
Jihan memijit lengan Papanya pelan. "Masa tua begini Papa masih begitu bersemangat menjenguk perkebunan. Papa istirahat di rumah saja." Kata Jihan. "Iya. Papa kan sudah banyak istirahat. Jika badan ini tidak di gerakkan malah sakit semua." Jawabnya sambil terkekeh. "Peter kembali?" Tanya Papa membuat Jihan terperanjat. Ia menyembunyikan semua ini karena tak mau Papanya emosi seperti kejadian di masa lalu. Pria itu hampir saja membunuh Peter yang telah menyakitinya. "Hm. Sepertinya papa sudah tau. Aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. Kami sedang menjalin kerjasama bisnis." Jelas Jihan. "Dia telah menyakitimu." Ucap Papa menatap putrinya sendu. "I Know. Tapi menjadi kuat, bahagia dan hidup lebih baik sudah merupakan dendam yang paling manjur untuk membalas mereka. Aku bukan wanita lemah Pa. Papa tau itu. Aku tidak akan memberi celah baginya untuk menyakiti aku dan keluargaku. Tak akan aku biarkan dia mengusikku. Aku akan menjadi wanita hebat, tangguh dan mandiri. Akan aku buktikan padanya jika tanpa sampah itu aku malah lebih bahagia." Kata Jihan meyakinkan.
Baru saja keluar ruangan Jihan sudah mendapatkan pelukan dan ciuman dari suaminya. "Sudah dapat?" Tanya Wanita itu. "Sudah. Aku kira tempatnya jauh ternyata tidak." Jawab Riza sambil tersenyum. Pria itu baru saja keluar mencari pot bunga yang tak sengaja di pecahkan putra bungsunya beberapa hari yang lalu. "Dia yang berbuat kenapa harus aku yang bertanggung jawab." Gerutu Riza menggandeng tangan istrinya untuk berjalan menuruni tangga.
__ADS_1
"Juma." Tegur Jihan. Wanita itu menghela napas melihat tingkah absurb anak terakhirnya. Bocah itu sedang bermain bola di dalam rumah. Memang luas. Tapi juga tidak normal seperti ini. Bagaimanapun banyak barang barang yang bisa saja pecah saat terkena benda bulat itu. "Main di luar." Tegas Jihan. "Iya Ibu. Maaf." Ucapnya sambil memeluk sang Ibu. Keras kepala nya Juma hanya bisa di taklukkan oleh Jihan dan semua orang tau itu. "Hm. Jangan diulangi." Kata Jihan mengusap kepala putranya dengan lembut.
Jihan, Suami dan anak anak sedang duduk bersama di ruang tengah sedangkan Papa memilih untuk istirahat di kamar. Wanita itu sedang tiduran malas di sofa dengan paha Riza sebagai bantalannya. "Ibu. Ibu sayang Aku, Kak Jalwa atau Kak Jaffan?" Tanya Juma. "Sama Saja. Kalian anak Ibu tentunya Ibu sama rata sayangnya ke kalian." Jawab Jihan. "Kalau kita punya acara di jam yang sama dan hari yang sama. Ibu memilih datang di acara siapa?" Jihan menggeleng dengan mata terpejam. "Biar adil. Ibu tidak akan datang. Ibu akan tidur di rumah." Jaffan dan Jalwa tersenyum dengan jawaban sang Ibu. "Kalau kita sakit. Ibu rawat yang mana?" Riza menghela napas. Putra terakhirnya itu banyak tanya namun Jihan tetap sabar meladeni meskipun Ia tau wanita itu sedang mengantuk. "Ibu jadikan kalian satu kamar. Ibu rawat bersama sama. Begitulah yang namanya adil." Ucap Jihan.
__ADS_1
Selesai memarkirkan sepeda Jihan berkeliling. Tangan wanita itu selalu di gandeng oleh suaminya. "Beli bakso yuk." Ajaknya. "Iya." Jawab anak anak menyetujui. Mereka langsung menuju kedai bakso sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka saat ini.
Lima mangkok bakso sudah tersaji lengkap dengan es teh dan kerupuk. "Jangan banyak banyak." Tegur Riza menjauhkan wadah sambel itu sebelum istrinya kalap. "Sedikit lagi saja Mas. Masih kurang." Ucapnya. "Kamu sudah ambil satu sendok besar Dek. Sudah cukup." Tegasnya. Jihan hanya bisa pasrah dan mulai makan baksonya. "Habis ini kita kemana?" Tanya Jalwa. "Mampir ke taman itu tadi ada yang jual gorengan. Ibu mau beli." Jawab Jihan sambil fokus makan. "Ibu makan gorengan mulu." Keluh Jaffan. "Nggak setiap hari juga." Jihan tersenyum menatap putra sulungnya yang cemberut.
__ADS_1
Sampai rumah Jihan langsung menuju kamar untuk segera mandi. Tubuhnya yang berkeringat membuat Ia tak nyaman. Setelah menyiapkan air wanita itu buru buru masuk ke dalam bathup. "Dek." Panggil Riza memasuki kamar mandi. Ia berjalan kemudian melepaskan kaosnya. Pria itu memeluk sang istri yang sedang berendam dari belakang. "Hm." Jawab Jihan. "Aku mau mandi juga." Ucapnya meloloskan seluruh kain dari tubuhnya kemudian ikut masu ke dalam bathup yang besar. Tangan Riza menjalar meraba seluruh tubuh sang istri. Begitupun Jihan. Tangan mulusnya membelai milik suaminya. "Aku tidak tahan lagi Dek..." Ucap Riza sambil memejamkan mata. Pria itu mencium bibir istrinya dengan rakus dengan tangan bermain di bawah. "Aku akan masuk...." Riza mengarahkan miliknya dan...."Ibu....Ibu sedang mandi?" Suara gedoran pintu membuat dua insan itu berhenti. "Ya. Sebentar." Jawab Jihan. "Sisanya kamu urus Mas. Anak kamu loh itu...." Kata Jihan beranjak meninggalkan Riza yang tersiksa dalam bathup. "Oh Juma." Kesalnya.