Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Di Rumah Saja


__ADS_3

Jihan beberapa hari ini tidak kemana mana karena alerginya belum sembuh. Dokter menyarankan wanita itu berhenti minum obat karena sedang mengandung. Ia hanya menjalani terapi uap untuk mengatasi hidungnya yang mampet parah. "Susah di bilangin kamu Dek. Selalu nggak nurut. Sudah Mas bilang lagi sakit jangan minum air es masih ngeyel juga." Ucap Riza mengomeli istrinya. "Iya iya. Maaf." Jawab Jihan membuat suaminya menghela napas. "Jangan ngeyel lagi. Mas ngomel juga buat kebaikan kamu." Riza mengecup kening dan memeluk istrinya.


Keluarga Rudi baru tiba di rumah Jihan. "Wah...Benar benar kaya istana." Ucap Ibunya memandang takjub kediaman mewah yang berada di depannya. "Ayo masuk Buk." Ajak Meta sembari menggendong bayi mungilnya. "Iya." Wanita paruh baya itu mengangguk kemudian mengikuti mereka yang sudah duluan.

__ADS_1


"Kenapa ini?" Tanya Ibu Rudi heran karena orang orang menggunakan hand sanitizer sebelum masuk ke dalam rumah. "Kak Jihan sensitif Nek. Makannya sebelum masuk harus begini." Ucap Lita menjelaskan jika harus bersih dulu sebelum masuk ke dalam.


"Assalamualaikum." Mereka langsung menuju ke ruang keluarga diantarkan beberapa asisten rumah tangga. "Waalaikumsalam." Ucap Jihan mendudukkan diri. "Loh. Kesini." Jihan begitu antusias dengan anak Meta. "Duduk saja. Kita yang kesitu." Ucapnya. "Ini makanan acara akikah tadi." Ucap Rudi meletakkan di atas meja. "Makasih. Kenapa repot repot antar segala. Maaf nggak bisa datang." Ucap Jihan tidak enak. "Nggak papa. Kamu kan lagi sakit dek." Kata Meta. "Loh sudah disini saja." Mark datang diikuti Papa. "Kalian mampir dimana? Acara akikah kan sudah selesai daritadi." Tanya Jihan. "Masih mampir ke kebun papa dulu." Jawabnya ikut duduk bergabung. "Sini biar aku yang gendong." Jihan memakai maskernya kemudian mengambil Baby Aska dari sang Ibu.

__ADS_1


"Silahkan." Ucap beberapa asisten rumah tangga menyajikan minum, buah buahan dan kue. "Terimakasih Bi." Ucap Jihan dan yang lain. "Dek Jihan. Rumah sebesar ini apa nggak nyasar?" Tanya Ibu Rudi. "Nyasar Buk. Kadang Riza mau ke kamar sendiri lupa." Jawab Pria itu membuat semuanya tertawa. "Lita sama Gita kapan libur?" Tanya Jihan. "Habis ulangan. Seminggu lagi kak." Jawab keduanya. "Mau ikut mondok nggak? Jaffan sama Jalwa mau mondok tuh di suruh bapaknya." Jihan berdiri menimang bayi yang sedang tiduran pulas itu. "Nggak mau kak. Enak di rumah." Jawab keduanya kompak. "Ajaib banget mau pisah sama kamu Ji." Meta heran karena si kembar begitu menempel dengan Ibunya. "Hanya lima hari. Tau tuh di imingi imingi apa sama Mas Riza." Kata Jihan. "Emang ustadz iming imingi apa?" Tanya Rudi. "Hadiah. Belum tau juga si apa. Tapi aku pengen anak anak belajar."


"Yang itu mahal nggak Om?" Tanya Meta menunjuk akuarium besar penuh ikan. "Nah. Sama saja." Jawab Papa. "Biar mahal. Yang penting nggak pelihara singa atau serigala." Ucap Riza mengundang gelak tawa. "Pelihara mahal mahal kalau mati kan rugi." Ucap Meta. "Tau sendiri adik kamu bingung gimana cara habiskan uangnya." Sahut Rudi. Meta mengangguk. Bahkan Jihan sering membelikannya barang barang mewah. Saat lahiran wanita itu membelikannya mobil meskipun bersikeras menolak tapi Jihan memaksa. Akhirnya Meta setuju asalkan mobil yang di belikan dengan harga yang biasa. Benar benar...berlebihan. Ya...mungkin Jihan kasihan karena kemana mana harus memesan taxi dulu. Sebenarnya sudah dari dulu saat menikah Jihan memaksa untuk memberi namun Meta baru setuju sekarang.

__ADS_1


"Nah..Sudah mandi." Ucap Mark melihat kedua keponakannya datang. "Daritadi tidurnya anteng banget." Kata Jihan ikut duduk bergabung. "Ibu. Kita nggak jadi ikut mondok." Kata Jalwa tiba tiba. "Kenapa? Kok nggak jadi. Memangnya kalian nggak mau hadiah dari Ayah." Riza merespon cepat. "Memangnya hadiah Ayah apa?" Tanya Jaffan balik. "Kalian mau apa? Kulkas? TV? Dispenser?" Jawabnya membuat orang orang mengernyitkan kening. "Memangnya arisan kamu kasih hadiah begitu." Jihan kesal dengan suaminya yang asal bicara.


"Nggak mau Yah." Riza menghela napas. "Hanya lima hari nggak lebih. Nanti Ayah sering sering jenguk kalian. Katanya mau jadi anak Sholeh, Sholeha yang penurut." Tuturnya. "Kalau nggak mau nggak usah di paksa kenapa sih Mas." Jihan tidak mau anaknya tertekan atau melakukan sesuatu dengan terpaksa. "Kita kan sudah bilang kangennya sama Ibu nggak sama Ayah. Seharusnya yang jenguk Ibu." Ucap Jalwa. "Iya nanti Ayah sama Ibu jenguk." Putus Riza membuat dua bocah itu mengangguk. "Awas saja kalau sampai anak anak aku kenapa napa." Bisik Jihan memperingati suaminya. Wanita itu tau jika si kembar tidak terbiasa di lingkungan baru.

__ADS_1


__ADS_2