
Pergi hari Jihan dan keluarga kecilnya sudah sampai di rumah Papa. "Hey...Jangan lari lari nanti jatuh." Tegur Jihan melihat kedua anaknya langsung melesat pergi begitu turun dari mobil. "Assalamualaikum kakek." Keduanya girang memasuki rumah. "Waalaikumsalam. Kalian datang nggak kasih kabar." Ucap Pria paruh baya itu sambil berdiri dari duduk. "Pa." Jihan, Riza dan Mark mencium tangan Papa setelah si kembar. "Aku siapkan sarapan dulu." Ucap Wanita itu langsung pergi ke dapur untuk mengambil piring.
"Kemarin istrimu ngambek ya Za?" Tanya Papa sambil terkekeh. "Iya pa. Dia ngambek gara gara malu karena pengajian kemarin." Jawabnya sambil tersenyum. "Sudah baikan kan sekarang?" Riza mengangguk menanggapi mertuanya. "Kita nggak pernah sampai berhari hari diam diam begitu. Alhamdulillah nya kita selalu berkomunikasi dengan baik Pa." Ia berkata dengan jujur apa adanya bukan hanya karena untuk membuat sang Papa tenang.
__ADS_1
Semuanya menikmati sarapan bersama. "Jus jeruknya buat sendiri?" Tanya Papa. "Iya Pa. Seperti biasa. Kan jeruknya dari kebun Papa." Jawab Jihan sambil sibuk menyuapi kedua anaknya. "Sudah kenyang Ibu." Kata Jaffan meminta untuk berhenti di suapi. Jihan mengangguk kemudian menyuapi Putrinya. "Mau main." Pamit Jaffan buru buru keluar. "Jangan jauh jauh." Tegur Jihan. "Jalwa mau menyusul kakak." Ucapnya setelah piring yang di bawa sang Ibu kosong.
Riza membantu istrinya mencuci piring di dapur. "Ih. Kenapa sih?" Kesal Wanita itu ketika pipinya di gigit sang suami. "Minta cium Dek. Masa tidak boleh." Ia menampilkan tampang nelangsa membuat Jihan mendengus. "Kamu bukan cuman cium. Gigit juga." Ucapnya. "Yasudah lagi. Kali ini nggak pakai gigit." Riza mulai mendekatkan wajahnya namun Jihan seketika mundur. "Nggak mau." Kesalnya mencuci tangan setelah beres kemudian segera pergi.
__ADS_1
Jihan memilih beberapa cemilan dengan anak anak sementara Riza hanya mengikuti sambil membawa keranjang. "Ibu. Affan mau ini." Kata bocah itu menunjuk coklat. "Ambil. Ambil juga untuk adik." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Jangan lupa setelah makan gosok gigi." Lanjutnya lagi menasihati. "Iya Ibu."
Selesai belanja Riza menyuruh istrinya untuk keluar duluan. Ia akan membayar karna kasirnya laki laki. Pak ustadz nggak terima dong istrinya di senyumi orang lain. Mana dari mereka datang kasir genit itu selalu memperhatikan Jihan.
__ADS_1
"Ayo." Riza menggandeng tangan istrinya sambil membawa belanjaan mengikuti anak anak yang sudah jalan duluan. "Pacaran setelah nikah itu enak ya Dek. Bisa gandengan, ciuman, dapat pahala lagi." Ucapnya mengeratkan tautan jemarinya pada sang istri. Senyum bahagia tak luntur dari bibir pria itu. "Jangan senyum senyum." Ucap Jihan menegur. "Biarin." Riza langsung mengecup pipi sang istri. "Nggak tau tempat. Ini jalan umum. Lihat orang orang ngeliatin kita." Geram Jihan kesal. "Kalau cemberut begitu Mas malah pengen cium lagi." Ucapnya menggoda membuat Jihan tambah kesal dibuatnya.