Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Pasti Enak


__ADS_3

Seperti yang diperkirakan, Jihan dan keluarga kini sudah sampai di rumah karena Juma merengek minta pulang dari semalam. "Casper senang?" Tanya Julian menggoda adiknya yang berjalan sambil menggandeng tangan sang Ibu. Tak menjawab Juma malah menjulurkan lidahnya lalu memalingkan wajah. "Juma mandi ya. Ibu juga mau mandi." Bocah tampan itu mengangguk patuh atas perintah Ibunya dan bergegas pergi. "Ma, besok cafenya di renovasi. Mama bisa ikut datang nggak buat lihat?" Tanya Jason yang berdiri di belakang adiknya. "Bisa. Sekalian besok mampir ke dokter gigi buat antar Juma cek rutin." Jason dan Julian mengangguk kemudian memeluk wanita itu. "Makasih Ma." Ucapnya. "Sama sama. Mama mau mandi dulu." Jawab Jihan bergegas pergi setelah mengusap lembut kepala keduanya.


"Biar Dika saja Yah." Kata Dika mengambil alih kardus yang di bawa Ayahnya. "Hati hati. Berat lo itu." Ucap Riza. Remaja itu mengangguk kemudian berjalan beriringan dengan Sang Ayah yang membawa tas milik Jalwa. "Habis ini kamu mandi langsung istirahat ya. Ayah juga mau mandi." Riza bergegas menaiki tangga setelah mendapat jawaban dari putranya.


"Astagfirullah." Ucap Jalwa terkejut saat membuka pintu tiba tiba sudah ada Ayahnya. "Ibu mana?" Tanyanya. "Lagi mandi." Jawab gadis cantik itu. "Ini tas kamu. Oleh olehnya di bagikan ya. Yang di kardus ruang tengah itu." Jalwa mengangguk. "Iya Yah. Makasih tasnya udah di bawain." Ia tersenyum. "Kebiasaan main tinggal tinggal aja." Gerutu Pria itu menanggapi putrinya.

__ADS_1


Riza buru buru masuk ke dalam kamar. "Katanya mandi." Pria itu menghampiri istrinya yang masih berbaring di ranjang dengan pakaian yang sama. "Sebentar. Tadi habis angkat telpon dari Carissa." Jawab Jihan segera duduk. Riza tersenyum lalu menggendong tubuh ringan Jihan. "Ayo mandi bareng." Ucapnya sembari mengecup bibir lembab wanita cantik itu.


Riza sedang memilihkan pakaian untuk sang istri. Ia akan melayani segala keperluan Jihan. Pria itu melihat lihat Daster dan gamis pemberiannya juga sudah tergantung rapi di antara baju baju yang lain. Jihan menunggu dengan masih menggunakan bathrobe sambil beberapa kali menguap. "Pakai yang ini saja." Putus Riza mengambil satu daster berwarna baby blue pemberiannya. Tanpa banyak bicara Ia segera membantu istrinya berpakaian. "Mas ganti dulu. Kamu tunggu ya. Habis ini kita tidur." Ucap pria itu setelah selesai mengurusi sang istri.


Juma memasuki kamar kakaknya. Ia sudah mencari Ibunya di semua tempat tapi tidak menemukan. "Ibu dimana?" Tanyanya mengguncangkan bahu Jaffan yang tidur sambil tengkurap. "Nggak tau. Cari di kamar Ibu." Jawab remaja tampan itu masih dengan mata tertutup. "Di kunci." Juma ikut naik ke ranjang dan tiduran di samping kakaknya. "Barti Ibu sedang tidur. Jangan di ganggu. Kamu tidur juga." Ia memeluk adiknya. "Mau tidur sendiri." Jawab Juma menyingkirkan lengan kakaknya dan bergegas pergi.

__ADS_1


"Ibu." Juma langsung naik ke ranjang memeluk Ibunya. "Ibu tidur tanpa Juma." Ucapnya sambil cemberut. "Ibu ketiduran. Kenapa tidak menyusul?" Tanya Jihan. "Pintunya di kunci." Jawab Juma membuat Jihan menghela napas. "Juma sudah sholat?" Bocah tampan itu mengangguk. "Yasudah Ibu sholat dulu." Jihan turun dari ranjang bergegas ke kamar mandi untuk wudhu.


"Ustadz." Bibi terkejut dengan kedatangan Riza yang tiba tiba. "Ustadz mau sesuatu? Saya bikinkan." Lanjutnya. "Nggak Bi. Saya mau bikin spaghetti untuk istri. Saya mau masak sendiri. Bibi tau bahannya yang mana?" Tanyanya. "Tau ustadz. Saya siapkan. Ada petunjuk gimana cara bikinnya juga. Kalau mbak Jihan sukanya di kasih parutan keju." Jawab Bibi kemudian segera menyiapkan bahan bahannya.


"Belum jadi Dek." Kata Riza melihat kedatangan Jihan yang menggandeng tangan putra bungsunya. "Mau di bantu?" Tawar wanita itu langsung di tolak suaminya. Jihan mengangguk segera mengambil minum dan potongan buah buahan dari kulkas untuk dimakan bersama Juma. "Dika." Panggil Jihan lalu mengajak putranya itu untuk duduk bersama. "Kamu nggak tidur siang?" Tanyanya. "Tidak Bu. Dika tidak mengantuk." Jawab remaja itu. "Kakaknya coba di tawari." Kata Jihan. Tak menjawab Juma mengambil garpu dan memberikannya pada Dika. "Makan." Ucapnya singkat di tanggapi senyuman oleh remaja itu.

__ADS_1


Riza penuh percaya diri menyajikan sepiring spaghetti di depan istrinya. "Cobain Dek. Itu masakannya penuh cinta kasih." Ia menggulung spaghetti yang tampak biasa itu dengan garpu lalu menyuapkan pada istrinya. "Gimana?" Tanya Riza. "Enak. Orang ini spaghetti instan. Kan sudah ada bumbunya." Jawab Jihan. "Iya sih. Tapi mbok ya usaha suaminya di apresiasi pakai ciuman gitu." Ucapnya menyindir. Jihan mengangguk segera mengecup pipi suaminya. Ia meraih garpu itu dari tangan Riza dan makan sendiri sambil menyuapi Juma dan Dika. "Ini pertamakalinya kamu makan begini ya Dik?" Tanya Jihan melihat ekspresi Dika yang tampak asing. "Iya Bu." Jawabnya. "Enak?" Tanya Riza di angguki oleh Dika. "Ih Ayah. Sudah dibilang ini kan spaghetti instan jadi pasti enak kalau sampai nggak enak berarti Ayah keterlaluan." Sahut Juma membuat Riza mendengus sebal.


__ADS_2