
Jihan masih duduk di kursi rodanya menatap ke arah halaman belakang yang begitu indah dari balkon. Kondisinya yang seperti ini membuat Ia tak bisa melakukan apa apa. "Ayo mandi." Ucap Riza mengecup kening istrinya dengan sayang. "Malas mandi." Jawab Jihan sambil menunduk. "Tumben sekali malas mandi. Ayo mandi, airnya sudah siap. Sudah bau acem begini." Candanya sambil terkekeh padahal bau istrinya tetap wangi seperti biasa.
Sarapan pagi sedang berlangsung. Jihan sudah berpindah duduk di kursi. "Mau pakai apa?" Tawar Riza yang akan menyiapkan makan untuk istrinya. Wanita itu menggeleng pelan. Ia benar benar tak berselera makan. "Ibu harus sarapan. Kan Ibu harus minum obat." Kata Jalwa. "Roti dengan selai coklat saja." Jawab Jihan setelah beberapa saat menimang nimang. "Juma buatkan, Juma buatkan." Bocah tampan itu sangat antusias mengambil roti tawar dan mengolesi dengan selai coklat. Jihan tersenyum melihat anak bungsunya itu tampak kesulitan. "Kok berlapis lapis?" Tanya Jaffan melihat adiknya menumpuk banyak roti hingga memenuhi piring. "Juma juga mau." Jawabnya. "Makasih sayang." Jihan mengecup pipi Juma yang sudah di dekatkan bocah itu ke bibirnya. "Sama sama Ibu." Jawabnya membalas ciuman sang Ibu.
Semuanya tersenyum memperhatikan Jihan dan Juma yang makan berdua seperti anak kecil. "Kalian berdua ini belepotan." Ucap Papa sambil menghela napas melihat tingkah anak dan cucunya. Riza hanya bisa tersenyum saja. Ia membersihkan bibir Istri dan anaknya bergantian. "Julian, Jason. Cafe kalian bagaimana?" Tanya Jihan ingin mengetahui progressnya. "Sudah 90 persen Ma." Jawab Julian sambil memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya. "Kya...Asin banget." Pekik Jason langsung minum air banyak banyak. "Rasanya kaya segumpal garam." Keluhnya sambil bergidik. "Bibi ada ada aja. Pasti aduknya nggak rata." Jihan memberikan potongan buah untuk putranya agar rasa asinnya segera hilang. "Dika balik ke pondoknya kapan?" Remaja Itu menatap Ibunya. "Nanti siang Bu." Jawabnya sambil menunduk. Berat rasanya harus berpisah dengan sang Ibu. Apalagi kondisi Jihan yang seperti ini membuatnya kepikiran. "Nanti biar Mas antar. Kamu di rumah saja." Kata Riza sembari mengusap pipi istrinya.
__ADS_1
Jihan dan suami menghampiri Dika yang sedang berkemas di kamar. "Dika. Ibu mau bicara." Remaja itu mengangguk segera menghampiri Jihan. Tak kuasa lagi membendung air mata Dika menangis sejadi jadinya. "Kenapa hm?" Tanyanya mengusap air mata Dika. Tidak menjawab Ia memeluk sang Ibu dengan hati hati. "Cerita sama Ibu." Jihan menepuk punggung Dika pelan sembari mengusapnya.
"Dika nggak mau pisah sama Ibu." Kalimat itu keluar dari mulut Dika setelah beberapa saat tenang dari tangisannya. "Katanya Dika betah di pondok." Ucap Jihan menggenggam tangan remaja itu. "Dika betah karena ingin belajar. Tapi Dika juga tidak mau pisah sama Ibu. Untuk pertama kalinya Dika merasakan mempunyai seorang Ibu dan keluarga. Dika senang bisa merasakan seperti apa yang orang lain rasakan." Jawabnya sesenggukan. Jihan tersenyum mengusap pipi putranya dengan lembut. "Dika kan mau belajar banyak. Dika pasti bisa. Sudah jangan sedih. Kalau Dika kangen Ibu bisa telpon atau pulang kalau sedang libur. " Ucap Jihan menenangkan putranya. "Carilah ilmu sebanyak banyaknya Dik. Belajar itu tidak ada habisnya bahkan sampai ajal menjemput. Kamu masih muda dan ingatan kamu masih sangat baik. Pergunakan dengan maksimal." Tutur Riza memberi wejangan.
Riza baru pulang menghampiri istrinya yang sedang berkumpul bersama anak anak. Pria itu memberi kecupan sambil mengusap kepala Jihan kemudian ikut duduk di sofa. "Tidur dia." Ucap Riza melihat Juma begitu pulas di sofa sambil menggenggam tangan Ibunya. Pria itu dengan usil melepaskan tautan jemari Juma yang menyatu dengan tangan sang istri. "Kenapa tidur juga harus begini." Gumam Riza tak terima dan berusaha melepaskan dengan hati hati. "Alhamdulillah." Ucapnya berhasil kemudian Ia menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
"Mau yang mana?" Tanya Riza saat sudah sampai di depan tempat penyimpanan eskrim. "Yang coklat kacang." Jihan mengarahkan jari telunjuknya ke pilihan eskrim yang Ia mau. "Yang kecil saja." Ucap Riza. "Yang besar. Mau yang besar." Kata Jihan belum puas jika harus makan yang kecil.
Riza dan membawa istrinya ke kamar. Pria itu mendudukkan Jihan di ranjang dengan hati hati. "Pelan pelan Dek. Astagfirullah." Ucap Riza melihat istrinya makan eskrim begitu lahap. Ia sendiri sampai ngilu membayangkannya. "Kamu kalau sudah begini malah kaya adiknya Juma." Riza tersenyum lalu membersihkan sudut bibir Jihan dengan lembut. "Sudah habis. Cepat sekali." Tanpa sadar hanya dalam waktu singkat eskrim sudah habis. "Kamu yang suapi kenapa terkejut begitu." Jihan tersenyum menatap suaminya.
"Ayo tidur siang dulu." Riza membantu istrinya berbaring. "Sudah nyaman? Kakinya perlu di ganjal tidak?" Tanyanya memastikan. "Sudah nyaman. Tidak perlu diganjal." Jawab Jihan. Riza mengangguk ikut berbaring setelah mencium seluruh wajah istrinya dengan hati hati. "Jangan terluka lagi." Ucapnya sambil mengusap pipi Jihan dengan lembut.
__ADS_1