Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tumben Bijak


__ADS_3

Pagi hari setelah selesai sarapan Jihan mengajak anak anak, suami dan adiknya untuk menanam sayuran di belakang rumah. Kemarin Ia memesan beberapa bibit dan kompos untuk menanam. Wanita itu sibuk menata pot pot panjang yang bersusun karena lahan yang tidak terlalu besar Jihan mengakalinya dengan sistem bertingkat yang menempel pada tembok pagar. Setelah selesai Ia memasukkan media tanam dan menaburkan benih. "Kamu tanam apa aja dek?" Tanya Riza yang membantu istrinya. "Banyak, sawi, kubis, cabai, tomat dan banyak lagi." Jawab Jihan.


Mark menghampiri sepasang suami istri itu setelah pergi ke depan sebentar untuk melihat tamu yang datang. "Kak Riza. Dicari pak Ahmad tuh." Riza mengangguk dan segera ke depan setelah berpamitan pada istrinya. "Biar aku aja kak." Mark mengambil selang dari tangan kakaknya untuk menyiram. "Kapan nih tumbuhnya?" Jihan mengangkat kedua bahu. "Nggak tau. Tunggu aja." Jawabnya.

__ADS_1


Riza mendengar gelak tawa yang cukup kencang terlebih lagi kedua anaknya. "Astaghfirullah. Emaknya juga ikut ikutan." Ucap Pria itu melihat istri, anak anak dan iparnya sedang asyik bermain air padahal mereka kan baru mandi. "Dek. Sudah mandi kok basah basahan begitu." Tegurnya sambil berjalan mendekat. "Gerah. Nanti mandi lagi." Ucapnya sambil tersenyum. "Sudah. Nanti masuk angin." Riza agak menjauh karena takut basah. "Iya. Sebentar lagi." Jawab wanita itu yang masih asyik bercengkrama dengan buah hatinya.


Jihan baru selesai mandi membawa anak anaknya ke dapur menghampiri Riza yang sedang sibuk dengan Mark. "Lagi bikin apa?" Tanya Wanita itu. "Bikin peyeum bakar sama goreng. Kemarin kan Mas sudah janji mau bikinkan." Jawab Riza sambil tersenyum. Jihan mengangguk lalu membuka kulkas mengambil buah untuk anak anak. "Ini apa Mas?" Tanyanya melihat botol bening berisi cairan kuning. "Oh iya. Itu kunyit asam dari istrinya pak Ahmad. Suruh kasihkan ke kamu tadi. Mas sampai lupa." Riza menghampiri istrinya setelah menyajikan peyeum goreng dan bakar di atas piring. "Aku minum ya." Riza mengangguk menanggapi sang istri. "Byur...." Jihan dengan sepontan menyemburkannya. "Kenapa Dek?" Ucap Pria itu kebingungan. "Kakak kenapa sih?" Tanya Mark menghampiri keduanya. "Minuman apa ini. Nggak enak banget." Ucap Jihan buru buru mengembalikan minumannya ke dalam kulkas. "Enak kok Dek. Itu jamu paling enak malahan." Jawab Riza sambil tersenyum melihat ekspresi sang istri. "Tau ah. Pokoknya nggak enak."

__ADS_1


Selesai sholat duhur keluarga kecil itu berkumpul di teras belakang. Jihan menatap makanan buatan suaminya kemudian menatap pria itu bergantian. "Kenapa Dek? enak kok." Ucap Riza mulai memotong untuk disiapkan pada istrinya. "Buka mulutnya." Pria itu tersenyum pada sang istri. "Gimana? Enak kan?" Tanyanya. Jihan mengangguk. "Lumayan." Jawabnya sambil mengunyah. "Ibu mau anggur." Kata Jalwa meminta Jihan membukakan anggur yang masih dalam kemasan. "Oh. Iya sayang." Wanita itu dengan segera mengambilkan dan mengeluarkan bijinya baru diberikan pada anak anak. "Nanti malem ke Mall yuk Kak." Ajak Mark dan Jihan hanya mengangguk setuju sekalian mengajak anak anak untuk jalan jalan.


"Buru buru ya ustadz." Tanya Pak Samsul ketika Riza langsung berpamitan selesai sholat isya. "Iya Pak. Tadi sudah janji mau antar istri keluar. Saya pulang dulu ya bapak bapak. Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka kompak.

__ADS_1


Pukul 8 malam mereka sudah sampai di mall. Jihan mengajak mereka menuju ke tempat pakaian untuk membeli kaos dan kemeja untuk Mark. Remaja itu meminta kakaknya untuk memilihkan karena yang paling tau seleranya adalah sang kakak. "Beli untuk kamu juga Mas." Kata Jihan mengambilkan juga untuk sang suami. "Baju Mas masih banyak dek." Jawab Riza. "Nggak papa. Tiap kerja kamu kan pakai kemeja. Baju kamu kebanyakan baju Koko sih." Ucapnya membuat pria itu pasrah. "Kenapa nggak pakai uang Mas?" Tanya pria itu karena Jihan mengeluarkan black card nya. "Kakak. Ini kartu aku." Mark ikut menimbrung. "Pakai uang kakak saja. Itu buat uang jajan kamu. Kalau ini aku pengen belikan kamu Mas. Jangan nolak." Jihan langsung membayarnya.


Riza merasa tidak enak sampai kebutuhannya saja Jihan yang membelikan. Bukannya apa apa seharusnya sebagai suami dialah yang memanjakan istri. Namun istrinya itu berlebih lebih secara finansial jadi Riza lah yang selalu di belanjakan. "Kenapa melamun?" Tanya Jihan ketika mereka sedang makan bersama di restoran grill. "Mas nggak enak sama kamu Dek. Masa apa apa harus kamu yang bayar. Sebagai kepala keluarga kan harusnya Mas." Jawabnya sambil menundukkan kepala. Jihan menggenggam tangan suaminya membuat pria itu mengangkat kepala menatap wajah cantik sang istri. "Nggak masalah Mas. Aku yang terbebani kalau kamu begitu. Suami istri itu harus saling menutupi satu sama lain. Kalau aku bisa kasih aku kasih ke kamu dan kamu juga begitu selalu kasih nafkah ke aku dan keluarga kita...Ouh...Bijak sekali aku hari ini." Ucap Jihan membuat Riza yang tadinya terharu malah kini menjadi tersenyum karena tingkah istrinya. Baru saja berpikir tumben istrinya dewasa tidak jadi deh karna tingkah konyol Jihan tiba tiba kembali. "Mas Sayang dan Cinta sama kamu." Ucapnya membuat Mark melongo. "Nggak nyambung. Yang dibahas apa jawabnya cinta. Dasar ustadz bucin." Ucapnya menyindir. "Dek. Mas ngga bisa pakai sumpit. Suapi dong." Riza tersenyum menatap istrinya. "Suruh suapi Mark saja." Jawab Jihan sambil terkekeh membuat suaminya cemberut.

__ADS_1


__ADS_2