
"Sudah. Sana berangkat. Mark saja sudah berangkat daritadi." Ucap Jihan sembari merapikan kerah kemeja Riza. "Iya. Mas berangkat dulu Dek. Nanti Mas jemput setelah jam makan siang. Kamu di rumah baik baik ya. Kalau ada sesuatu segera kabari Mas. Mas sayang dan cinta sama kamu." Ungkapnya dengan gombalan khas setiap pagi dan setelah itu siapapun bisa menebak jika kini bibir Riza sudah membuat wajah cantik istrinya basah. "Assalamualaikum." Ucap Pria itu berdiri lalu melangkah dan berhenti lagi. "Kenapa?" Tanya Jihan sedang sibuk membersihkan wajahnya. "Minta cium." Pria itu kembali lagi. "Tadi kamu sudah cium aku. Sampai basah pula. Sekarang apa lagi?" Tanyanya sambil bersedekap dada. "Tadi kan Mas. Sekarang kamu yang cium Mas." Jawabnya. "Sama saja. Sana berangkat." Jihan mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh. "Ih....Ayo dong Dek. Setelah ini Mas berangkat. Masa minta cium saja tidak boleh." Ucapannya mulai merengek dan ngeyel seperti biasa. Dan Jihan bisa apa? Ia hanya bisa menurut agar suaminya segera pergi. "Assalamualaikum Sayang." Tuh kan mulut manis Riza berucap lagi sambil tersenyum setelah mendapatkan apa yang diinginkan. Pria itu terlihat girang sambil melangkah pergi. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan lirih.
__ADS_1
Baru saja suaminya berangkat Jihan sudah kedatangan tamu tak diundang. "Kenapa nggak kasih kabar kalau mau datang?" Tanya Jihan pada Meta. "Kamu. Aku telpon dan aku chat Beratus kali juga tidak ada balasan." Kesalnya membuat Jihan tertawa. "Untung saja kamu lagi hamil. Kalau tidak. Wah... Sudah aku gelitiki sampai mengompol." Ucapannya sembari mengeluarkan beberapa kotak bekal dari kantong kresek. "Kamu bawa apa ini?" Jihan menatap tiga kotak yang sudah berjejer di atas meja. "Kata ustadz Riza kamu susah makannya. Aku bawain manisan buah, Jajanan pasar sama nasi kuning." Jihan menatap Meta dengan penuh tanda tanya. "Maksudnya aku di suruh makan nasi kuning lauknya manisan sama jajan pasar?" Tanya wanita itu membuat lawan bicaranya menghela napas kasar. Ingin sekali Meta mengigit pipi Jihan saking gemasnya. "Ya enggak lah. Mana ada begitu. Makan satu satu jangan di buat lauk juga. Heran." Meta membuka kotak bekalnya dan mengambilkan Jihan kue putu lalu menyuapkan pada Jihan. "Manis. Enak. Beli dimana?" Tanya Jihan setelah menelan makanannya. "Di dekat rumah banyak yang jualan kalau pagi." Jihan mengangguk kemudian meneruskan makannya. "Makasih ya. Jadi ngrepotin." Ucap Jihan merasa tidak enak di perhatikan seperti ini. "Hey. Kamu adik aku. Sudah sepatutnya. Ketahuilah. Aku menyayangi kamu melebihi saudara Aku sendiri." Kata Meta sambil memeluk Jihan dengan hangat.
__ADS_1
Seperti yang di janjikan Riza. Hari ini Ia mengajak istrinya untuk melihat tempat yang akan di belinya untuk membuka usaha. Pria itu menggandeng tangan istrinya memasuki ruko cukup besar dengan tempat yang strategis. "Pemilihan tempat yang bagus. Kamu sudah ketemu sama orangnya?" Tanya Jihan. Riza menggeleng pelan. Ini baru kali pertamanya Riza bertemu dengan pemilik. Semoga saja bisa Deal dengan harga yang Riza mau.
__ADS_1
Hanya tersisa Jihan dan suaminya yang masih duduk disana setelah pemilik ruko pergi. "Kenapa cemberut begitu? Bukannya sudah dapat dengan harga yang kamu mau?" Tanya Jihan. Riza tampak menghela napas dan tiba tiba membawa istrinya dalam pelukan. "Mas cemburu melihat pria itu memperhatikan kamu." Ucapnya jujur. "Mas manusia biasa Dek. Jadi kalau Mas tiba tiba saja Cemburu mohon Mas diingatkan Dek. Tegur Mas dan ingatkan Mas untuk tidak melebihi batas." Ucapnya begitu lembut pada Sang istri.
__ADS_1