
Jihan sedang berkumpul dengan anak anak dan suaminya. "Besok kalian berangkat ke pesantren lo." Ucap Riza mengingatkan. "Besok?" Keduanya terkejut. "Iya. Ayah kan sudah bilang kemarin." Jaffan dan Jalwa menatap Ibunya dengan sendu. "Kalian yang mau waktu itu. Sudah Ayah daftarkan." Jihan mengelus pipi kedua anaknya. "Nggak bisa dibatalkan ya Ayah?" Tanya Jalwa. "Nggak bisa dong. Yang mau masuk banyak. Kalau Ayah batalkan ya kasihan yang kemarin kemarin mau ikut jadi nggak bisa. Jangan sedih begitu. Cuman lima hari." Kata Riza. "Nah. Kalian mau belanja perlengkapan buat ke pesantren ngga?" Tanya Jihan untuk menghibur keduanya. Jaffan dan Jalwa mengangguk lemah. "Ayo berangkat." Ucap wanita itu mengecup pipi anak anak kemudian segera berdiri. "Alergi kamu belum sembuh Dek. Mau kemana lagi?" Riza mencekal tangan sang istri. "Mau belanja." Jawabnya. "Biar Mas yang beli. Kamu di rumah saja." Jihan menggeleng menanggapi suaminya. Wanita itu bergegas menggandeng tangan anak anak untuk diajak bersiap.
Riza mengikuti anak anak dan istrinya sambil mendorong troli belanja. Mereka kini sedang berada di Mall. "Mau apa? Kalian daritadi diam saja." Kata Jihan. "Terserah Ibu." Jawab keduanya lesuh. "Sudah jangan sedih begitu." Jihan berlutut memeluk Jaffan dan Jalwa. Riza hanya menggelengkan kepala melihat dua bocah itu. Hanya lima hari saja seperti akan pisah selama berbulan bulan dengan Ibunya. Bagaimana nanti jika Riza menyuruh keduanya mondok beneran.
__ADS_1
"Pergi nggak bilang bilang. Darimana? Kakak kan belum sembuh. Kenapa keluar keluar." Cerocos Mark melihat kedatangan kakaknya. Jihan melepas maskernya dan melemparkan ke sofa dengan asal. "Bawel. Dari luar belanja kebutuhan. Besok anak anak kan sudah berangkat mondok." Jawabnya sambil melemparkan sebungkus kacang pada sang adik dan di tangkap Mark tanpa meleset. "Weh...Ponakan Om mau mondok. Pisah sama Ibu nih. Nggak ada yang Nina Bobo in waktu tidur." Riza menghela napas melihat tingkah iparnya. "Jangan di goda. Nanti batal berangkat mereka." Kata Pria itu sembari meletakkan belanjaannya di atas sofa.
"Ibu punya eskrim." Ucap Jihan berusaha menghibur anak anaknya. "Hey kenapa menangis sayang?" Tanya nya sambil meletakkan eskrim yang di bawa di atas meja kemudian memeluk kedua bocah itu bersamaan. "Hanya lima hari. Kalian ini. Nanti kalau Ayah suruh mondok terus gimana?" Jihan langsung menatap tajam Riza saat mendengar perkataan pria itu. "Jangan nangis. Nanti Ibu sering jenguk." Kata Jihan menenangkan keduanya. "Berangkatnya kapan sih?" Tanya Papa baru kembali dari kamar. "Besok Pa. Nggak rela itu pisah sama Ibunya." Jawab Riza sambil terkekeh. "Memang begitu Za. Mereka kan sayang banget sama Ibunya. Kamu ingat pas Jihan kecelakaan dulu anak anak gimana. Nggak mau makan sampai kurus banget. Sekarang bisa kumpul begini mereka nggak rela pisah." Kata Papa. Riza mengangguk membenarkan apa yang dikatakan mertuanya. "Sudah. Nanti hari pertama Ayah sama Ibu antar terus hari selanjutnya jenguk kalian. Jangan sedih. Hanya lima hari kok. Pulang pulang dapat ilmu banyak." Ucap Riza mengelus kepala kedua anaknya bergantian.
__ADS_1
Riza mendongak melihat kedatangan sang istri. Pria itu menutup laptopnya dan meletakkan di atas meja. "Ayah nggak boleh tidur sama kita." Ucap Jalwa. "Kok gitu?" Tanya Riza. "Nggak boleh. Kita cuman mau tidur sama Ibu. Nggak mau sama Ayah." Jawabnya. "Ayah tidur dimana? Ayah nggak bisa tidur dong kalau nggak sama Ibu." Riza menatap putrinya memelas. "Nggak mau. Besok kita ke pondok sudah tidak tidur sama Ibu lagi. Malam ini kita maunya tidur sama Ibu saja nggak mau sama Ayah." Ucap Jalwa dengan mata berkaca kaca. "Dek." Pria itu meminta bantuan. "Sudah. Ngalah aja. Yang minta mereka mondok kan kamu." Jawab Jihan. Riza berjalan lemah memutari ranjang. Pria itu mengecup kening istrinya kemudian keluar kamar. Mana semenjak mereka tidur sama Ibunya nggak dapat jatah, nggak bisa peluk dan sekarang harus tidur di kamar sebelah.
"Astaga bikin kaget." Ucap Mark terkejut tiba tiba Riza sudah duduk di dekatnya. "Kenapa belum tidur? Tadi habis makan malam katanya ngantuk." Tanya Mark fokus melihat layar besar di depannya. "Nggak boleh tidur sama istri. Jalwa suruh aku keluar." Jawabnya lemah membuat Mark tertawa terbahak bahak. "Nasib. Kalau punya niat terselubung ya begitu. Dapat karma." Ucap pemuda itu membuat Riza mendengus.
__ADS_1