
Pukul 12 malam Jihan masih sibuk dengan pekerjaannya. Dengan setia Riza menunggu sambil tiduran di sofa. "Belum selesai juga Dek?" Tanya Pria itu. "Sudah." Jawab Jihan menutup dan meletakkan laptopnya di atas meja. "Ayo tidur." Ajak Wanita itu menarik tangan Sang suami untuk diajak Pindak ke ranjang.
__ADS_1
Riza memeluk istrinya erat. Namun matanya belum juga bisa terpejam dengan tenang. Ada sesuatu yang begitu menyiksa. Namun Ia tak tega mengutarakan kerena istrinya pasti sedang lelah. "Kenapa hm?" Tanya Jihan. Tangan wanita itu dengan usilnya membelai pusaka milik pak ustadz. "Dek..." Rancu Riza sedang di ujung tanduk menahan hasrat yang menggebu. Jihan menggulingkan badannya. Wanita itu duduk di atas kedua paha suaminya. Riza tak tinggal diam. Ia melepaskan piyama istrinya hingga menyisakan pakaian dalam yang begitu menggoda. Ia mendudukkan diri mencumbu tubuh candu sang istri. "Katanya kamu suka jika aku yang memimpin. Jadi biarkan aku yang ambil alih." Ucap Jihan sensual membisikkan kalimat itu sambil menggigit telinga suaminya. Tangan wanita itu dan bibirnya tak berhenti memainkan bagian tubuh sang suami khususnya yang dibawah sana. "Oh Sayang." Ucap Riza merasakan miliknya tenggelam dalam lubang kenikmatan. Ia menggerakkan pinggulnya dengan tempo lembut dan semakin cepat seiring dengan berjalannya waktu. "Suami tuaku." Jihan sempat sempatnya meledek melihat rambut Riza yang mulai memutih. "Tua begini aku masih kuat membuatmu lemas." Jawabnya tersenyum sambil terus bermain.
__ADS_1
Riza memeluk tubuh polos istrinya yang masih terbungkus selimut. Mereka sama sama kelelahan setelah beberapa jam memadu kasih. "Kenapa ini sangat nikmat." Ucap Riza meraba milik istrinya. "Berhentilah. Aku mau mandi." Jihan menepis tangan suaminya. "Baiklah ayo mandi bersama." Ujar pria itu memakai sarungnya kemudian menggendong tubuh ringan sang istri menuju kamar mandi.
__ADS_1
Riza hari ini tidak bekerja memilih untuk pergi ke rukonya. Pria itu langsung masuk ke dalam ruangan setelah bertegur sapa dengan para karyawannya sejenak. Ia duduk di sofa. Hembusan napas tampak keluar dari mulutnya untuk melepaskan sedikit beban. Ia merasa rendah diri karena istrinya lebih dalam segala hal. Meskipun Jihan tak mempermasalahkan tapi tetap saja Riza sebagai seorang suami menjadi tak enak. Semua aset, kebutuhan anak dan segala keinginan anak dan keluarga selalu tercukupi oleh wanita itu. Sedangkan Riza apa? Mencukupi pendidikan ketiga anaknya saja masih di bantu Jihan. Si kembar dan Juma bersekolah di sekolah internasional. Bukan Ayah atau Ibunya yang memaksa namun itu semua karena kemauan mereka sendiri. Tentu bersekolah di sana tidaklah murah. Gajinya dan penghasilan ruko tak akan mungkin cukup. Belum lagi jika mereka liburan, umrah, haji atau mengadakan suatu acara pasti semuanya di tanggung oleh Jihan. Karir yang cemerlang, Cantik dan berbakat. Istrinya begitu sempurna. Sedangkan dia apa? Hanya pria sederhana yang hidup menumpang dan beruntung mendapatkan istri kaya.
__ADS_1
Malam hari. Jihan sedang bersiap untuk pergi ke acara di pondok pesantren bersama keluarga. "Mas. Ini baju Koko kamu." Ucap Jihan menghampiri suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Riza hanya mengangguk kemudian meraih baju itu dan segera memakainya. "Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Jihan melihat sikap Riza yang aneh. "Aku nggak papa." Jawabnya singkat tak seperti biasa. "Mas. Jumat sama Sabtu nanti aku ke Bali. Mau survey tempat disana. Boleh?" Jihan meminta izin. "Boleh." Jawab Riza. "Makasih Mas." Wanita itu memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Ayo turun. Anak anak sama Papa pasti sudah nunggu." Ajak Jihan menggandeng tangan Riza.
__ADS_1