Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Jujur


__ADS_3

Malam hari Jihan tidak bisa tidur. Wanita itu memutuskan untuk duduk di balkon kamar sembari menikmati cappuccino nya yang masih hangat. "Dek." Panggil Riza menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Kenapa bangun?" Tanyanya. "Kenapa kamu belum tidur. Ada yang dipikirkan?" Tanya Riza. "Oh Iya Dek. Siapa itu Peter? Kamu belum menjawab pertanyaanku dua hari yang lalu." Jihan menundukkan kepala menatap suaminya.


Jihan menghela napas dan mulai menceritakan pada suaminya. "Peter mantan kekasihku dulu sebelum pulang kesini. Pria itu sudah berkhianat dengan sahabatku sendiri. Mereka berhubungan tepat saat hari ulang tahunku. Saat itu aku ingat betul. Hujan turun. Aku berlari ke apartemen milik Peter tempat dimana aku dan Michelle akan merayakan hari spesial itu. Saat aku membuka pintu mereka sedang melakukannya di sofa dengan kue tart dan lilin yang menyala. Mereka terus meminta maaf dan aku mengabaikan. Beberapa bulan berlalu aku semakin menjauh. Hatiku tambah pedih ketika sahabat yang begitu aku sayangi mengandung benih buah dari perbuatan mereka. Peter menikahi Michelle. Mereka dikaruniai dua anak kembar laki laki." Jelas Jihan. Riza mendudukkan diri. Ia tak menyangka kisah istrinya tambah tragis. Wanita itu mengalami berbagai hal yang jika dia sendiri mengalami mungkin tak akan setegar Jihan. Ia merengkuh tubuh ramping itu. Membawa ke dalam dekapan hangat. "Pasti sakit. Mas paham akan itu." Ucap Riza. "Aku tidak terlalu memikirkannya Mas. Sekarang aku sudah bahagia dengan keluarga. Tidakkah itu bayar yang berkali kali lipat lebih sepadan dengan sakit di masa lalu yang aku alami?" Jihan tersenyum mengusap punggung laki laki yang sudah menemaninya 18 belas tahun itu.


Pagi hari.

__ADS_1


"Ibu masih ngantuk?" Tanya Jaffan melihat Ibunya sedaritadi menguap sambil menutup mulut. "Hm. Ibu nggak bisa tidur gegara minum kopi semalam." Jawabnya. "Kan sudah dibilang jangan minum kopi." Kata Papa. "Kepengen Pa." Jihan tersenyum membuat pria paruh baya itu menghela napas. "Kamu hari ini nggak kemana mana kan Dek?" Tanya Riza. "Nggak. Di rumah aja. Lagi kosong." Jawab Jihan. "Juma. Nanti kamu berangkat sekolah sama Kakak ya. Ayah mau mampir ke ruko dulu antar uang." Remaja itu menggeleng. "Nggak mau. Mau diantar Ibu aja." Jawabnya. "Kan sekalian kakak ke kampus. Bareng kakak aja." Jaffan jengkel dengan adiknya itu. "Nggak." Juma tetap dalam permintaanya. "Iya. Biarkan. Nanti Ibu antar. Maklum. Ibu sibuk di masa dia sekolah. Beda dengan dulu kalian berdua yang selalu Ibu antar jemput. Jadi biar Ibu nanti yang antar." Ucap Jihan untuk mencegah perdebatan mereka sebelum terjadi.


Jihan sudah sampai di depan sekolah Juma. "Juma turun dulu Ibu. Love You." Ucapnya sambil mengecup pipi mulus wanita itu. "Love you too sayang." Jawab Jihan tersenyum. Ia menunggu sampai putranya masuk ke dalam kemudian melajukan mobilnya untuk pulang.


Seorang pemuda sedang mengamati Jihan dari kejauhan. Senyuman tampak terbit di bibirnya. Ia berjalan melangkah menghampiri Jihan. "Butuh bantuan Nona?" Tanyanya. Jihan menoleh hingga wajah cantik wanita itu membius pemuda di depannya sampai tak berkedip beberapa saat. "Papa bodoh." Ucapnya dalam hati. "Iya. Saya mau beli Finca El Injerto dan El Salvador Los Planes." Jawabnya. "Kebetulan baru datang. Sangat sulit mendapatkannya. Selera Nona sangat bagus." Ia meraih kopi yang diinginkan Jihan dari tempat penyimpanan kaca di atas.

__ADS_1


"Toko ini baru ya? Dulunya ini toko bunga kalau tidak salah." Kata Jihan sambil menunggu pesanannya yang sedang di bungkus. "Iya. Karena Papa saya pindah Saya membuka toko di sini sambil kuliah." Jawabnya tersenyum ramah. "Oh. Seperti anak saya juga kuliah." Kata Jihan. "Saya di universitas A. Bagaimana dengan anak Nona?" Jihan mengangguk. "Sama. Kebetulan sekali." Jihan terkekeh sambil menyerahkan black card nya.


"Terimakasih." Ucap Jihan menerima kantong kertas berisi kopinya. "Sama sama Nona. Semoga hari Nona menyenangkan." Wanita itu mengangguk kemudian tersenyum dan berlalu pergi. "Pantas saja kalian tidak bersama." Gumamnya menatap kepergian Jihan.


"Kenapa lama?" Tanya Papa melihat putrinya baru pulang. "Mampir beli kopi Pa." Jawab wanita itu sambil duduk. "Sudah dibilang jangan minum kopi." Ucapnya ikut duduk. "Gimana ya Pa. Udah candu." Jawabnya sambil terkekeh. "Ada telpon." Jihan mengangkat panggilan yang masuk. "Waalaikumsalam Mas. Ada apa?" Tanyanya. "Baru saja sampai di rumah. Tadi habis mampir beli kopi." Kata Jihan sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Hm. Bawain kerupuk rujak aja deh Mas." Pesannya sambil terkekeh. "Hm. Makasih. Assalamualaikum." Salam Jihan mengakhiri penggilan suara.

__ADS_1


__ADS_2