
Riza dan anak anaknya sedang mengantar Jihan ke bandara. "Sudah. Hanya dua hari. Jangan sedih." Ucap wanita itu mengurai pelukan dengan putranya karena sebentar lagi pesawat akan mengudara. "Ibu berangkat. Kalian jangan ribut ribut. Dengar kata Ayah. Jaffan jaga Adek adeknya ya." Pesannya di jawab anggukan. "Mas aku berangkat. Kamu jaga kesehatan." Ia memeluk suaminya dengan erat dan memberi ciuman penuh cinta sebelum pergi. Riza menatap kepergian sang istri. Tak ada sepatah kata pun yang bisa terucap dari bibir pria itu.
Jam 8 Jihan sudah mendarat. Wanita itu langsung menuju ke hotel bersama Dina Asistennya. "Ibu capek?" Tanyanya. "Nggak. Masa gitu aja capek." Jawab Jihan sambil terkekeh. "Aku bukan capek. Lebih ke lapar." Lanjutnya. "Nanti Saya akan pesankan makanan. Mau di antar ke kamar atau makan di restoran?" Tanya Dina sambil mengutak atik ponselnya. "Makan di restoran saja sama kamu."
__ADS_1
Jihan masuk ke kamarnya. Wanita langsung membersihkan diri. Beberapa kali mengecek ponsel tidak ada pesan atau panggilan dari suaminya. Semua pesan hanya dari Papa, Anak anak, Kakak dan Juga adiknya. Biasanya kan kalau sedang bepergian Riza lah yang paling pertama ribut untuk menanyai kabar. "Apa salahku?" Gumam Jihan menelisik diri sendiri. Ia bingung. Akhir akhir ini kan bahkan dia yang menuruti semua perkataan suaminya. Riza mau ini itu selalu di turuti. Lalu letak salahnya dia dimana? Jihan menghela napas. Ia kemudian memakai Jilbabnya untuk segera ke restoran karena Dina sudah menunggu.
"Sudah lama Din?" Tanya Jihan duduk di depan wanita yang lebih muda darinya itu. "Belum Bu Saya baru beberapa menit lalu datang." Jawabnya. "Ayo makan." Ajak Jihan menyegerakan karena memang sudah lapar. "Hari ini ada jadwal apa Din?" Tanya Jihan sambil mengunyah ayam betutu nya. "Makan malam dengan tuan Peter. Besok baru survey tempat Bu." Jawabnya. "Besok? kenapa tidak sekarang? Dasar Peter. Bisa bisanya sesuka hati mengganti acara." Dina hanya bisa tersenyum melihat Bosnya menggerutu kesal.
__ADS_1
"Boleh bergabung?" Tanya Peter menghampiri meja Jihan. Pria itu langsung duduk tanpa di persilahkan. "Itu sudah duduk. Masih minta izin juga." Sindir Jihan membuat rekan kerja sekaligus mantannya itu terkekeh. "Nanti malam satu mobil dengan aku saja. Tujuan kita sama." Jihan melirik Peter yang sedang meneguk jusnya. "Nggak. Aku sudah punya suami. Jaga jarak." Jawabnya menatap tajam. "Kamu tidak berubah." Kata Peter namun Jihan tak peduli. Ia lebih fokus ke makanannya. Sedangkan Dina hanya diam menyantap makanan di depannya dengan sesekali melirik dua orang yang selalu bersitegang itu.
Di sisi lain Riza sedang duduk sambil memperhatikan para karyawannya yang sedang mengepak barang. Selain berjualan di ruko biasa. Pria itu juga memasarkan melalui online dan juga pesan antar. "Ustad kenapa? Daritadi melamun." Tanya salah seorang karyawan. "Nggak. Nggak ngelamun." Jawab Pria itu sambil tersenyum menutupi perasaan yang sesungguhnya. "Jangan bohong ustadz. Ustad sedang ada masalah ya?" Ia mencoba meringankan beban si Bos. Karena jika ada masalah Riza lah yang selalu datang membantunya. Pria itu tetap tak mau mengaku membuat karyawannya pasrah. Mungkin hal yang tidak perlu di ceritakan jadi Ia maklum.
__ADS_1
Suasana makan malam tampak hening. Tidak ada yang berbicara begitu pula dengan Riza. Jika ada istrinya mungkin Ia akan bicara ini itu. Namun beberapa hari akhir akhir ini ada Jihan pun Ia diam. Semua menyadari itu namun juga tak terlalu ikut campur. "Riza ke kamar dulu Pa. Anak anak Ayah ke kamar." Ucapnya berpamitan dan bergegas pergi sebelum mendapat jawaban.
Sampai di kamar Riza langsung merebahkan tubuh di ranjang. Pria itu menatap sekitar. Jika bukan karna sang istri mungkin Ia tak akan mendapat kehidupan yang mewah sepeti ini. Lagi lagi rasa rendah diri muncul. Ia bagai seseorang yang selalu menumpang dalam segala hal. Istrinya lebih dan dia tak sebanding. "Apa aku tak seberguna itu?" Gumamnya sambil menghela napas.
__ADS_1