
Nah....Biar genap 101 eps hari ini.
Bonusnya dobel dobel nih....
Hari ini Jihan bersikeras meminta untuk pulang padahal wanita itu masih harus menjalani pemulihan di rumah sakit. Dan tebak apa yang terjadi, Semua tak bisa mengalahkan keras kepalanya Wanita itu. Bahkan papanya sendiri harus di buat pasrah mengikuti kemauan putri tercinta. "Jangan banyak bertingkah. Awas saja." Meta memperingati. "Iya. Kamu ini bawel sekali." Jawabnya sambil terkekeh.
__ADS_1
Mobil sudah sampai di rumah. Jihan turun hendak di gendong suaminya namun dengan cepat menolak karena di rumah sakit pria itu sudah menggendongnya dari kamar sampai basment. "Aku mau jalan sendiri Mas." Ucapnya sambil cemberut. "Iya iya. Ayo. Pelan pelan." Ucapnya sambil membantu sang istri turun dengan hati hati. "Rame banget. Ada apa ini?" Tanya Jihan melihat halaman rumah dipenuhi sepeda motor. "Karyawan kamu Sayang." Jawab Papa dengan lembut.
"Ibu." Anak anak menyambut kedatangan wanita itu. "Hy sayang. Ayo masuk." Jihan melepaskan tangan suaminya kemudian menggandeng tangan kedua bocah itu. "Selamat Datang Mbak Jihan. Kita kangen." Ucapnya hendak memeluk namun Meta dan Mark langsung pasang badan. "Nggak usah peluk peluk. Badannya masih lemas. Anaknya saja tidak boleh peluk. Apalagi kalian." Mark berkata memperingati.
Semua tetangga telah pulang. "Istirahat dulu Dek " Ucap Riza sambil duduk di samping sang istri. "Ini lagi istirahat." Jawabnya. "Itu apa?" Tanya Jihan melihat makanan di atas meja. "Tape ketan. Katanya Mbak Jihan suka tape." Jaffan tersenyum. "Ibu mau?" Tawarnya dan Jihan mengangguk cepat. "Jangan Dek. Kamu baru sembuh." Jihan mulai memelas. "Sudah sembuh aku tuh. Dokter tadi nggak bilang aku nggak boleh makan tape." Riza menghela napas. Kumat lagi deh ngeyelnya sang istri dan Ia bisa apa. "Baiklah." Ucap Pria itu pada akhirnya. Jaffan mengambil satu bungkus dan menyuapkannya pada Ibunya dengan hati hati. "Makasih sayang." Ucapnya tersenyum melihat sikap manis putra tercinta. Tak hanya Jaffan, Jalwa dan kedua anak meta sama sama pehatian juga. Mereka selalu mengambilkan apa yang Jihan mau dan butuhkan.
__ADS_1
Semuanya makan siang bersama. Jihan sedang di suapi suaminya setelah minum obat. "Mau minum?" Tanya Pria itu di jawab anggukan. "Enggak mau itu. Mau yang dingin aja. Gerah banget Mas." Ucapnya memang cuaca sedang sangat terik siang ini. "Nggak boleh Dek. Kamu kan...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya Jihan sudah memotong. "Ayolah. Sedikit saja. Mark. Minta punyamu." Remaja itu menghela napas kemudian memberikannya pada sang kakak. "Sudah." Ucapnya sambil mengambil kembali. Padahal Jihan kan baru minum beberapa teguk. "Dasar." Ucapnya kesal. "Jangan macam macam Dek. Kamu baru pulang dari rumah sakit. Kalau begini aturan tadi kakak biarkan saja disana." Ucap Meta sambil mengelap bibir Jihan. "Selalu begitu." Jihan cemberut. Jika bukan karena sakit mungkin Meta sudah menarik pipi menggemaskan adiknya. "Mbak Jihan yang nurut dong. Kan baru sembuh." Wanita itu menyipitkan mata melihat mereka semua. "Aku potong gaji kalian." Semuanya terkekeh mendengar ancaman barusan. "Baru sembuh galaknya sudah kembali. Tapi kita seneng. Um...Jadi pengen peluk." Kini Riza melirik dengan tajam. "Hehe nggak ustadz. Cuman bercanda." Lanjutnya sambil meneruskan makan.
Jihan telah tertidur pulas di atas karpet bersama si kembar, Gita dan juga Lita. "Ustadz. Ki pamit dulu ya." Ucap Mereka dengan lirih agar tidak membangunkan kelima orang yang tengah terlelap itu. "Iya. Terimakasih sudah menjenguk. Hati hati ya." Ucap Riza. "Iya Ustadz sama sama. Assalamualaikum." Riza mengangguk. "Waalaikumsalam." Jawabnya sambil tersenyum.
Riza mengecup kening istrinya perlahan. Jemarinya mengelus lembut pipi wanita yang sedang tertidur pulas itu. "Alhamdulillah. Mas senang kamu ternyata menepati janji Dek. Mas senang akhirnya kamu kembali berkumpul dengan kita lagi. Mas mencintaimu dengan sangat. Ini terakhirnya kamu terluka. Untuk kedepannya jangan lagi. Maaf Mas tidak bisa melindungi kamu. Mas merasa tidak berguna hingga kamu menanggung semua penderitaan ini." Ucap Riza begitu lirih dan sendu mengingat semua sakit yang harus dialami Istrinya.
__ADS_1