
"Mas. Bangun. Masuk waktu ashar. Sudah di tunggu yang lain untuk sholat." Jihan menepuk pipi suaminya dengan lembut. "Em...Iya." Jawab Pria itu segera mendudukkan diri. "Cuci muka dulu terus wudhu. Sarung sama baju kokonya aku sudah siapkan." Kata Wanita itu bergegas masuk ke kamar mandi.
Selesai sholat ashar dan mengaji sebentar Jihan keluar duluan. Hari ini Ia mengundang semuanya untuk buka puasa bersama di rumah sekalian membagikan parcel dan THR untuk karyawan dan orang orang yang bekerja di rumah karena sebentar lagi akan lebaran.
"Assalamualaikum." Ucap Meta datang bersama anak anak dan suaminya. "Waalaikumsalam. Kalian kok barengan?" kata Jihan melihat para karyawan cafe dan ruko suaminya sudah datang bersama Meta. "Ketemu di depan tadi." Jawabnya. "Yaudah masuk gih. Aku mau mandi dulu sebentar." Pamitnya segera pergi setelah membalas ciuman kedua putri Meta.
__ADS_1
Riza menghampiri semua orang yang sudah duduk melingkar sambil mengobrol. "Istriku mana?" Tanya pria itu. "Mandi Ustadz." Jawab Mereka. Riza mengangguk kemudian segera berpamitan.
"Dek." Panggil Riza sembari memasuki kamar. "Iya." Jawab Jihan sudah cantik dengan gamis dan jilbabnya. Wanita itu menghampiri suaminya. "Mandi dulu. Bajunya sudah aku siapkan." Riza mengangguk kemudian memeluk Istrinya. "Tunggu di bawah atau disini?" Tanya Jihan. "Tunggu disini saja. Nanti kita turun sama sama." Jawabnya. "Yasudah. Aku tunggu sini. Kamu mandi. Nggak enak mereka nunggu lama." Ucap Jihan memberikan ciuman lembut pada pipi suaminya membuat Pria itu tersenyum.
Sepasang suami istri tampak berjalan bergandengan menghampiri semua orang yang berkumpul di ruang tengah. "Ibu." Jaffan dan Jalwa memeluk wanita itu. "Ayo duduk sambil nunggu buka puasa." Ajaknya.
__ADS_1
Sholat berjamaah telah usai di lanjutkan dengan buka puasa bersama. Jihan makan menyuapi anak anak dan suaminya. "Mbak Jihan anaknya tiga ya? Empat masih dalam perut." Kata Salah satu karyawannya sambil terkekeh melihat Riza yang tak mau kalah dengan anak anak. "Enam. Mark dan Kak Jaafar biasanya juga ikutan." Jawab Jihan membuat dua orang yang di maksud tersenyum. "Kamu nggak Ziarah ke Jogja Za?" Tanya Papa. "Nggak dulu deh Pa. Istri lagi hamil." Jawabnya membuat mertuanya mengangguk.
Mereka berkumpul selesai sholat tarawih bersama. Jihan membagikan parcel dan THR untuk para karyawan dan pekerja di rumahnya. "Terimakasih Mbak. Semoga sehat selalu dan lancar rezeki." Ucap mereka. "Sama sama. Yang itu tolong kasihkan Tante Meta sayang." Kata Jihan pada kedua anaknya. "Terimakasih cantik dan Tampan." Mata mengelus kepala keduanya karena di cium atau di peluk si kembar tidak mau kecuali dengan sang Ibu. "Banyak banget." Kata Meta melihat parcel yang diberikan Jihan untuknya. "Nggak papa. Sekarang, ini untuk kalian berdua dan Adek Aska juga." Ia berlanjut memberikan anak anak Meta amplop. "Eh...Nggak usah." Tolak wanita itu tidak enak hati karena selalu diberi. "Menolak rezeki nggak baik." Jawab Jihan memaksa.
Riza dan istrinya mengantar mereka sampai ke halaman. "Terimakasih Mbak. Ustadz." Sepasang suami istri itu mengangguk sambil tersenyum. "Buruan di halalin. Gandengan. Boncengan mulu." Sindir Jihan pada dua karyawannya yang sedang menjalin asmara. "Nanti dulu Mbak. Butuh kumpul mental buat ketemu calon mertua. Galak soalnya." Jawab laki laki itu sambil terkekeh. "Hm. Yasudah. Pulangnya hati hati. Balikin anak orang dengan selamat." Kata Jihan. "Siap Mbak. Sekali lagi terimakasih. Kita pulang dulu. Assalamualaikum." Mereka berpamitan. "Waalaikumsalam."
__ADS_1
Meta dan anak anaknya memeluk Jihan lama. Mereka juga akan pulang. "Terimakasih." Ucap Wanita itu sembari mengecup pipi saudarinya. "Iya. Hari hati pulangnya." Jawab Jihan. "Kita pulang ya. Assalamualaikum. Nanti kita sering main kesini. Kamu jangan kecapean." Pesannya sebelum masuk mobil. "Waalaikumsalam." Jawab mereka.
Riza merangkul pinggang istrinya mengajak Jihan untuk segera masuk ke dalam karena di luar udaranya dingin. "Nggak nyangka. Tujuh tahun kita lebaran sama sama ya Dek." Kata Riza sembari mengecup lembut pipi mulus sang istri. "Iya. Nggak terasa. Tujuh tahun hidup sama kamu." Riza berhenti kemudian memeluk hangat tubuh Jihan. "Terimakasih untuk semuanya." Ucap Pria itu dengan tulus. "Terimakasih juga untuk semuanya Mas." Jawabnya mengusap punggung Riza dengan lembut. "I Love you." Jihan tersenyum mendengar ungkapan suaminya. "Love you too pak ustadz." Jawab dengan ringan dan begitu tulus.