Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bikin Darah Tinggi


__ADS_3

Jihan duduk di depan suaminya. "Di minum susunya." Ucap Wanita berdaster itu menyajikan susu hangat untuk Riza. Semakin bertambahnya usia Ia semakin memperhatikan kondisi suaminya. Rutin melakukan cek up ke dokter dan minum susu dan vitamin untuk tulang. "Makasih Dek." Ucap Riza segera minum setelah mengucapkan basmallah. "Nanti kamu ada jadwal ke dokter. Kalau Papa kemarin." Kata Jihan langsung di jawab anggukan. "Kita tunggu Juma tidur aja ya. Sesekali pergi berdua. Kalau anak itu ikut pusing aku Dek." Keluh Riza membuat Jihan tertawa. "Bikin pusing juga itu dari benih kamu." Jawab wanita itu. "Iya. Tapi sikapnya bikin elus dada. Oh iya...Tumben nggak berisik. Dimana anak itu?" Riza penasaran sedari sarapan tadi tidak melihat putra bungsunya. "Aku suruh beresin bola tenis di lapangan belakang. Masa bola sudah rapi di keranjang di sebar gitu aja." Jawabnya sambil menggelengkan kepala.


Jihan menghampiri putranya yang masih sibuk merapikan bola diawasi keempat kakaknya. "Belum selesai?" Tanya wanita itu. "Capek Bu." Keluhnya langsung berlari memeluk Jihan. "Manja. Mulai lagi. Ayo terusin." Tegas Jaffan. "Ibu nggak kasihan sama Juma?" Tanyanya memelas. "Kasihan. Makannya Ibu bawain minum. Minum dulu. Habis itu lanjutkan." Jawabnya lembut sembari mengusap keringat di kening bocah tampan itu. "Ibu kok gitu." Keluhnya. "Gitu gimana. Yang salah kamu, jadi harus bertanggung jawab." Tegas Jihan.


Siang hari Jihan sudah sampai di rumah sakit bersama suaminya. Mereka akhirnya bisa pergi berdua setelah memastikan Juma benar benar sudah tidur siang. "Waktu belum punya anak bisa begini terus." Kata Riza menggenggam tangan Istrinya sambil berjalan. "Nanti malam ada pengajian di panti asuhan. Kamu jadi temani kan Dek?" Lanjutnya bertanya. "Jadi. Sama anak anak juga perginya." Jawab Jihan.

__ADS_1


Riza sudah melakukan segala macam pemeriksaan. "Semuanya normal. Hanya tekanan daranya sedikit tinggi." Jelas dokter sembari memberikan hasilnya. "Iya dok. Pasti gara gara Juma." Lirih Riza di akhir. "Juma lagi? Belum pensiun nakalnya? Kalau ustadz aja kesal apalagi Jihan." Dokter Dewi tertawa kecil. "Dia kan nurut cuman sama Ibunya saja. Kalo sama saya atau yang lain astagfirullah." Riza gemas mengingat semua tingkah absurb si bungsu. "Gimana Ji? Masih mau tambah anak lagi?" Tanya Dokter berkacamata tebal itu. "Aku mau. Yang buat sama anak anak nolak aku bisa apa." Jawab Jihan berdecak.


"Ibu kemana aja sih." Juma bersedekap dada melihat kedua orang tuanya baru pulang. "Masih ileran begitu sudah ngomel ngomel. Cuci muka dulu." Ia mengacak acak rambut putranya. "Anterin Ayah dari rumah sakit buat cek kesehatan." Riza berkata setelah menarik dan menghembuskan napasnya.


Selesai dengan semua kegiatan mereka duduk berkumpul di atas tikar. "Ini saudaranya mbak Jihan ya?" Tanya pengurus panti baru pertama kali melihat dua remaja tampan yang duduk di samping Jihan. "Anak saya Bu. Jason dan Julian." Jawab wanita itu memperkenalkan keduanya. "Oh. Kalau kesini nggak pernah ada. Saya taunya cuman Jaffan, Jalwa dan Juma." Kata Ibu itu. "Juma bisa diam tidak." Bisik Jihan kesal sedaritadi putra bungsunya itu duduk tidak tenang. "Kenapa Ibu malah pangku Adam sama Musa sih." Keluhnya. "Cemburu kamu?" Bisik Mark. "Tau ah." Jawab Juma kesal. "Sudah diam. Kakak pulangin kalau rewel." Ancam Jaffan.

__ADS_1


"Silahkan." Beberapa orang menyajikan teh dan kue. "Makasih Mbak." Ucap Jihan tersenyum ramah. "Sama sama." Jawab mereka. "Mbak Jihan untuk masalah pembangunan pantinya sudah selesai 70 persen. Saya mengucapkan terimakasih sebanyak banyaknya sudah memberikan donasi yang luar biasa di panti asuhan kami." Ucap pengurus panti. "Sama sama Bu. Saya senang bisa meringankan." Jawabnya.


Jihan dan keluarga berjalan menuju mobil bersama setelah berpamitan pulang. "Hati hati." Ucapnya memberikan Musa yang sedaritadi tidur di gendongannya pada Mark. "Maaf ngrepotin kakak." Kata Zulfa tidak enak. "Nggak ngrepotin kok." Jawab wanita itu tersenyum. "Kakak pulang dulu. Juma sudah badmood tuh." Jihan berpamitan. "Iya. Hati hati kak." Mark dan istrinya mencium tangan wanita itu. "Iya. kalian juga. Assalamualaikum." Jihan dan keluarga masuk ke mobil. "Waalaikumsalam." Jawab Mark dan Zulfa.


"Masih ngambek?" Tanya Jihan pada putra bungsunya yang diam tidak seperti biasa. "Juma nggak ngambek Ibu. Juma cuman sedikit kesel." Jawabnya. "Sama aja." Sahut Jason. "Ibu. Minta boba dong." Kata bocah tampan itu. "Minta sama Ayah. Ayah yang bawa mobil." Jawab Jihan. "Yah. Beli boba dulu." Riza mengehela napas. "Iya." Jawabnya mengalah padahal ingin cepat cepat pulang agar bisa tidur sambil peluk istri tapi lagi lagi karena Juma jadi tertunda.

__ADS_1


__ADS_2