Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Pinjam Bahu


__ADS_3

Pagi hari truk kontainer memasuki halaman rumah Jihan bertepatan dengan wanita itu yang sedang mengantar suaminya sampai ke depan. "Pesanan atas nama Mbak Jihan." Ucap beberapa orang turun. "Iya pak. Pindahkan langsung ke dalam ya." Ucap Wanita itu sambil tersenyum. Mereka semua mengangguk kemudian segera menurunkan barang barang. "Mas berangkat dulu. Kamu jangan kecapean di rumah. Nanti kalau ada apa apa telpon." Tutur Riza.m sembari mengecup kening istrinya dengan lembut. "Iya." Jawab Jihan mencium tangan sang suami. "Assalamualaikum." Kata Pria itu. "Waalaikumsalam." Riza mulai menuruni tangga menuju mobilnya. Ia sedikit was was karena takut para pekerja laki laki itu menggoda istrinya. Tapi sebisa mungkin menahan diri agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.


Semua barang sudah berada di dalam rumah. "Ini bonus. Untuk uang barangnya saya sudah transfer." Kata Jihan memberi masing masing beberapa lembar uang ratusan ribu. "Mbak. Nggak perlu. Kami sudah di gaji Bos." Kata Mereka tidak enak karena memang ini bagian dari pekerjaan. "Tidak apa. Ini rezeki yang mau bekerja keras saat puasa. Mohon diterima. Terimakasih sudah mengantar." Mereka mengangguk sembari tersenyum. "Kami yang berterimakasih Mbak. Semoga selalu sehat dan lancar rezeki." Jihan mengangguk kemudian mengantarkan mereka sampai ke depan.

__ADS_1


"Banyak banget." Kata Jalwa menghampiri Ibunya. "Katanya mau bersedekah. Ayo kota bungkus. Besok dibagikan." Ajak Jihan langsung mendapat anggukan. Bibi dan semua pekerja di rumah datang ikut membantu Jihan. Mereka tentunya tak akan membiarkan wanita hamil itu kelelahan. "Assalamualaikum." Ucap Jaafar memasuki rumah sembari menyeret kopernya. "Waalaikumsalam." Jawab mereka. "Kakak sudah sampai." Jihan berdiri untuk mengantar kakaknya ke kamar. "Kalian disini dulu ya. Ibu mau antar Paman." Ucapnya berpamitan.


Jihan dan kakaknya sampai di kamar. "Terimakasih." Ucap Jaafar memeluk adiknya. "Sama sama." Wanita itu menepuk punggung sang kakak. "Sudah. Istirahat dulu kalau capek. walk in closet nya ada di samping kamar mandi. Kira kira apa yang kurang nanti kakak tinggal bilang ya. Aku mau ke bawah dulu." Jaafar mengangguk kemudian mengecup pipi adiknya sebelum wanita itu pergi.

__ADS_1


"Ibu. Lihat. Kita sudah bungkus banyak." Kata Jaffar menunjuk barang barang yang sudah di bungkus dengan tas kain. "Pinter." Jihan ikut duduk mengecup kening anak anaknya bergantian. "Mbak Jihan nanti mau buka puasa pakai apa?" Tanya Bibi. "Soto Bi. Papa tadi juga bilang mau es buah katanya." Wanita itu mengangguk menanggapi majikannya. "Mau pisang goreng dong." Kata Jaafar baru datang. "Sama ayam goreng juga enak." Lanjut pria itu kemudian duduk di dekat adiknya. "Iya. Nanti di bikinkan." Jawab Jihan.


Mereka semua berkumpul untuk buka bersama setelah sholat magrib berjamaah. Para pekerja di rumah juga ikut bergabung karena Jihan mengajak mereka. Sebenarnya sudah dari dulu Ia membiasakan para pekerja di rumah untuk makan bersama seperti ini. Namun mereka selalu menolak dengan berbagai alasan. Mungkin karena merasa tidak enak hati harus bergabung dengan majikannya. Meskipun Jihan memperlakukan mereka seperti keluarga tapi mereka cukup tau posisi. "Nggak makan nasi Dek?" Tanya Riza melihat daritadi istrinya hanya makan es buah saja. "Nanti." Jawab Jihan. "Mas suapi ya." Tawarnya. "Nggak mau." Kalau sudah di jawab begini Riza hanya bisa pasrah. Ia tak mau memaksa hingga membuat Jihan tak nyaman. "Sedekahnya itu mau dibagikan kapan kak?" Tanya Mark. "Besok. Besok pagi kayanya." Pemuda itu mengangguk. "Bagus. Bisa bantu dong. Besok hari Sabtu libur." Kata Mark. "Kak. Malam ini kita lanjutkan yang kemarin ya." Jaafar mengangguk semangat. "Awas kalian kalau susah di bangunkan gegara begadang." Jihan memberikan peringatan kepada adik dan kakaknya. "Jam 9 nanti kita langsung tidur Dek." Jawab Jaafar langsung mendapat anggukan dari Mark.

__ADS_1


Semuanya selesai sholat tarawih langsung berkumpul di ruang keluarga. "Ibu. Coklat Jalwa mana?" Tanya gadis itu. "Ada. Ibu ambilkan. Nanti gosok gigi sebelum tidur." Jalwa tampak mengangguk kemudian mengikuti langkah Ibunya. "Sama sekalian kacang juga ya Ibu. Mau di makan sama kakak sama Om juga." Celotehnya masih mengekori sang Ibu.


Jihan kembali lagi menghampiri mereka sambil membawa keranjang cemilan. "Nah. Makan sambil duduk." Tutur Jihan pada anak anaknya. "Iya." Jawab keduanya patuh. "Pesanan kamu Mark." Jihan memberikan bungkusan kacang pada adiknya yang sedang sibuk main game bersama sang kakak. " Kupasin. Suapi sekalian. Aku lagi subuh kak." Jawab pemuda itu. Jihan menghela napas kemudian melakukan apa kemauan adiknya. "Dek. Kamu lihat laptop aku nggak?" Tanya Riza tiba tiba. "Mana aku tau. Pakai saja nggak pernah." Riza duduk bersandar di bahu istrinya. "Kamu apa apaan sih. Berat tau." Kesalnya. "Pinjam bahu sebentar kenapa sih Dek." Pria itu memelas. "Nggak ada pinjam pinjam. Risih aku. Pinjam bahu siapa sana." Ia mendorong pelan tubuh suaminya agar menjauh. Riza tak peduli sekarang malah tiduran sambil meletakkan kepala di pangkuan istrinya. "Dasar makin tua makin kaya bocah." Sindir Jaafar melihat tingkah iparnya.

__ADS_1


__ADS_2