
Bukan hanya bonus Visual.
Tak kasih lagi bonus bab......
Wehh.....Selamat membaca. Bersuka cita atau tidak intinya. Happy Reading soalnya dah mau ending wkwk....
__ADS_1
Riza sedang berada di sebuah cafe. Pria itu duduk tengah menunggu seseorang. "Assalamualaikum." Sosok pemuda datang dan duduk bergabung. "Waalaikumsalam." Jawab Riza sambil tersenyum. "Apa kabar Kak?" Tanyanya. "Alhamdulillah baik." Jawab Jaafar pada iparnya. Seperti biasa mereka berdua bertemu di kala waktu luang untuk sekedar mengobrol. Riza paham bagaimana perasaan Jaafar yang kini sudah sadar. Istrinya itu tak mau bertemu dengan keluarga. Jadi untuk mengetahui kabar sang adik Jaafar selalu bertanya pada Riza.
Beberapa saat hening setelah mengobrol ringan keduanya sama sama diam. "Bantu aku untuk memperbaiki hubungan kami. Maksudku hanya aku. Aku tidak peduli dengan yang lainnya. Tapi aku ingin memperbaiki hubunganku dengan adik." Ucap Jaafar membuat Riza kesulitan. Bukannya tidak mau membantu. Ia sudah mencoba berkali kali namun tetap sama. Mulai dari bicara baik baik hingga mempertemukan mereka namun hasilnya sia sia. "Kau tau sendiri kak. Aku sudah berusaha. Tapi akan aku coba lagi." Ucapnya memberikan harapan meskipun Ia tak janji akan berhasil namun setidaknya sudah berusaha untuk membantu. "Terimakasih." Jawab Jaafar tersenyum senang.
Di sisi lain sepasang suami istri sedang bersitegang di sebuah kamar. "Kita sampai sekarang belum punya anak Mas. Sudah kita lakukan segala upaya tapi hasilnya nihil. Jangan jangan Mas masalahnya? Mas periksa ke dokter lagi barangkali pemeriksaan yang dulu salah." Ucap Jena begitu menusuk di hati suaminya. Bagaimana tidak, wanita itu selalu menuduhnya tidak subur padahal Amir sudah periksa ke dokter dan hasilnya baik baik saja. Sedangkan Jena sendiri tak mau periksa dengan berbagai alasan. "Dek. Mas baik baik saja. Mas kan sudah pernah periksa dan kata dokter tidak ada yang masalah. Biar adil kamu periksa juga." Ucapnya dengan hati hati. "Jadi Mas menuduh aku yang nggak subur? begitu?" Tanyanya malah membalikkan keadaan disini menjadi Amir yang salah. "Cukup Dek. Mas lelah setiap hari harus seperti ini. Pulang kerja lelah kamu selalu buat mas terbebani dengan segala tuduhan kamu. Mas masih bisa terima kalau kita belum di beri momongan mungkin karna belum waktunya. Tapi kamu sudah fitnah dek. Padahal bukti nyata Mas baik baik saja tapi kamu tetap tidak percaya. Mas pergi dulu Assalamualaikum." Ucap Amir bergegas pergi meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Meta kembali dan duduk di samping Jihan setelah menaruh dan membuka semua makanan di atas meja. "Tadi bilangnya tiga macem. Ini kok ada lagi bungkusan daun kecil kecil ini apa?" Tanya Jihan. "Itu tape ketan hitam. Enak. Cobain deh." Jihan tersenyum kemudian segera berdiri. "Mau kemana Dek?" Tanya Riza melihat istrinya mulai melangkah. "Ambil sendok." Ucapnya segera bergegas pergi.
Mereka mengernyitkan kening melihat Jihan membawa nasi. "Mau dimakan nasinya?" Tanya Meta. "Iya lah. Pakai ini." Jihan mulai membuka bungkusan tape ketan membuat mereka gemas dibuatnya. "Ini bukan untuk makan pakai nasi. Tape itu di makan begini saja bukan untuk lauk." Jelasnya sambil menghela napas. "Mana aku tau. Kalau gethuk pernah makan. Nah yang ini belum." Jawabnya. "Lama lama kamu yang aku makan." Ucap Meta menarik gemas pipi Jihan. "Tempe bisa buat lauk kan ya?" Tanya Wanita itu di jawab anggukan oleh semuanya. "Makan nasi pakai tempe dulu. Habis itu tape sama gethuk nya." ucap wanita itu mulai makan dengan lahap.
"Kalian nggak mau nih." Ucap Jihan mengambil tape setelah menghabiskan nasinya. "Kamu aja." Jawab mereka. "Wow...Enak. Beli darimana?" Mulutnya bertanya sambil tak berhenti mengunyah membuat Riza ingin sekali mencium habis bibir mungil istrinya namun sayang tertahan karena ada orang. "Mertua aku yang bikin." Jawab Meta. "Om. Kalau aku mau belajar bikin tape sama Ibu Om boleh lah...." Tanya Riza langsung di jawab anggukan oleh Amir. Sama halnya seperti sang istri. Pria itu menyayangi Jihan seperti adiknya sendiri. "Boleh dong." Jawab Amir.
__ADS_1
Mark baru saja bangun tidur langsung menempel pada kakaknya. "Mau." Ucapnya. "Mau apa? Mau di tabok. Bangun tidur bukannya mandi. Nggak malu apa." Kata Jihan memarahi adiknya membuat mereka menahan tawa. "Nanti. Mau itu lo. Yang di makan kakak." Jawabnya sambil membuka mulut. Jihan menyuapi adiknya. "Rambut kamu di potong Boy. Sudah panjang." Jihan menyugar rambut kecoklatan adiknya ke belakang. "Besok atau nanti malam anterin ya. Kakak pilihin model yang cocok buat aku." Jihan mengangguk. "Makasih kakak ku sayang." Ucap Mark mencium pipi Jihan lalu memeluknya. "Lepas ih. Dasar. Pipi kakak basah kena liur kamu." Kesal Jihan sambil mencoba melepaskan diri dari adiknya namun sia sia.