
Jihan menghampiri suaminya yang sedang duduk di sofa kamar. "Kamu kenapa Mas?" Tanyanya sambil duduk. Ia merasakan perubahan Riza yang semakin hari semakin acuh padanya. "Kenapa bagaimana?" Tanya pria itu balik. Sebenarnya sudah tau apa yang dimaksud sang Istri namun Riza memilih untuk menanyakan hal itu. "Sikap kamu berubah ke aku. Apa salah aku? Ngomong dong Mas. Jangan tiba tiba begini. Aku nggak tau isi hati kamu kalau kamu nggak bicara sama aku. Kekurangan aku dimana biar aku perbaiki." Ucap Jihan mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya. "Nggak. Kamu nggak kurang apapun. Disini aku yang salah." Jawab Riza semakin membuat Jihan bingung.
Hening beberapa saat. Keduanya hanyut dalam pikiran masing masing. "Salah. Salah bagaimana?" Tanya Jihan. "Aku salah. Salah karena sebagai suami tidak bisa memberikan yang lebih. Kamu bayangin jadi aku dong Dek. Selama ini aku seperti nggak ada gunanya. Apa apa kamu yang selalu menjadi peran utama. Semuanya. Bahkan rumah sama semua keinginan anak anak kamu yang mencukupi. Fasilitas dan semua semuanya kamu dengan mudah bisa beli ini itu. Aku sebagai laki laki nggak mampu. Perannya aku disini apa? Aku kaya nggak ada fungsinya sama sekali. Bener yang dikatakan orang. Menikah itu harus setara. Kalau nggak ya begini jadinya." Jawab Riza sambil meletakkan buku yang dibacanya dengan kasar di atas meja. "Gitu ya Mas pemikiran kamu. Apa pernah aku sama kelurga aku ngrendahin kamu? Apa pernah aku mempermasalahkan gaji kamu berapa atau apa yang bisa kamu beli? Enggak. Sama sekali nggak pernah. Kenapa pikiran kamu buruk sekali. Aku nggak pernah mempermasalahkan semua itu. Kamu suruh aku biayain pendidikan anak anak dan kebutuhan rumah tangga dengan uang kamu. Ok aku turuti. Kamu suruh aku berhenti dari beberapa kerjaan aku. Iya aku nurut. Terus salahnya aku dimana? Karena aku beli apa apa pakai uang aku sendiri begitu? Mas, semuanya itu bukan maksud aku ngrendahin kamu. Sebagai suami istri kita saling menutup kekurangan satu sama lain. Kamu nggak bisa kasih lebih tapi peran kamu juga besar dalam keluarga. Terlebih di Ilmu agama. Kamu menutup kekurangan aku dan aku juga menutup kekurangan kamu. Bukankah semestinya memang begitu? Lalu kenapa kamu begini? Merasa di rendahkan sebagai suami. Kenapa kamu bawa bawa pernikahan tidak setara pula? Aku nggak pernah mempermasalahkan itu. Kamu menyesal nikah sama aku? Mas, dari dulu kalau aku nggak cinta sama kamu aku nggak mungkin bertahan sampai sekarang. Asal kamu tau Mas. Semua yang aku lakukan untuk kamu, kita dan keluarga. Tapi sayangnya kamu nggak menyadari itu. Aku bisa saja Mas ninggalin kamu. Banyak yang pria yang lebih dari kamu dengan mudah aku dapatkan. Tapi nyatanya aku tetap sama kamu kam Mas? Karena apa Mas? Karena Aku cinta dan sayang tulus sama kamu tanpa memandang apapun. Tapi kamu sepertinya masih ragu atau bahkan tidak percaya. Sampai kapan kamu akan seperti ini." Jelas Jihan panjang lebar sambil menyeka air matanya yang sudah membasahi pipi.
__ADS_1
Riza termenung dengan apa yang diucapkan sang Istri. Ia hanya bisa memandangi wanita itu yang mulai melangkah pergi meninggalkannya. Pikiran dan hatinya kini berubah dipenuhi rasa bersalah. Hembusan napas kasar tampak keluar dari mulutnya. Tak seharusnya Ia seperti ini.
"Ibu mau kemana?" Tanya Jaffan melihat Jihan membawa buru buru keluar. "Ibu mau ke rumah teman." Jawabnya. "Ibu menangis?" Tanya remaja itu mencekal tangan Ibunya. "Iya. Ibu tadi habis nonton film. Sudah, Ibu berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Kata Jihan bergegas pergi setelah Jaffan mencium tangannya.
__ADS_1
Riza mencari istrinya di rumah adik ipar, mertua, meta dan juga di cafe namun tidak membuahkan hasil. "Kemana?" Gumam Pria itu cemas karena tak berhasil menemukan sang istri. Ia memilih untuk pulang ke rumah dan menunggu sang istri.
"Bukannya ada bowling di rumahmu?" Tanya Carissa. "Ada." Jawab Jihan singkat sambil menggelindingkan bola berat itu hingga menghantam semua pin yang berada di ujung sana. "Ayo nonton." Ajak Jihan menyudahi permainannya. "Nah. Tempat nonton di rumahmu juga ada. Kenapa pengen nonton di luar?" Tanya Carissa menelisik sahabatnya. "Bawel Deh. Ayo. Tapi makan dulu lah. Aku traktir." Ajaknya menggandeng tangan wanita itu menuju salah satu restoran.
__ADS_1
Jihan dan Carissa sedang menikmati makanannya. "Sebenarnya ada apa sama kamu?" Tanya wanita itu melahap daging yang baru matang di grill. "Ouh panas." Ucapnya sambil mengibaskan tangan di depan mulut. "Ati ati." Tutur Jihan. "Hah. Sebenarnya ada apa denganmu?" Tanyanya lagi. Jihan menghela napas. Ia hanya mengatakan jika sedang ada ketegangan dengan suaminya. Namun tak menceritakan secara terperinci karena tak mau mengumbar permasalahan rumah tangga. Carissa hanya mengangguk. Ia paham bagaimana Jihan dan tak mau mengulik lebih dalam.