya cepat. "Ibu nggak boleh makan duren." Juma tumben mendukung Ayahnya. "Tuh dengar. Anaknya saja paham. Masa kamu lebih susah dibilangin dari Juma." Ucap Riza membuat istrinya cemberut. "Jangan begitu. Mas cium mau?" Jihan menggeleng. Suaminya itu diam diam berbahaya. Tidak hanya berkata saja, namun juga merealisasikan dalam bentuk tindakan. Seperti sekarang bibir Riza sudah menempel di bibir istrinya. "Ih. Untung Juma nggak lihat." Kesal Jihan sembari memukul pelan lengan pria usil itu. "Manis." Jawab Riza sambil tersenyum. "Apa yang manis Yah?" Tanya Juma mendongak menatap sang Ayah. "Bibir Ibu." Jihan membulatkan mata mendengat jawaban suaminya. "Memang bibir ada rasanya?" Tanya Juma meminta penjelasan. "Ada." Riza terus meladeni putranya. "Bagaimana cara merasakannya?" Tanyanya ingin tau lebih. "Sudah jangan dengarkan Ayah. Ayah lagi pusing makannya jawab Juma asal." Jihan bergegas membawa putranya berjalan lebih cepat meninggalkan sang suami.


__ADS_2