
"Mau kemana sih Dek?" Tanya Riza ketika siang hari yang terik begini tangannya di tarik Jihan keluar rumah. "Minta es kelapa muda depan itu lo." Jawabnya membuat pria itu berdiri mematung di tempat. Belum sembuh dari pilek istrinya malah minta es. "Nggak. Kamu belum sembuh pilek malah minta es kelapa muda segala." Jawab Riza membuat istrinya merengek. "Dua hari nggak boleh minum es. Panas begini lo Mas. Aku pengen Es." Ucapnya sambil menatap Riza yang membuang muka tak ingin luluh dengan ekspresi istrinya ketika meminta.
Helaan napas kabur dari mulut Riza. Tak bisa teguh pada pendirian pria itu akhirnya menuruti sang istri untuk membeli es kelapa muda di area jalan menuju rumah. "Mau tahu isi Mas." Jihan tertarik dengan makanan lain saat sudah sampai di tempat. "Gorengan? Nggak ah. Batuk kamu nanti. Sudah di turuti beli es kelapa nggak ada minta gorengan segala." Jawab Riza. "Bakso kalo gitu." Jihan beralih. "Di rumah. Suruh buatkan Bibi." Tegas Riza membuat Wanita itu cemberut. "Pelit." Gerutunya. "Bukan pelit Dek. Mas cuman nggak mau kamu sakit." Ia dengan sabar memberikan pengertian pada Jihan yang sedang ngambek.
__ADS_1
Semangkuk bakso sudah tersaji di depan Jihan lengakap dengan segelas es kelapa yang dibelinya tadi. Riza sebelum pulang memang menyuruh Bibi untuk menyiapkan bakso untuk istrinya jadi ketika sampai di rumah sudah bisa langsung makan. "Mau kemana Dek?" Tanya Riza saat Jihan berdiri dari duduk. "Ambil saos." Jawabnya. "Duduk. Nggak ada pakai saos atau sambal segala." Ia menarik tangan istrinya pelan agar wanita itu duduk kembali. "Masa makan bakso putih begini." Protesnya. "Kasih kecap biar hitam." Jawab Riza membuat Jihan berdecak. "Ayo makan. Jangan membantah suami. Apa apa yang Mas lakukan juga demi kebaikan kamu." Riza mengecup bibir istrinya yang cemberut. Pria itu mulai memotong baksonya menjadi beberapa bagian kemudian di suapkan ke Jihan.
"Begini kan bagus. Makan atas ridho suami juga rasanya enak kan? Coba kalau kamu makan macam macam begitu pasti jadinya sakit perut." Riza mulai menceramahi istrinya. "Jadi kalau aku makan macam macam begitu kamu doain yang jelek jelek?" Tanya Jihan kesal. "Astagfirullah ya enggak dong Dek. Masa Mas tega doain kamu yang jelek jelek. Maksud Mas, Mas kan selalu kasih izin kamu makan kalau makanannya yang nggak berbahaya buat kesehatan kamu makanya nggak ada efeknya. Kalau kamu curi curi kesempatan buat makan yang nggak Mas ridho i kan jadinya sakit karna makanan itu nggak bagus buat kesehatan kamu." Jelas Riza dengan begitu sabar. "Lagian Adek juga suka melanggar ucapan suami sih." Lanjutnya menambahkan. "Lagian Mas banyak peraturan sih." Jawab Jihan pelan.
__ADS_1
Pukul 9 malam Riza baru pulang mengisi ceramah. Pria itu bergegas menuju kamar untuk melihat keadaan istrinya. Jihan semenjak sore tadi bersin bersin jadi tidak bisa menemani Riza. "Gimana keadaan Ibu?" Tanyanya melihat anak anak yang baru keluar dari kamar. "Sudah mendingan. Tadi habis minum teh anget sama obat." Jawab Jaffan. "Nggak mau makan?" Riza melihat mangkuk bubur yang di bawa Jason masih utuh. "Nggak mau bubur Yah. Tapi tadi makan roti." Kata Julian. "Sama buah juga Ibu tadi mau makan." Tambah Jalwa. "Yasudah. Ayah masuk dulu." Pria itu bergegas masuk ke dalam kamar.
Riza menghampiri istrinya yang berbaring di ranjang di temani Juma dan juga Papa mertuanya. "Makasih Pa sudah jagain. Papa istirahat saja. Ini sudah malam." Pria paruh baya itu mengangguk. Ia berpamitan pergi setelah mengecup kening putrinya. "Pilek lagi kan. Pasti es tadi siang." Ucap Riza melepas pecinya kemudian ikut berbaring bersama Istri dan anak bungsunya. "Kamu nggak makan Dek?" Tanyanya sembari mengusap pipi sang istri. "Makan roti. Sudah kenyang." Jawab Jihan. "Ibu nggak mau bubur." Kata Juma. "Jangan sulit makan gini dong Dek. Kondisi kamu akhir akhir ini sering sakit bikin Mas cemas." Ia menatap prihatin istrinya yang masih tampak pucat. Kata dokter Jihan sakit biasa namun Riza tetap merasa cemas karena Istrinya susah makan.
__ADS_1