
Jihan sudah sampai di bandara. "Kakak." Teriak seorang remaja langsung berhambur memeluk Jihan yang sedang menunggu dengan wajah kesalnya. "Sudah di bilang nanti kakak jemput malah ngeyel kesini sendiri." Omel gadis itu sembari menarik telinga lawan bicaranya dengan pelan. "Memangnya kakak tidak merindukanku?" Tanyanya sambil tersenyum. "Rindu. Kamu mengganggu tidur kakak yang nyenyak. Kalau tidak sayang sudah Kakak biarkan kamu di bandara sampai besok." Jawabnya sambil memasukkan koper ke dalam mobil.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Ucap Riza memasuki rumah. Suasana tampak sepi seperti biasanya. "Siapa kamu?" Tanyanya pada seorang pemuda yang duduk santai sambil menonton TV di ruang tengah. "Suaminya kak Jihan ya?" Remaja itu malah balik bertanya membuat Riza mengangguk kemudian ikut duduk bergabung. "Aku Mark. Adiknya kak Jihan." Katanya memperkenalkan diri. "Aku bukan adik kandung. Kami saudara karena dulu Ibuku yang menyusui kak Jihan. Jangan berpikir Ibu kandungnya yang memberi ASI. Karena itu tidak terjadi." Jelasnya karena Riza tampak kebingungan.
__ADS_1
Begitu sampai kamar Riza langsung menghampiri sang istri yang terlihat baru selesai mandi. "Dek. Dia...." Ia bingung harus bertanya bagaimana. "Ya. Dia adikku. Akan tinggal dan kuliah disini. Ibu dan kakaknya meninggal dalam kecelakaan satu tahun yang lalu. Tadinya dia ingin kembali bersamaku waktu itu. Tapi dia harus menyelesaikan pendidikannya dulu." Jelas Jihan membuat suaminya mengangguk. Riza tiba tiba saja memeluk istrinya dengan erat. "Kenapa?" Tanya gadis itu namun sang suami menggeleng. "Hanya ingin peluk saja." Lirihnya menikmati aroma wangi tubuh sang istri."Bergegaslah. Aku tunggu di bawah untuk makan siang." Ucap Jihan sembari melonggarkan pelukan suaminya.
__ADS_1
Mereka baru selesai berbelanja dan kini sedang berada di parkiran bersiap untuk pulang. Jihan menggunakan uang suaminya untuk kebutuhan dapur dan menggunakan uang pribadinya untuk membelanjakan Mark. "Kita langsung pulang?" Tanya Mark setelah masuk ke dalam mobil. "Iyalah. Sudah makan malam juga. Memangnya mau kemana lagi." Jawab Jihan. "Besok kamu harus bangun pagi pagi untuk mendaftar. Jika sampai telat bangun. Awas saja. Kakak guyur kamu pakai air es." Lanjutnya membuat Riza tersenyum karena menurutnya Sang istri sangat lucu ketika sedang mengomel.
__ADS_1
Riza menghampiri istrinya yang berbaring nyaman di atas ranjang. Pria itu baru mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Perlahan ia ikut berbaring sembari memeluk sang istri. "Dek." Panggilnya dengan lembut. "Hm. Ada apa?" Tanya Jihan. "Aku punya sesuatu untuk kamu." Riza duduk kemudian membuka laci meja di dekat tempat tidur. Pria itu meletakkan kotak putih di atas perut rata istrinya. "Ini apa?" Tanya Jihan ikut mendudukkan diri. "Kamu buka deh." Jawabnya sembari tersenyum menatap sang istri. Jihan membuka kotak itu perlahan. Satu set perhiasan lengkap berada di dalamnya namun ekspresi Jihan biasa saja tak seperti para wanita yang akan kegirangan. "Kamu tidak suka?" Tanya Riza menelisik ekspresi gadis di depannya. "Suka. Tapi aku tidak pernah memakai seperti ini. " Jawabnya jujur. "Sini aku pakaikan." Riza mengambil kalung dan memakaikannya di leher sang istri. "Cantik." Kata pria itu mengecup bibir istrinya sekilas membuat Jihan terpaku. "Lepaskan lagi." Kata Jihan membuat suaminya menghela napas. "Kegiatanku sangat beresiko.Aku tidak ingin ini rusak atau hilang." Kata Jihan melihat ekspresi suaminya yang kecewa. Riza mengangguk kemudian tersenyum sembari mengembalikan kalung cantik itu di tempatnya.
__ADS_1