Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bebas Bersyarat


__ADS_3

Riza tersenyum puas. Beberapa hari ini Ia bebas dari hukuman yang begitu menyiksa. "Hukuman kamu memang sudah selesai. Tapi kamu Bebasnya masih bersyarat. Enak aja. Jangan nempel mulu kaya selotip. Minggir. Aku mau ambil jilbab." Kesal Jihan dari tadi Riza tak berhenti memeluknya. "Nggak papa. Aku kangen kamu Dek." Ucapnya. "Kamu nggak papa. Aku yang kenapa napa. Ngap tau nggak. Gerah. Minggir." Wanita itu melepaskan tangan suaminya dengan paksa. "Mau kemana sih?" Tanya Riza mengikuti langkah sang istri memasuki walk in closet. "Mau belanja. Besok puasa. Kemana aja kamu." Ucapnya meraih kerudung instan yang sesuai dengan warna gamisnya kemudian segera memakai. "Eh. Iya. Kamu kok nggak bilang sama Mas kalau mau belanja Dek." Ucapnya protes. "Memang raganya ada tapi pikirannya melayang entah kemana. Aku sudah bilang semalam Mas." Kata Jihan bergegas melangkah pergi dengan membawa hand bagnya. "Pikiran Mas di kamu semua. Tunggu. Mas antar." Riza bergegas memakai kaosnya. "Jangan galak galak. Ini mau puasa lo." Ia mengikuti langkah Jihan sambil menegur wanita itu. "Kamu bilang aku galak? Yang bikin kesel sama yang bikin risih siapa?" Tanyanya sambil bersedekap dada. "Aku." Jawab Riza lirih.

__ADS_1


"Ayo kak." Ucap Mark menggandeng tangan kakaknya melepaskan tangan Riza. "Eh...Kamu apa apaan." Ucap pria itu tidak terima. "Kenapa? Ini kakak aku." Mark meledek sambil menjulurkan lidahnya. "Ini istri aku." Kata Riza tak mau kalah. "Anak anak nggak ikut Dek?" Lanjutnya bertanya. "Lagi tidur. Nggak mau bangunin. Biar tidur saja. Kita nggak lama kok." Jawabnya.

__ADS_1


Hanya memerlukan waktu 10 menit mereka sudah sampai di supermarket terdekat. Jihan dan Mark sibuk memilih belanjaan sedangkan Riza mendorong troli belanja. "Ini enak nggak ya?" Tanya Mark melihat bakso ikan di freezer. "Coba ambil. Kakak juga mau coba." Pemuda itu mengangguk kemudian mengambil beberapa. "Oh. Anak anak suka nugget. Ambil juga Mark." Perintah Jihan langsung mendapat anggukan. "Beli buah sama sayur sekalian Dek. Kamu lagi hamil harus banyak banyak makan yang bergizi." Riza mengingatkan. "Pengen bengkuang ada nggak ya?" Gumam wanita itu. "Itu ada." Tunjuk Riza. Pria itu bergegas mengambilkan untuk istrinya. "Makasih." Ucap Jihan. "Sama sama Sayang." Jawab Riza mengecup pipi istrinya membuat Jihan kesal. "Nggak tau tempat." Ia menatap suaminya sebal namun Pria itu hanya tersenyum tak berdosa.

__ADS_1


Semuanya sedang berkumpul menikmati makan siang setelah sholat dhuhur berjamaah. "Kalian nilainya bagus. Paman kasih hadiah." Mata Jalwa berbinar menatap pamannya. "Apa hadiahnya paman?" Tanyanya. "Apa yang kalian inginkan? Rumah? Mobil? Apartemen? Taman bermain?" Tanyanya langsung mendapat pukulan di lengan dari Jihan. "Jangan ajari anak anak aku matre." Kata Wanita itu menatap tajam kakaknya. "Hehehe. Iya. Kalian mau apa?" Tanyanya lagi." Jaffan tersenyum. "Mau kuda poni." Jawab bocah itu membuat Ayahnya tersedak. "Pelan pelan Mas. Mereka hanya minta kuda bukan dinosaurus. Kenapa kamu sekaget itu?" Ucap Jihan sambil memberi minum. "Makasih Dek." Riza tersenyum. "Jangan cium. Awas saja." Kesalnya menatap suaminya penuh peringatan. "Kamu gitu." Keluh Riza. "Mau diapakan?" Lanjut pria itu bertanya pada kedua anaknya. "Dipelihara." Jawab Jaffan. "Yang lain saja. Kenapa harus kuda sih?" Tanya Riza heran. "Kalau begitu keledai." Jalwa angkat bicara. "Dua duanya saja." Ucap Jihan menimpali membuat Riza, Papa dan Mark melongo.

__ADS_1


Sore hari cuaca sedang cerah. Mereka duduk bersama di taman sambil menikmati sejuknya udara di dekat air mancur. "Ibu. Nanti kalau takbiran beli kembang api ya." Kata Jalwa menghampiri Ibunya. "Iya. Nanti beli kembang api." Jihan tersenyum membelai kepala Jalwa. "Makasih Ibu." Ia memeluk ibunya erat. "Sama sama Sayang. Ingat. Jangan tidur malam malam. Nggak ada alasan temani Om Mark nonton Tv. Kalian harus cepat tidur supaya nggak susah kalau bangun sahur. Kalian kan mau puasa Full." Keduanya mengangguk. "Ibu. Nanti Ibu ada sedekah seperti tahun kemarin?" Tanya Jaffan. "Iya sayang. Sepertinya hari ketiga puasa nanti. Kalian mau bantu bagikan?" Mereka mengangguk menanggapi Ibunya. "Ibu apa manfaat sedekah itu?" Tanya Jalwa penasaran. "Keutamaan sedekah itu banyak. Bisa menjauhkan kita dari api neraka, mendapatkan harta atau ganjaran yang berlipat ganda, memanjangkan usia dan menghindarkan diri kita dari kematian yang buruk, mendapat naungan di hari kiamat nanti...." Jawab Jihan terus menjelaskan pada anak anaknya. Mereka tersenyum menyaksikan wanita itu begitu sabar dalam mengajarkan nilai nilai kebaikan pada anak anak. Jihan selalu meluangkan waktu untuk mengajar mengaji maupun menceritakan kisah kisah nabi setiap malam di sela sela kesibukannya. Dalam sikapnya yang keras terdapat kelembutan dan kesabaran yang luar biasa di hati wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2