
Jihan berdecak karena Riza terus menganggu tidurnya. "Kenapa sih Mas? Aku ngantuk tau. Jangan gangguin orang tidur." Kata Wanita itu masih memejamkan mata. "Cuman pengen elus wajah kamu kenapa nggak boleh sih Dek." Jawabnya. "Geli tau." Jihan langsung duduk. "Yaudah tidur lagi. Maaf. Nggak ganggu lagi deh." Tak merespon wanita itu langsung turun dari ranjang. "Mau kemana Dek?" Tanya Riza. "Mau tidur sama Juma." Ucapnya berlalu pergi.
"Ibu." Bocah tampan itu mendudukkan diri melihat Ibunya masuk ke kamar. "Mau numpang tidur. Ayah menyebalkan." Kata Jihan merebahkan tubuhnya dengan nyaman di ranjang besar putra bungsunya. "Iya. Ayo tidur." Ia tersenyum kemudian memeluk Ibunya. "Dek." Riza memasuki kamar. "Ayah jangan berisik nanti ibu bangun. Ayah keluar saja." Ucapnya pelan. Riza mendengus sebal melihat tingkah si bungsu yang mengejeknya. Pria itu terpaksa merelakan istrinya tidur disini dan mulai melangkah pergi.
__ADS_1
"Ibu mana Yah?" Tanya Jalwa menghampiri Ayahnya yang sedang duduk sendiri. "Tidur di kamar Juma." Jawab Pria itu sembari menutup buku yang Ia baca. "Kok di kamar Juma." Beo Jalwa kemudian kembali lagi ke kamarnya. "Ayah lagi marahan sama Ibu ya?" Tanya Jalwa kembali lagi. "Enggak. Kenapa tanya begitu?" Riza menatap putrinya heran. "Kok Ibu tidurnya di kamar Juma?" Pria itu tampak menghela napas. "Ibu pindah tidur gara gara Ayah ganggu tadi." Jawabnya.
Sore hari Jihan baru selesai mandi menghampiri anak anak diikuti suami yang berjalan di belakangnya. "Pinjem hp kamu Mas." Kata Wanita itu sambil berbalik. "Ini." Riza memberikan benda pipih itu pada sang istri. "Nggak jadi. Aku lupa kamu nggak punya aplikasinya. Mau pinjam Jalwa saja." Jihan mengembalikan hp suaminya Kemudian duduk di dekat putra putrinya. "Ibu pinjam hp kamu sayang." Jalwa mengangguk sambil tersenyum. "Mau pesan makanan ya Ibu?" Tanyanya. "Iya. Kalian mau apa?" Mereka tampak berpikir. "Martabak, Mie ayam sama Bakso aja Bu." Jawab Jaffan mewakili semua. "Kamu mau apa Mas?" Tanya Jihan pada suaminya. "Mau kamu berhenti makan makanan begituan." Jawab Riza kesal. "Kenapa? Enak loh....Kamu yakin nggak mau pesan apa apa?" Tanyanya namun Riza tetap menggeleng. "Yasudah berarti itu saja ya. Tambah kentang goreng sama burger." Kata Jihan di jawab anggukan ketiga putra putrinya. "Eh. Kok burger juga." Protes Riza. "Jangan Junk food mulu." Lanjutnya. "Eh Mas. Itu juga ada sayurnya loh sama daging juga." Jawab Jihan. "Sayurnya kamu buang. Jangan dikira Mas lupa kebiasaan kamu." Ucap Riza.
__ADS_1
"Ibu. Ibu dulu pernah punya pacar nggak?" Tanya Juma. Si bungsu si paling penasaran. "Pernah." Jawab Jihan membuat suaminya membelalakkan mata. "Katanya kamu nggak pernah pacaran Dek." Protes Riza mendengar jawaban sang istri. "Pacaran main main saja. Apa itu terhitung?" Tanya Jihan pada suaminya. "Main main bagaimana? Apa saja yang sudah kalian lalui bersama? Apa pacarmu itu tampan?" Riza membuang muka setelah melontarkan pertanyaannya. "Baiklah. Aku jawab jujur sejujur jujurnya. Pacar Ibu dulu namanya Robert dia tampan dan pintar. Kakak kelas Ibu. Usia kita beda dua tahun. Kita dulu itu belajar bareng sama jalan jalan bisa saja. Dia dulu juga cukup dekat dengan Nenek Ibu. Sering main ke rumah. Sejauh mana kita pacaran kita cuman pelukan, gandengan tangan, kiss......" Jihan tak melanjutkan ceritanya karena suaminya itu protes. "Hehehe enggak Mas. Kita cuman belajar bareng sama jalan jalan aja. Selain itu No. Kita nggak pernah macam macam. Meskipun tinggal di negara minoritas muslim. Nenek selalu kasih wejangan baik baik sama aku untuk jaga jarak sama lawan jenis." Riza menelisik ekspresi istrinya kalau kalau wanita itu berbohong. Ternyata tidak. Jihan berkata dengan jujur. Riza tersenyum kemudian memeluk dan mengecup kening istrinya dengan lembut. "Jadi boleh kan makan saos sambalnya?" Tanya Jihan membuat anak anaknya tergelak.
"Em. Kalian kalau punya saudara dua lagi gimana?" Tanya Jihan membuat semuanya menghentikan makan. "Tidak." Jawab mereka kompak. "Usia ibu masih muda lo. Punya dua nak lagi nggak papa juga." Kata Jihan. "No. Ibu masih muda umur berapa pun kita nggak mau adik lagi. Sudah cukup." Jawab Jaffan. "Tuh dengerin. Kalau masalah ini Mas sama anak anak kompak." Kata Riza mencium pipi istrinya. "Kita nggak mau sayangnya ibu terbagi lagi." Ketiganya memeluk Jihan dengan hangat menyalurkan perasaan cinta dan sayang.
__ADS_1