
Riza baru pulang dari mushola selesai melaksanakan sholat subuh. Pria itu memasuki kamar melihat istrinya sedang melipat mukena. Ia tersenyum kemudian menghampiri Jihan dan memeluknya dengan erat. "Kenapa?" Riza menggeleng. Memang tidak ada apa apa. Dia hanya ingi peluk saja. "Aku mau masak dulu buat sarapan. Nanti sudah pada masuk kan." Jihan sedikit mendorong tubuh suaminya agar merenggang. "Cium dulu." Subuh hari pria itu sudah membuat wajah istrinya dua kali penuh ciuman terhitung mulai bangun tidur tadi juga.
Tak membutuhkan waktu lama. Nasi goreng dengan telur gulung dan sosis kini sudah tersaji di meja makan. "Nah. Ayo sarapan." Kata Jihan melihat kedatangan suami dan adiknya. "Pakaikan dasiku Dek." Ucap pria itu sambil duduk di kursinya. "Iya." Wanita itu mulai meraih kain panjang tak bermotif dari tangan suaminya kemudian mengalungkan di luar kerah kemeja Riza. "Kak. Aku bingung mau ikut kegiatan apa."Ucap Mark tiba tiba curhat. "Kenapa bingung?" Jihan bertanya seadanya membuat remaja itu menghela napas. Pertanyaan yang klasik dan tidak bermutu. Macan betina memang begitu. Tidak kreatif sama sekali saat bicara. "Kalau aku ikut kegiatan pecinta alam gimana ya?" Ia bertanya pada diri sendiri sekaligus sepasang suami-istri di depannya. "Halah. Dulu diajak hiking saja sakit. Mau gaya gayaan ikut pecinta alam. Gausah. Nanti kakak yang di suruh jemput kamu kalau ada apa apa." Jawab Jihan kemudian duduk setelah selesai dengan kegiatannya. "Ikut basket sana atau apalah yang penting jangan bau bau alam dan petualangan gitu. Nggak cocok di kamu." Tambahnya lagi sambil menyiapkan makan untuk suami dan sang adik. "Nggak ikut ah kalau gitu." Ucapnya putus asa. "Eh...Kakak. Dulu aku inget waktu nunggu kakak pulang ekskul basket aku lihat lo kakak di cium kak Martin." Ucap Mark membuat Riza tersedak. "Ati ati Mas." Jihan menepuk punggung suaminya. "Cium?" Tanya Pria itu dan keduanya mengangguk kompak. "Di kening. Ga usah aneh aneh deh. Itu sudah biasa disana. Kamu yang salah tempat ceritanya disini." Kesal Jihan pada adiknya.
__ADS_1
Jihan sudah bersiap dengan pakaian casualnya. Hari ini Ia akan berkunjung ke perkebunan. Wanita itu baru ingat jika habis lebaran adalah masa panen. Tapi papanya hanya membawa buah kesini. Dia tidak terima. Ingin juga merasakan memetik sendiri dari kebun.
Sebuah mobil terparkir mulus di rumah kayu sederhana. Seorang pria paruh baya menyudahi obrolannya dengan beberapa orang kemudian langsung menghampiri sosok wanita yang baru saja turu. Dari pada memeluk seperti biasa kali ini Pria itu lebih tertarik untuk memelintir telinga Putrinya terlebih dahulu. "Sudah papa bilang jangan kesini. Mana nyetir sendiri. Suami kamu dimana?" Omelnya yang akan berbuntut panjang. "Lagi ngajar Pa. Aku bosen di rumah." Ucapnya melepaskan tangan itu dari telinganya kemudian menggandeng untuk diajak berjalan bersama. "Kamu itu. Selalu saja." Mau tidak mau Papanya hanya bisa menghela napas melihat tingkah Jihan.
__ADS_1
Di tempat lain Riza baru saja keluar dari kelas. Pria itu langsung menuju ke ruangannya untuk menghubungi sang istri. "Pa Riza." Panggil seseorang berjalan cepat menghampiri pria itu. "Pak Panji." Jawab Riza sambil tersenyum. "Kita ada rapat Pak. Ayo. Semuanya sudah menunggu." Ajaknya. Riza mengangguk lalu mulai mengikuti langkah Panji.
Semua sudah berkumpul. Hanya beberapa saja yang datang karena akan membahas rencana kerja yang di tugaskan untuk mereka. Riza terpaksa harus duduk di depan Zahra karena hanya kursi itu yang tersisa. Selama rapat berlangsung Gadis itu tak berhenti mencuri pandang pada pria di depannya sampai yang lain juga mengingatkan untuk fokus pada diskusi. "Mohon fokusnya. Disini kita mau diskusi bukan mengganggu pria beristri." Sindir dosen wanita yang menjadi ketua rapat kali ini.
__ADS_1