Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Tidak Ingat


__ADS_3

Jihan sudah bersiap dengan pakaian casualnya. "Kalian beneran nanti langsung ikut Kakek nggak mau ikut Ibu ke apartemen?" Tanya Jihan heran karena baru kali ini anak anak tidak ikut. Biasanya mereka selalu ikut kemanapun Jihan pergi. "Iya Ibu. Kita nanti di jemput kakek. Langsung ke kebun Kakek." Jawabnya sambil mengangguk mantap. Jihan juga menatap suaminya yang sedang sibuk dengan ponsel. Ketika akan berangkat pria itu biasanya akan mengomel panjang lebar di dukung dengan iparnya namun entah kesambet atau apa kali ini mereka diam.


Jihan kini sudah berada di sebuah ruangan bersama seorang wanita. "Ini semua sertifikat tanah yang di urus kemarin. Semuanya sudah beres Mbak." Ucap Bu Maya. "Terimakasih Bu." Wanita itu sangat senang semua urusannya beres. "Mbak Jihan kenapa beli tanah banyak banyak? Buat usaha ya?" Tanyanya. "Enggak sih Bu. Buat Investasi saja. Buat masa depan anak anak." Jawab Jihan membuat wanita itu mengangguk.

__ADS_1


Siang hari Jihan sudah sampai di apartemen miliknya. Wanita itu masuk ke dalam kemudian mendudukkan diri dengan nyaman di sofa. Semuanya begitu bersih dan tertata karena setiap hari ada yang merawat. Jihan tersenyum mengingat tempat ini yang menjadi saksi bisu ketika Ia masih tinggal sendiri dan menjadi seorang gadis. Hidup yang begitu bebas. Ia bisa berlaku sesuka hati karena masih belum punya tanggung jawab. Sekarang kan Jihan sudah punya suami dan menjadi seorang Ibu. Pastinya Ia akan bertanggung jawab untuk keluarga kecil nya. Alhamdulillah, Sangat bersyukur karena diberikan kehidupan yang harmonis dan bahagia meskipun tidak datang dari keluarga kandungnya. Wanita itu berdiri dari duduk kemudian keluar ke balkon menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Suasana jalanan begitu sibuk karena ini jam pulang sekolah dan jam makan siang kantor menandakan jika Ia harus pulang juga.


Jihan sampai di rumah. "Kok di kunci." Gumamnya sambil mengeluarkan kunci cadangan di bawah pot bunga. "Belum pulang apa ya? Biasanya sudah pulang jam segini. Itu mobilnya Mas Riza sudah ada di depan. Kalian di rumah kan? Lampunya kenapa nggak di nyalakan sih. Kalo nggak minimal pintu dan jendela di buka dong biar terang. Itu ventilasi kenapa di tutup juga. Kan jadi gelap." Jihan terus mengomel sembari berjalan mencari saklar lampu. "Selamat ulang tahun." Ucap orang orang diiringi dengan lampu yang menyala. "Eh.... Tunggu dulu. Siapa yang ulang tahun?" Tanya Jihan heran. "Kamu jangan ngerjain kita balik Dek." Ucap Riza mendekat dan mencium kening istrinya diikuti anak anak. "Enggak. Aku nggak ngerjain kalian. Aku nggak ulang tahun Mas." Jawabnya membuat semua orang yang di sana menghela napas. "Terbentur dimana kepala kamu?" Kesal Meta. "Eh. Ini tanggal berapa sih?" 'Astaga lupa dia dengan ulangtahunnya.' Batin Riza meronta dengan tingkah istrinya. "Tanggal 9 ini Dek. Ulang tahun kamu." Jawab Riza gemas. Harusnya ini jadi momen yang mengejutkan. Namun karena yang di kejutkan malah lupa ulang tahunnya semuanya batal. "Eh iya deng...Makasih." Ucap Jihan memeluk suaminya. "Selamat ulangtahun sayang." Papa, Mark, Jaafar dan Meta memeluk wanita itu bergantian.

__ADS_1


Semua kado telah di buka. Terakhir adalah kado dari Jaafar. "Bukan ular kan isinya?" Tanya Jihan memastikan. "Bukan Dek. Astaga." Jawabnya. "Itu kado yang kakak selalu kumpulkan di hari ulang tahun kamu. Karena Kakak baru bisa menyampaikannya sekarang." Ucap Jaafar. "Makasih." Jihan terenyuh membuka kotak besar yang berisi berbagai barang itu. "Sama sama sayang." Jaafar memeluk Adiknya.


Semuanya berkumpul untuk mengobrol dan menikmati cemilan dan traktiran berbagai makanan dari Jihan. "Kalian suka?" Tanya Jihan melihat anak anak memperhatikan ikan dari adiknya. "Iya Ibu. Kasih ke akuarium besar." Jihan mengangguk. "Minta sama Ayah." Jawabnya. "Gita sama Lita nggak makan?" Tanyanya. "Sudah kenyang Kak. Daritadi kita makan banyak." Jawab mereka. "Dek. Tadi kamu ketemu pengacara atau kontraktor?" Tanya Riza. "Astaga ustadz. Kalo aku mau ketemu pengacara ya pengacara. Kalo aku mau ketemu kontraktor ya bilang kalau mau ketemu kontraktor. Kapan aku nggak jujur coba?" Tanyanya. "Suami kamu kan khawatir Ji. Cemburu dia." Ucap Rudi. "Memang kontraktor nya ganteng ya?" Tanya salah satu karyawan Jihan. "Ganteng. Kaya Leonardo Dicaprio waktu muda." Jihan langsung menutup mulutnya. "Eh. Enggak. Masih ganteng suami aku." Ucapnya sambil memeluk Riza membuat semua orang tertawa.

__ADS_1


__ADS_2