Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Kekurangan Riza


__ADS_3

Jihan sedang duduk bersantai sambil membaca majalah di ruang keluarga. Wanita itu sedaritadi membolak balikkan lembar demi lembar. "Membosankan." Gerutunya karena saat memutuskan tidak bekerja kehidupannya begitu monoton. "Kenapa?" Tanya Papa menghampiri Putrinya. "Bosen Pa. Nggak ada kegiatan apapun." Jawab Jihan sambil menghela napas. "Baru juga jadi pengangguran dua bulan aja sudah mengeluh. Gimana kamu jadi Ibu rumah tangga kaya orang orang itu." Papa terkekeh. "Pasti sangat membosankan. Bangun tidur masak, siapin ini itu, olahraga, masak lagi, jemput anak sekolah. Gitu terus diulang ulang setiap hari." Papa berdecak. "Jangan lupakan kamu juga banyak jalan jalan." Tegurnya mengingatkan. "Hehe...Iya sih. Tapi sama aja ah Pa." Kata Jihan hanya di tanggapi gelengan oleh Pria tua di sampingnya.


"Ayah." Juma terkejut melihat Ayahnya yang datang. "Ibu mana? Kok Ayah yang jemput Juma." Tanyanya. "Ibu sedang ada perlu makannya suruh Ayah jemput kamu. Ayo pulang." Ajaknya. "Tunggu Yah. Juma mau pipis dulu. Ayah tunggu sini." Riza hanya mengangguk kemudian duduk di bangku taman.


Lama menunggu Juma belum kembali juga. "Astagfirullah. Kemana anak itu." Gemasnya sudah lima belas menit menunggu namun si bungsu belum kembali juga. "Ayo Yah." Juma menghampiri Ayahnya. "Kamu kok lama banget." Riza berdiri. "Sekalian ambil bola Juma yang ketinggalan di kelas. Eh ada yang ngajakin ngobrol." Jawabnya. "Ada ada aja kamu. Ayo pulang." Ajaknya menggandeng tangan putranya. "Nggak usah gandeng Yah. Aku udah besar." Keluhnya. "Eh..Begitu ya kamu. Kalo sama Ibu aja maunya di gandeng terus." Juma mendongak menatap Ayahnya. "Beda rasa Yah." Jawab Juma membuat Riza berdecak.

__ADS_1


Riza dan Juma sampai di rumah. Pria itu menghampiri semuanya yang sedang berkumpul namun Istrinya tidak ada. "Ibu mana?" Tanyanya. "Ibu belum pulang. Lagi ke pasar beli singkong. Mau bikin gethuk katanya." Jawab Jaffan. "Ih. Kok nggak bilang bilang." Gerutu Riza.


"Assalamualaikum." Suara Jihan terdengar. "Waalaikumsalam." Jawab mereka. "Kamu darimana sih Dek?" Tanya Riza menghampiri Istrinya. "Dari Pasar beli singkong." Jawabnya. "Mau ke dapur dulu ya." Pamitnya namun segera di cegah oleh Riza. "Biar Bibi aja yang bikin." Kata Riza menggandeng tangan istrinya untuk segera diajak pergi.


Pria itu dengan semangat mencumbu tubuh Istrinya yang beberapa hari tidak Ia jamah. Suara cecapan memenuhi ruangan mewah itu. "Mas masukkan Dek." Kata Riza menerobos milik istrinya. Pria itu mulai menggerakkan pinggulnya pelan begitu menikmati penyatuan yang menggairahkan.

__ADS_1


Baru beberapa menit berlalu Riza sudah mengeluarkan cairannya. "It's ok Mas." Ucap Jihan menenangkan suaminya. Riza merasa payah. Pria itu menggulingkan tubuhnya berbaring di samping sang istri. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa memuaskan Jihan. "Maaf." Lirihnya begitu dalam. Masalah ranjang bukan hal sepele. Ini merupakan hal yang bisa menjadi faktor dari keutuhan rumah tangga. Banyak orang yang berpisah karena merasa tidak terpuaskan dalam bercinta. Riza tak mau itu terjadi. "Nggak Papa Mas. Aku mandi dulu." Kata Jihan mengenakan pakaiannya kemudian segera pergi setelah mengecup lembut kening sang suami.


Riza masih berada di kamar Ia tak bergabung dengan yang lain. Pria itu mengamati dirinya di depan cermin. "Kenapa semua yang aku lakukan tidak membuahkan hasil." Gumamnya kecewa. Padahal Ia sudah minum obat, terapi dan lainnya namun hasilnya tetap sama. Tidak ada yang berubah. Ia selalu keluar duluan, atau bisa bertahan hanya beberapa menit saja. Terlihat jelas wajah kecewa sang istri namun wanita itu tidak mengungkapkannya.


"Ayah mana Ma? Tumben nggak nempel sama Mama." Tanya Jason. "Katanya ada kerjaan tadi. lagi di ruang kerjanya." Jawab Jihan. "Ibu. Ayo liburan." Ajak Jalwa. "Kemana? Thailand, Philipina? Ibu mau di Asia saja." Jason tersenyum kemudian menidurkan kepalanya di paha wanita cantik itu. "Jangan dekat dekat Ibu." Juma mulai menyebalkan lagi. "Kenapa? Ini juga Mamanya Kakak." Jawab remaja tampan itu. "Nggak boleh. Kak Jalwa, Kak Julian sama Kak Jaffan juga nggak boleh." Kata si posesif melihat ketiga kakaknya malah memeluk Sang Ibu. "Dah ah jangan ribut." Tutur Jihan.

__ADS_1


__ADS_2