Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Permintaan Bunda


__ADS_3

Jihan sampai rumah bergegas menyiapkan baju kemudian pergi ke dapur untuk memasak sarapan. "Papa bantu." Ucap Pria paruh baya itu menghampiri putrinya. "Nggak usah pa. Ini sudah hampir selesai kok. Itu susu sama Vitamin Papa di meja diminum dulu." Ucapnya. "Cari ART sana biar nggak kerepotan." Papa memberi saran. "Sudah Riza tawari berulang kali Pa. Tapi nggak mau." Kata Pria itu mengambil jus jeruk dari kulkas untuk membantu istrinya menyiapkan di meja makan.


Semuanya sudah berkumpul. Mereka menikmati sarapan dengan santai karena ini masih sangat pagi. "Kamu habis ini ke rumah Bunda Dek?" Tanya Riza. "Iya. Habis antar anak anak aku langsung kesana. Nanti malam kan masih ada acara tahlilan. Papa nggak masalah di rumah sendiri?" Tanya Jihan. "Enggak. Papa nanti mau ke perkebunan. Disana banyak yang harus di urus. Nanti malam Papa datang ke tahlilan." Jawabnya.


Jihan menghentikan mobilnya di depan sekolah si kembar. "Jangan nakal ya. Berteman yang baik. Nanti Ibu jemput." Ucapnya memberi pesan. "Siap Ibu. Kita turun dulu. Assalamualaikum. Sayang Ibu." Keduanya berpamitan sambil mengecup pipi wanita cantik itu. "Waalaikumsalam. Ibu juga sayang kalian." Balas Jihan sambil memeluk keduanya.

__ADS_1


Jaafar berlari menghampiri adiknya yang baru datang. Pria itu langsung memeluk Jihan dengan erat. "Lepasin. Bikin aku ngap aja." Ucapnya. "Maaf." Ia tersenyum kemudian menggandeng tangan adiknya untuk diajak masuk.


"Dek." Bunda dan Ayah memeluk Jihan. Sepertinya sepasang suami istri itu sedikit kurang rasa dukanya. "Terimakasih mau datang." Ucap Pria itu sambil tersenyum pada putrinya. "Hm." Jawab Jihan Singkat. "Makanan untuk acara tahlilan nanti biar di antar dari restoran aku. Kemungkinan nanti sore datang." Ucapnya. "Terimakasih." Bunda memeluk putrinya lagi.


Tak terasa sudah jam 10. Itu artinya waktu anak anak pulang sekolah. Jihan mencuci tangannya bersiap untuk menjemput di kembar. "Mau kemana Dek?" Tanya Jaafar. "Mau jemput anak anak. Ini kan sudah waktunya pulang." Jawab wanita itu. "Biar kakak yang jemput kamu disini saja." Ucapnya bergegas pergi padahal Jihan kan belum menjawab. "Jaafar mau kemana?" Tanya Bunda menghampiri putrinya. "Mau jemput anak anak." Jawab nya sambil duduk. "Mau ya temani Bunda sama Ayah disini." Ucapnya sembari menggenggam tangan Jihan.

__ADS_1


Sampai di rumah Jihan langsung mengganti pakaian Jalwa dan memasang plester demam di kening gadis kecil itu. Ia kembali lagi menghampiri anak anak di kamar setelah beberapa saat keluar. "Kakak." Jihan terkejut melihat Jaafar sudah berada di kamar Si kembar. "Sini biar aku yang suapi Jalwa. Kamu suapi Jaffan." Ucapnya. "Mau sama Ibu " Kata Keduanya kompak. Pria itu hanya bisa mengangguk tak mau memaksa. Jihan menaiki ranjang. Ia membantu Jalwa minum obat kemudian menyuapi kedua anaknya bergantian.


Riza baru pulang langsung berganti baju dan menghampiri istrinya yang sedang menemani anak anak tidur. "Sudah turun panasnya?" Tanya Pria itu berbisik. "Sudah." Jawab Jihan. "Kamu makan gih. Sudah ada di meja makan. Mark sama Papa tadi sudah makan." Ucapnya. "Nanti. Mau tidur dulu." Jawab Pria itu tidur di belakang istrinya sambil memeluk dengan erat.


Malam hari tiba. "Kamu nggak Papa aku pergi tahlilan?" Tanya Riza pada istrinya yang sedang menggendong Jalwa. Seperti biasa gadis kecil itu selalu manja dan rewel ketika tidak enak badan. "Nggak papa. Ada Mark di rumah. Kamu sama Papa berangkat saja." Ucapnya. "Jalwa turun. Kasihan Ibu." Tegur Riza namun putrinya itu semakin mengeratkan kedua lengannya di leher Jihan. "Sudah biarkan. Kamu berangkat gih sama Papa. Nanti telat." Ucapnya. "Kita berangkat dulu Sayang. Assalamualaikum." Riza berpamitan mengecup pipi dan kening istrinya diikuti sang mertua.

__ADS_1


Jihan menghampiri adiknya yang sibuk nonton setelah memastikan suami dan Papanya berangkat. "Kok tiba tiba hujan ya. Perasaan tadi cerah cuacanya." Ucap Jihan. "Memasuki musim penghujan kak." Jawabnya sambil menyenderkan kepala di bahu Jihan. Wanita itu terbelenggu. Sedang memangku Jalwa. Di kanannya di peluk oleh Jaffan dan di sisi kiri ada Mark yang bersandar. "Ayo ke kamar saja. Hujannya makin deras ada kilatnya juga." Ajak Jihan pada anak anak.


Mark menemani kakaknya yang tidur bersama si kembar. Pemuda itu ikut berbaring di posisi paling samping setelah menutup gorden kamar. "Waktunya kamu bahagia kak. Jangan ada duka lagi. Terimakasih sudah menjadi seorang kakak dan pengganti orang tua untukku. Kamu sangat baik. Sekarang giliran aku yang akan menjaga kakak." Ucapnya ikut memejamkan mata.


__ADS_2