Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Bukan Pipis


__ADS_3

Jihan sedang berduka hari ini. Wanita itu meneteskan air mata mengingat Chester yang telah pergi untuk selamanya. Hewan peliharaannya itu sudah di kubur pagi tadi. "Sudah dek. Memang sudah kodratnya yang hidup akan mati." Ucap Riza menenangkan istrinya. Pria itu membawa Jihan dalam dekapan. "Dek. Daripada kamu sedih mending ke rumah Mas. Kita tinggal di sana bagaimana? Itung itung biar suasananya beda. Nanti kalau kamu bosen kita kembali kesini lagi." Tawar Riza membuat istrinya mendongak menatap pria itu. "Boleh." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Siang hari Al, suami dan adiknya telah sampai. Ketiganya langsing masuk dan duduk di ruang tengah. Riza memangku kaki istrinya dan mulai memijit pelan. "Nggak usah. Aku nggak capek." Tolaknya namun sang suami tidak rela dan terus melakukan kegiatannya. "Aku ngantuk." Keluh Jihan. "Tidur kak. Ini kan sudah waktunya bumil tidur siang." Kata Mark sambil terkekeh. "Iya Dek. Ayo tidur di kamar saja." Ajak Riza sembari membantu istrinya berdiri.

__ADS_1


Pukul 4 sore Riza menemani istrinya yang sedang memasak untuk makan malam. Pria itu membantu sebisanya sesuai dengan arahan sang istri. "Dek. Nanti malam ada acara pengajian di masjid depan. Kamu ikut datang temani aku ya." Kata Riza dengan nada memohon. "Pastikan Nggak ada wawancara seperti sebelum sebelumnya." Jawab wanita itu karena sangat malas jika harus di tanyai di depan semua orang yang hadir. "Iya. Janji. Jadi kamu mau datang?" Tanyanya dan Jihan mengangguk. "Makasih Dek. Cinta dan Sayang banget Mas sama kamu." Riza memeluk dan menciumi wajah istrinya. "Ih. Kebiasaan. Basah wajah aku. Awas jangan ganggu." Kesal Jihan melepaskan diri dari pelukan Riza.

__ADS_1


"Ada yang sering cariin kamu. Tetangga kamu yang bilang." Kata Jihan ketika sudah sampai di kamar. "Siapa? Zahra?" Riza malah balik bertanya pada istrinya. "Mana aku tau. Iya mungkin. Katanya kesini cari kamu." Jawab Jihan sambil duduk di sofa. "Kalau kamu punya urusan sama dia di selesaikan dong." Lanjut wanita itu sambil meraih jeruk di atas meja. "Aku nggak punya urusan sama dia Dek." Jawab Riza merebut jeruk yang dari tangan istrinya dan mulai mengupas. "Kenapa dia cari kamu kalau tidak ada urusan?" Tanyanya menelisik. "Ya enggak tau juga. Kita di kampus bertemu tapi dia juga tidak bicara apa apa. Kamu cemburu ya??" Riza menggoda istrinya. "Enggak. Cuman aku nggak mau aja dibilang perebut milik orang." Jawab Jihan menerima suapan jeruk dari suaminya. "Kenapa bilang begitu? Kamu kan istri aku. Yang ada harusnya dia yang was was karena mengganggu pria yang sudah beristri." Riza menatap istrinya yang sedang mengunyah yang terlihat begitu lucu. "Cup..." Pria itu mengecup bibir istrinya karena gemas. "Ih...Apaan sih." Kesal Jihan memunculkan ide jahil di otaknya. Ia membuka jilbab dan gamisnya hanya menyisakan tanktop dan hot pants. Jarinya dengan terampil membuka baju Koko dan sarung yang sedang di pakai oleh Sang suami. "Kenapa Dek?" Pria itu mulai was was kejadian memalukan yang lalu terulang lagi di depan sang istri. "Dek." Panggilnya menahan sesuatu ketika bibir Jihan mulai mengecupi dadanya dengan lembut. "Aku mau lihat kamu mengompol lagi." Ucap Jihan sembari duduk di pangkuan suaminya. Jihan mengalungkan lengannya di leher Riza dengan bibir yang masih aktif di dada pria itu. "Yah...Kamu basah lagi Mas." Ucap Jihan merasakan rembesan di boxer Riza. "Ini bukan pipis Dek." Ucap pria itu menatap istrinya dengan wajah lemah. "Lalu?" Jihan kebingungan. "Ini....." Riza bingung bagaimana bicara menjelaskannya.

__ADS_1


__ADS_2