Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Untung Sabar


__ADS_3

Jihan sedang berada di cafe bersama keempat anaknya. Wanita itu berdiskusi dengan beberapa pekerja untuk menentukan tema dan segalanya karena Jason dan Julian menyerahkan semuanya pada sang Mama. "Jadi warnanya di buat perpaduan abu abu muda dan putih saja. Kalau hitam akan gelap karena di sini banyak pepohonan di luar jadi pencahayaan tidak maksimal. Untuk perabotannya sudah saya sesuaikan tinggal disusun saja sesuai dengan desain." Kata Jihan sambil menyerahkan kertas denah ruangan. "Baik Mbak." Jawab mereka. "Oh iya. Nanti makan siangnya akan diantar sama karyawan saya." Mereka mengangguk kemudian segera bekerja setelah mengucapkan terimakasih.


"Kita langsung pulang Ma?" Tanya Jason yang sedang menyetir. "Kalian mau kemana?" Tanya Jihan menawari. "Ke toko dulu." Jawab Juma begitu bersemangat. "Mau beli apa?" Tanya Julian menoleh ke belakang tempat adik dan Mamanya duduk. "Beli coklat dan kacang." Jawabnya. "Boleh ya Bu." Ia menatap Jihan dengan puppy eyes nya. "Boleh." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Kalau Dika mau apa?" Lanjutnya menawari. "Tidak Bu." Ia menggeleng pelan menanggapi Ibunya. "Mau pizza Ma." Jason menyahuti. "Tapi bikinan Mama lebih enak." Lanjutnya sambil terkikik. "Pulang nanti Mama bikinkan." Jawab Jihan. "Kami bantu Ma. Ya meskipun nggak terlalu ngerti. Urusan ambilin ini itu bisa lah." Kata Julian sambil tertawa.

__ADS_1


Jihan membebaskan anaknya memilih coklat dan kacang yang diinginkan. "Habis segini banyak?" Tanya Jason yang sedang membawa keranjang penuh aneka coklat dan kacang sembari mengikuti adiknya yang paling kecil itu. "Habis. Sama giginya sekalian." Celetuk Julian. "Tidak. Juma gosok gigi terus selesai makan." Jawabnya. "Dika jangan diam saja. Mau yang mana?" Tawar Jihan. "Tidak usah Bu." Ia menolak Ibunya secara halus. "Sini. Ibu tunjukkan ke kamu coklat enak." Jihan menggandeng tangan Dika ke rak sebelah kanan tempat mereka berdiri. "Yang ini enak. Ada kacang almond nya." Wanita itu mengambil satu untuk tester lalu menyuapkannya pada Dika. "Enak kan?" Tanyanya. "Enak." Jawab Dika sambil mengangguk. "Ma. Ayo segera pulang. Ayah sama Jaffan sudah telpon terus sedaritadi." Ajak Jason.


Riza langsung memeluk istrinya saat wanita itu baru saja turun dari mobil. "Lama banget." Keluhnya. "Masih mampir beliin Juma coklat. Lihat di bagasi. Penuh tuh." Jawab Jihan. "Segini banyak Yah." Ucap Julian menenteng dua kresek besar. "Kalau yang ini punya Mama. Mama juga jajan di minimarket beli makanan ringan tadi." Jason menunjukkan belanjaan Mamanya yang tak kalah heboh. "Tidak usah mengeluh Juma beli banyak. Ibunya juga begitu." Ucap Riza mencubit hidung mancung istrinya.

__ADS_1


"Jihan, memang benar benar keterlaluan kamu. Bilangnya jam 8 sampai sekarang jam 11 belum datang juga, kemana saja kamu? Untung saja aku masih terima pasien meskipun ada janji sama kamu. Mau ketemu kamu aja harus tunggu momen kaya gini. Aku udah seneng banget kamunya malah nggak datang." Omel seseorang saat panggilan terhubung membuat Jihan sedikit menjauhkan ponselnya. "Duh.. Maaf Kak. Lupa. Tadi masih ribet. Serius lupa aku. Jangan marah ya." Bujuknya. "Apa apaan begitu. Nggak bisa. Aku tetep marah pokoknya." Jihan menghela napas. "Aku traktir makan malam deh habis periksa gigi Juma nanti." Ia tetap berusaha. "Ok. Kalau sampai nggak datang lagi awas kamu." Jihan mengangguk kemudian segera mengakhiri panggilannya. "Padahal aku sudah pasang pengingat tapi nggak lihat." Gumamnya. "Kamu kebiasaan sih nggak lihat HP. Suami sama anak telpon saja nggak diangkat. Baru tau juga kalau sampai rumah. Ya Allah, untung sabar." Kata Riza menghela napas melihat kelakuan istrinya yang kadang lebih absurb dari Juma.


Semuanya sedang berkumpul menikmati pizza yang beberapa saat lalu matang. "Dek." Riza baru dari depan untuk melihat siapa yang datang langsung duduk di samping istrinya. "Yeay...Ayam geprek aku datang." Jihan girang melihat dus makanan yang di bawa Sang suami. "Kamu, Mas kan sudah bilang jangan makan pedes. Ini malah beli ayam geprek segala." Kata Riza heran dengan istrinya yang susah dibilangin. "Terlanjur beli Mas. Masa nggak dimakan. Mubazir." Jawab Jihan. "Biar Mas kasih ke Pak Ali kalau nggak mau mubazir." Riza berdiri. "Eh ya jangan dong. Aku pengen." Jihan memegangi lengan suaminya. "Pedes ini. Kamu punya asam lambung." Ia tetap tak mengizinkan. "Ayolah Mas." Rengek Jihan. "Boleh makan tapi sambalnya di buang. Mas suapi." Ucap Pria itu duduk kembali.

__ADS_1


Riza mulai menyuapi istrinya dengan telaten. Pria itu benar benar tidak menggunakan sambal sama sekali karena takut perut istrinya akan sakit. "Hambar Mas. Kasih sambel dikit aja kenapa sih." Keluh Jihan. "Nanti perut Ibu sakit." Kata Juma yang duduk di samping Ibunya. "Sedikit tidak masalah." Jihan menatap suaminya . "Sedikit saja." Sesuai dengan permintaan sang istri Riza menambahkan sedikit sambal lalu lanjut menyuapi Jihan.


__ADS_2