
Pagi hari yang cerah Jihan sibuk menyiapkan sarapan di bantu putrinya Jalwa yang kini sudah duduk di bangku kuliah. "Selamat pagi Ibu." Sapa dua putra tampan menghampiri dan mencium pipi Ibunya. "Pagi Sayang. Ayo duduk sarapan." Mereka mengangguk kemudian duduk di tempat masing masing. "Pagi kakek ku sayang." Ucap Jaffan dan Juma. "Pagi tampan." Jawab Papa sambil tersenyum. "Pagi Dek." Riza memeluk istrinya dan mencium pipi mulus itu. Usianya tak lagi muda dan dia semakin manja pada Jihan. Kini saingan Riza berkurang karena Mark dan Jaafar sudah bahagia dengan keluarga kecilnya masing masing. Meraka sering berkunjung sembari mengajak putranya. Kedua putra Mark berusia 2 dan 1 tahun sedangkan putra Jaafar berusia 3 tahun.
"Pa. Papa nggak usah ke perkebunan ya. Papa di rumah saja." Tutur Jihan di jawab anggukan. "Bukannya apa apa Pa. Papa kan semakin tua. Banyak banyak istirahat di rumah. Kalau ingin jalan jalan nanti Jihan temani." Lanjutnya. "Iya Sayang. Papa mengerti." Jawabnya sambil tersenyum. Jihan begitu perhatian dengannya. Padahal anak kandung sendiri tak pernah menjenguk setelah bertahun tahun lamanya. "Jaffan nanti kamu sekalian antar Juma ya. Ayah mau mampir ke ruko." Kata Riza di jawab anggukan. "Em...Ibu. Nanti Jalwa ada janji sama kawan. Pulangnya agak sore boleh?" Tanyanya meminta izin. "Boleh. Jaga pergaulan. Ingat. Laki laki dan perempuan ada batasan." Itu yang selalu Jihan nasehatkan pada anak anaknya. "Iya Ibu." Jawab mereka.
Semuanya sudah berangkat namun Riza masih saja belum beranjak dari kursi tempatnya duduk. "Belum berangkat kenapa Mas?" Tanya Wanita itu sembari membereskan piring kotor dibantu Bibi. "Nanti dulu Dek. Masih ngumpulin niat." Ucapnya sembari memeluk pinggang wanita cantik itu. "Bibi." Panggil Riza. "Ya ustadz." Jawabnya. "Aku sama istri kelihatan banget beda usia jauh ya Bi?" Tanyanya. Jihan menghela napas. Hampir setiap hari Suaminya itu selalu menanyakan hal yang sama. "Jujur nih. Iya sih ustadz. Kelihatan beda jauh. Maaf ya." Kata Bibi berpamitan pergi. "Tuh kan Dek. Aku udah tua." Keluhnya. "Namanya manusia pasti makin tua Mas. Memang sudah kodratnya begitu." Kata Jihan mengelus kepala suaminya dengan lembut. " Sekarang berangkat. Jangan malas. Ayo aku antar." Ucap Jihan mengecup kening suaminya. Pria itu mendongak sambil tersenyum lalu berdiri. Riza menangkup wajah sang istri dan mencium bibir mungil itu dengan rakus.
__ADS_1
Siang hari Jaffan dan adiknya sudah sampai di rumah. "Assalamualaikum." Ucapnya. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan yang sedang mengobrol dengan papanya. "Kalian sudah pulang." Kata Jihan ketika kedua putra tampannya itu mencium tangannya dengan Papa bergantian. "Iya Bu." Jawab Jaffan dan Juma duduk di samping Ibunya. "Adikmu tadi mainnya kemana bilang nggak?" Tanya Jihan. "Enggak Bu. Jalwa nggak bilang. Palingan dia beli buku sama teman sekelasnya." Wanita itu mengangguk mendengar jawaban putranya.
"Mau kemana?" Tanya Riza melihat istrinya keluar rumah bersama dua putranya. "Juma minta sate." Jawab Jihan. "Cuman sebentar. Kita pergi dulu ya."Lanjut wanita itu sembari mencium tangan suaminya. "Hm. Jangan lama lama." Tutur Riza mengecup kening sang istri.
Riza menatap istrinya. Pamitnya tadi kan cuman beli sate. Kenapa sekarang satu meja penuh makanan. "Tadi katanya cuman beli sate." Kata Pria itu menyindir. "Maaf Mas. Yang lainnya kelihatan enak. Jadi kepengen deh." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Jalwa. Tadi kamu pergi kemana?" Tanyanya untuk mengalihkan Omelan sang suami. "Ke toko buku sama teman Bu. Beli komik." Jawabnya sambil mengambil satu tusuk sate dan memakannya. "Juma. Makan sambil duduk yang benar. Daritadi nempel mulu sama Ibu." Tegur Riza. "Aku kan anak bungsu Yah. Pasti nempel terus." Jawabnya. "Kata Siapa? Dua kakak kamu juga sama. Huh." Keluh Riza. "Nanti kalau kalian punya adik Juma nggak jadi anak bungsu lagi." Kata Jihan langsung mendapat pertentangan. "Semuanya tidak setuju Ibu punya anak lagi." Kata Jaffan mewakili semuanya. "Kenapa? Biar tambah rame kan." Semuanya menyipitkan mata. "Ini sudah rame Ibu. Ibu mau yang rame bagaimana lagi?" Tanya Jalwa heran. "Sudah. Jangan cemberut begitu. Daripada tambah anak mending tambah makan." Kata Riza menyuapi istrinya. "Ibu kalau punya anak lagi nanti Juma nggak jadi si bungsu. Juma nggak mau kalau posisi Juma tergeser." Keluhnya sembari menidurkan kepalanya di paha Jihan. "Kamu itu." Ucap Jihan menarik hidung mancung putranya membuat Juma tertawa.
__ADS_1
Sudah boleh tamat belum Nih....?
Sudah happy semuanya Lo...
Rela pisah sama Jihan dan Ustad belum?
__ADS_1