Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Seenaknya


__ADS_3

Pukul lima pagi Jihan sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan sedangkan suami dan adiknya belum pulang dari mushola untuk sholat subuh berjamaah. "Assalamualaikum." Ucap Riza memasuki dapur langsung memeluk istrinya. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan meletakkan kembali pan di atas kompor dan menuangkan adonan pancake. "Ada yang bisa aku bantu nggak Dek?" Tanya Riza berinisiatif untuk meringankan pekerjaan istrinya. "Ambilkan buah berry dan jus jeruk di kulkas." Riza mengangguk dan bergegas melaksanakan perintah istrinya.


Keduanya sudah selesai mandi. Riza sedang membantu mengeringkan rambut istrinya. Ia bersikukuh padahal Jihan sudah menolak berulang kali. "Dek." Panggilnya dengan lembut. "Iya." Jawab Jihan dengan tatapan yang masih lurus ke depan. "Katanya Bang Jaafar mau bicara." Ucap Riza sedikit lirih. "Kamu temui dia ya." lanjutnya lagi seperti sebuah permohonan. Jihan hanya diam. Wanita itu tak memberi respon apapun atas pernyataan suaminya.

__ADS_1


Seperti bisa sepasang suami istri itu berangkat bersama. Begitu sampai di cafe Jihan langsung masuk ke ruangannya. "Sudah sampai kan." Katanya dengan sebal karena selalu diikuti Riza. "Iya. Jangan sampai kamu di dapur lagi. Aku nggak mau kamu kecapean Dek. Kalau begitu aku ke kampus dulu. Assalamualaikum Cintaku." Pamit pria itu dengan gombalan maut dan senyumnya kemudian mengecup bibir semanis madu milik sang istri berkali kali. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan kemudian segera duduk di kursi kerjanya. Tangannya mulai meraih beberapa map berisi laporan keuangan yang belum di periksa beberapa hari ini.


Suara ketukan pintu membuat Jihan mengalihkan fokusnya. "Masuk." Kata Wanita itu hingga pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang berjalan kemudian duduk di depannya. "Ada apa?" Tanya Jihan menaikkan kedua alisnya. "Eh...Bagaimana Zahra itu? Apa masih mengganggu kalian?" Tanya Meta penasaran. Jihan mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak di ganggu. Namun entah dengan Suamiku. Mereka berada dalam satu lingkungan. Siapa yang tau." Jawabnya begitu santai. "Hm..Kau terlalu tenang. Jika aku jadi kau akan ku tampar mulutnya itu yang berani berani meminta menjadi istri ke dua suamimu."Ucap Meta penuh emosi. "Buat apa? Jika memang keduanya setuju aku bisa apa. Hati tidak mungkin bisa di paksakan bukan?" Tanya Jihan dan Meta membenarkan. Meta menyodorkan sebuah amplop di atas meja kerja bosnya. "Apa ini?" Tanya Jihan meraih amplop itu dan mulai membuka isinya. "Kenapa mengundurkan diri?" Tanyanya heran. "Apa karena gaji atau kau tidak nyaman bekerja disini?" Jihan memastikan. "Bukan masalah Itu. Aku tidak di perbolehkan lagi kerja sama Suami. Sebagai istri aku hanya bisa menurut saja. Kami juga akan segera pindah ke rumah Mas Rudi." Jawab Meta menjelaskan. Jihan mengangguk pasrah. Jika sudah seperti ini Ia tak bisa mencegahnya lagi. Bukankah setiap orang mempunyai pilihan masing masing. "Terimakasih sudah selalu membantuku. Terimakasih banyak." Meta bangkit dari duduk kemudian memeluk Jihan dengan hangat.

__ADS_1


Keduanya sampai di Mall setelah beberapa menit perjalanan. Jihan hanya diam. Ia tak menyetujui apa yang di tawarkan suaminya namun pria itu tetap membeli. Jika sudah berurusan dengan sikap seenaknya Riza yang keluar. Ia bisa apa? Daripada berdebat di tempat umum Jihan memilih untuk mengalah.


Sampai di rumah Jihan menghela napas berkali kali melihat Mark dan suaminya sibuk menurunkan barang belanjaan. Riza membeli begitu banyak pakaian untuk mereka bertiga. Dan kini kamar sudah penuh dengan paper bag. "Mau beli banyak begini untuk jualan ya kak?" Tanya Mark sambil terkekeh. "Kakak iparmu yang beli bukan kakak." Kesal Jihan langsung mendudukkan diri di ranjang sambil bersandar dengan nyaman. "Kan sedang hamil. Butuh pakaian yang nyaman." Ucap Riza menaruh beberapa kotak di atas meja. "Nggak sebanyak ini juga kali." Jihan mencebik. Riza tersenyum kemudian duduk memangku kaki istrinya dan mulai memijit pelan. Ia paham jika Jihan sedang lelah karena terlalu banyak berjalan ketika belanja tadi.

__ADS_1


__ADS_2