
Riza dan keluarga sudah sampai di Jogja sekitar setengah jam yang lalu. "Jason sama Julian tidur satu kamar. Jalwa tidur di kamar pojok itu. Juma tidur sama kak Jaffan." Riza mengatur tempat untuk anak anaknya. "Nggak mau Yah. Juma tidur sama Ibu." Jawabnya protes. "Ayah yang nggak mau tidur sama kamu. Kamu kalau tidur nggak bisa tenang." Kata Riza mencari alasan.
"Ada apa sih ribut ribut?" Tanya Jihan baru kembali dari dapur. "Ayah suruh Juma tidur sama Kak Jaffan. Juma kan pengen tidur sama Ibu." Jawab Juma mengadu. "Juma kalau tidur nggak bisa tenang Dek. Terganggu aku." Riza tak mau kalah melakukan pembelaan. "Sudah. Nggak ada yang boleh tidur sama Ibu. Ibu tidur sendiri." Putus Jihan tak berpihak pada anak ataupun suaminya. "Ibu." Keluh Juma. "Kok gitu Dek." Riza ikut ikutan protes. "Jangan mengeluh. Mending pada mandi. Makan siangnya sudah siap." Perintahnya langsung di turuti.
Julian menghampiri Mamanya di dapur. Remaja itu mencomot rendang yang sudah tersaji di piring. "Auh panas." Keluhnya sambil mengibaskan tangan di depan mulut. "Hati hati dong." Jihan bergegas memberi minum. "Kamu daritadi belum mandi juga." Lanjutnya menatap putranya sambil menghela napas. "Masih antri Ma." Jawab Julian. "Kok bisa antri. Kamar mandi ada dua." Jawab wanita itu kemudian pergi untuk melihat situasi.
__ADS_1
"Kenapa nggak pakai kamar mandi yang satunya?" Tanya Jihan melihat Jaffan dan Jason mengantri di depan satu kamar mandi. "Di pake Ayah daritadi belum keluar." Jawab Jaffan. Jihan berdecak, wanita bergegas melangkah ke kamar mandi yang sedang dipakai suaminya. "Kamu mandi lama banget Mas. Anak anak pada nunggu tuh. Masa dari aku selesai sampai sekarang baru kelar. setengah jam tau." Omel Jihan melihat suaminya keluar. "Maaf Dek." Jawab Riza sambil tersenyum
Jihan makan sambil menyuapi anak anak dan suaminya juga. "Mas. Pasar buka kan? Mau belanja buat isi kulkas." Tanya wanita itu di jawab anggukan oleh suaminya karena masih mengunyah. "Kenapa nggak di swalayan aja Ma?" Tanya Julian. "Jauh. Satu jam perjalanan dari rumah." Jawab Riza. "Memangnya kamu nggak capek Dek? Belanja besok saja ya." Lanjutnya karena sedaritadi istrinya belum istirahat. "Nggak. Nggak cepek kok." Jawab Jihan melanjutkan menyuapi.
Riza menghampiri istrinya yang sedang menemani Juma tidur. "Dek. Kamu cepak nggak? Kalau enggak kita belanja sekarang." Ucapnya sambil berbisik. "Nanti Juma bangun nangis nggak ada aku." Jawab Jihan. "Sudah biasa nangis. Ayo." Ajaknya. Wanita itu mengangguk kemudian segera turun dari ranjang pelan agar putranya tidak terbangun.
__ADS_1
"Mau dimasakin apa?" Tanya Jihan saat sampai di pasar. "Sayur asem, Sambal teri, tempe tahu goreng, ayam goreng sama bakwan jagung." Jawabnya cepat. "Banyak mau..." Kata Jihan di tanggapi senyuman oleh suaminya. "Kan istriku pintar masak, Cantik dan baik lagi." Ucapnya mulai menggobal. "Jangan cium cium. Nggak tau tempat apa ya." Ia mencubit lengan suaminya saat pria itu mendekatkan wajah.
"Mama darimana?" Tanya Jason membantu Ayahnya membawa belanjaan. "Dari pasar. Juma sudah bangun?" Jason menggeleng. "Belum ada suaranya. Paling masih tidur." Jawabnya sambil terkekeh.
Jihan masak di dapur di bantu putrinya. "Tumben masak sayur asem Bu." Kata Jalwa. "Ayah yang minta." Jawab Jihan sambil meniriskan ayam yang sudah dimarinasi. "Ibu." Juma datang memeluk Ibunya. Rambut bocah tampan itu masih acak acakan kentara jika baru bangun tidur. "Minta susu dingin." Ucapnya. "Iya. Minumnya duduk disana. Ibu mau goreng ayam nanti kamu kecipratan minyak." Jawab Jihan langsung mengambilkan susu anaknya di kulkas.
__ADS_1
Semuanya berkumpul setelah makan malam. "Ibu. Besok bikin sayur asem lagi ya." Kata Julian ketagihan. "Katanya nggak suka sayur." Jaffan menyindir. "Sayur asem Ibu enak." Jawabnya sambil tersenyum. "Iya. Besok Ibu masakin." Jihan mengangguk menuruti keinginan putranya. "Sini Ibu kupaskan." Lanjut wanita itu melihat Juma kesulitan mengupas salak. "Ibu. Ibu dulu kenal Ayah bagaimana?" Tanyanya sambil menguyah daging salak yang di suapkan sang Ibu. "Coba tanya Ayah." Jawab Jihan. "Ayah. Ayah dulu kenal Ibu bagaimana?" Tanya Juma menatap Ayahnya yang sedang bersandar di bahu Jihan. "Di kenalkan." Jawab Riza singkat. "Kok Ibu mau?" Tanya Juma membuat Jihan mengernyitkan kening. "Kok mau bagaimana?" Riza menyahuti putranya dengan cepat. "Ayah kan sudah tua." Jawab Bocah itu membuat Riza membulatkan mata. Ingin sekali Ia mencubit bibir putra bungsunya itu. "Tua juga Ayah tetap Ayah Juma. Juma harus hormat. Juma sayang Ayah kan?" Tanya Jihan. "Sayang." Jawabnya singkat sambil sibuk makan. "Kalau sayang Ayahnya di cium." Juma mengangguk. Bocah tampan itu malah mencium pipi Ibunya. "Ayah Jum. Bukan Ibu." Jaffan jadi gemas sendiri. "Ibu dulu baru Ayah." Jawab Juma kemudian mengecup singkat pipi Ayahnya setelah mencium Ibunya berkali kali. "Ayah senang?" Tanya Jihan. "Biasa saja. Orang aku dapat sisa." Jawab Riza membuat Jihan tertawa. "Kalau nggak dapat sisa Ayah senang?" Juma menggoda Ayahnya. "Nggak juga. Enakan cium Ibu." Kata Pria itu mencium pipi Jihan beberapa kali membuat Juma kesal.