Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tidak Peka


__ADS_3

Di kediaman Al Rasyid.


"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Ayah pada putranya. "Entahlah. Riza bilang kemarin sudah langsung boleh pulang." Jawabnya. "Kita kesana ya." Ucap Bunda menggenggam tangan sang suami menandakan wanita itu sangat serius dengan apa yang diucapkan. "Jangan kesana. Karna jika kalian datang akan menambah buruk keadaan. Kalian tau sendiri kan Jika adik selalu menghindar." Ucap Jaafar berkaca pada apa yang telah terjadi sebelumnya.


Di atap yang masih sama namun beda ruangan sepasang suami istri sama sama diam hanyut dalam pikiran masing masing. "Butuh waktu Dek. Kita berdoa saja semoga kita dapat momongan dengan cepat." Amir menenangkan istrinya. "Kalau boleh Mas kasih saran perbaiki dulu hubunganmu dengan adik. Bagaimanapun juga jika semuanya baik baik saja akan menjadi mudah bagi kita. Apalagi kamu sering maaf Iri sama Adik. Minta maaflah padanya." Ucapnya menasihati sang istri. "Ketemu aku saja dia nggak mau Mas." Lirihnya sambil terisak. "Nanti kita bicarakan." Pria itu menenangkan sang istri.

__ADS_1


Jihan sedang mencari keberadaan suaminya. "Mas." Panggil wanita itu menghampiri Riza yang baru saja masuk ke rumah. "Listrik nya mati atau gimana Mas? Aku mau nyuci kok nggak nyala." Riza menggeleng. "Sebentar aku cek dulu sekring nya." Pria itu bergegas pergi sebentar ke depan lalu kembali lagi. "Nggak papa Dek. Mungkin lagi pemadaman." Jihan mengangguk kemudian segera berlalu pergi diikuti suaminya.


"Kamu mau ngapain Dek?" Tanya Riza melihat istirnya masuk ke kamar mandi sembari membawa pakaian kotor. "Mau nyuci pakai tangan. Kan lagi pemadaman. Nah air yang di bak mandi kan masih ada. Pakai itu aja." Jawabnya sambil membasahi semua baju di bak dan memberi deterjen. "Nggak usah. Tunggu listriknya nyala aja. Kamu belum sembuh lo." Kata Riza khawatir namun seperti biasa Jihan tidak peduli bergegas mencuci baju. "Aku bantu." Riza hendak ikut dengan cepat Jihan mencegah. "Nggak usah. Kamu diem aja Mas." Ucapnya. "Tapi....." Pria itu langsung diam mendapat tatapan tajam sang istri.


"Ibu." Si kembar menghampiri Ibunya yang hendak keluar ke halaman belakang. "Eh Sayang. Tunggu disini sebentar ya. Ibu mau jemur baju sebentar." Mereka menggeleng dengan kompak. "Sebentar saja nanti Ibu kembali dengan cepat." Ucapnya segera pergi setelah mengecup kening putra putrinya.

__ADS_1


Jihan mulai menjemur pakaian dibantu suaminya. Wanita itu tampak menyipitkan mata karena silau di bawah terik sinar matahari yang begitu menyengat siang ini. "Masuk saja Dek. Biar Mas yang jemur." Riza kasihan melihat pipi istrinya yang mulai memerah. "Tanggung. Tinggal dikit lagi." Jawabnya.


Selesai dari dalam Riza langsung menghampiri istrinya yang sedang bercengkrama dengan anak anak dan Mark di teras belakang rumah. Pria itu duduk di samping Jihan langsung mengoleskan krim untuk meredakan merah merah di pipi istrinya dengan lembut. Krim itu untuk mendinginkan kulit Jihan yang entah kenapa sekarang begitu sensitif terlebih dengan sinar matahari. Padahal dulu kan sering surfing, dan diving di pantai. Jihan kan anak pantai banget waktu masih gadis. "Nggak bisa ke pantai dong kak. Kulit kakak begini sekarang. Lalu gimana kata dokter kemarin?" Tanya Mark. "Kata dokter nggak masalah. Suruh pakai sun screen aja sama kalau memang terlanjur kepanasan di kasih krim seperti ini." Jawab Jihan membuat adiknya mengangguk. "Maklum cuaca panas banget akhir akhir ini. Anak anak aja ngga bisa tidur kalau ngga pakai AC." Katanya sambil mengipasi anak anak dengan kipas tangan. "Mau kemana Mas?" Tanya Jihan melihat suaminya berdiri. "Mau balikin ini ke dalam Dek. Nanti balik lagi kok. Jangan kangen." Jawab Pria itu membuat Jihan dan Mark menghela napas. "Bukan. Kalau balik sekalian bawain eskrim yang cup paling besar." Ucap Jihan dan Riza mengangguk kemudian segera pergi setelah mengecup kening sang istri.


Jihan makan eskrim bersama adiknya. Jaffan dan Jalwa sudah tertidur pulas di karpet dengan angin sepoi sepoi yang bertiup menjadikan suasana sejuk apalagi kini rerumputan sedang di sirami oleh Riza. "Mau Dek." Riza ikut duduk bergabung setelah selesai dengan kegiatannya. Pria itu mencium gemas pipi Jihan. "Nah." Ia memberikan sendok. "Kakak nggak peka banget. Kak Riza Minta di suapi." Ucap Mark membuat Jihan mengangguk kemudian menyuapi suaminya. "Masa apa apa harus ngomong dulu Dek." Ucap Riza sambil cemberut. "Kalau mau jelas ya begitu." Jawab Jihan meneruskan makannya. Riza tersenyum mengingat segala hal tentang sang istri. Terlebih wanita itu sangat baik, loyal dan sederhana. Dalam bergaul Jihan tak membedakan orang. Dengan karyawan saja sangat dekat seperti keluarga sendiri. Mencuci dan membersikan rumah dilakukan sendiri. Seperti hari ini Jihan mencuci dengan tangan. Tak seperti kebanyakan wanita yang takut tangannya kasar memilih untuk me laundry pakaiannya. Dengan segala harta yang melipah Ia tak mau berpangku tangan dan bermanja seperti seorang ratu yang apa apa harus dilayani. Jihan begitu mandiri. "Senyum senyum. Kesambet ntar siapa yang nyembuhin." Ucap Jihan mencolek hidung suaminya dengan eskrim membuat pria itu terkejut.

__ADS_1


__ADS_2