Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Mewakili


__ADS_3

Riza duduk setelah meletakkan segelas susu di depan Istrinya. "Jadi jalan jalan Dek?" Tanya Pria itu. "Jadi dong. Iya kan Pa? Papa sudah Janji lo." Ucap Wanita itu langsung mendapat anggukan dari Papanya. "Kenapa nggak nanti sore saja sih Dek. Kan bisa aku temani." Keluh Sean. "Iya Bu. Kalau nanti sore kan kita bisa ikut." Jalwa cemberut karena harus sekolah di saat Ibunya jalan jalan. "Jangan sedih. Nanti Ibu bawakan sesuatu." Kedua bocah itu mendongak menatap wanita yang sedang meneguk susunya itu. "Janji ya. Tapi Ibu perginya jangan lama lama. Kita pulang nanti Ibu harus sudah berada di rumah. Kakek. Kakek jaga Ibu baik baik. Jangan bawa Ibu makan pedas. Jangan bawa Ibu ke pasar. Jangan bawa Ibu ke tempat berdebu." Jalwa memberi wejangan panjang lebar. "Wah....Mewakili Ayah kamu ya." Ucap Papa melihat cucunya begitu cerewet mengalahkan Riza. "Mereka itu sama Pa. Sama seperti Ayahnya. Wajahnya mirip kakak perangainya mirip sang Ayah. Pas itu." Kata Mark sambil tergelak. "Kalau memang iya. Kakak yang pusing." Ucap Jihan. "Kenapa dek?" Tanya Riza membuat istrinya menghela napas. "Satu kamu saja udah panas telinga aku Mas. Tambah dua Jaffan sama Jalwa. Atau yang masih di dalam perut nanti seperti kalian bertiga. Ouhhh..." Jihan menundukkan kepalanya. "Cerewet juga karna sayang sama kamu Dek. Kamu di cerewetin aja nggak mempan apalagi aku diam. Makin manjadi." Balas Riza karena memang kenyataannya begitu.

__ADS_1


Jihan sudah siap langsung menggandeng tangan papanya yang menunggu di ruang tengah. "Biar aku yang nyetir pa." Ucap wanita itu membuat Papa menghela napas. "Kamu lagi hamil. Papa saja." Jawabnya. "Tapi Pa...." Jihan mulai protes. "Nggak jadi pergi mau?" Tanya Pria itu dengan cepat di jawab gelengan.

__ADS_1


Papa hanya mengantar kemanapun Jihan ingin pergi. Keduanya saat ini sudah berada di sebuah toko coklat. Jihan memesan kemudian duduk menikmati eskrimnya bersama sang Papa sambil menunggu coklatnya selesai di bungkus. "Setelah ini mau kemana lagi sayang? Masih ada waktu 2 jam. Ucap Papa. "Papa mau kemana? Giliran Papa sekarang." Balas Jihan. "Papa kangen baksonya pak Sukur sih. Kita beli. Boleh nggak sama suami kamu?" Pria paruh baya itu memastikan. "Boleh. Nanti aku telpon." Jawabnya.

__ADS_1


Riza baru pulang langsung ikut bergabung bersama istri, anak anak, mertua dan iparnya yang sedang makan bakso. Pria itu duduk menempel pada istrinya. "Mau Dek." Ucapnya minta di suapi. Jihan mengangguk. Jadi menyuapi empat orang termasuk dirinya sendiri sekarang. "Pak Sukur tadi titip Salam buat kamu Mas."Ucap Jihan menyampaikan. "Waalaikumsalam." Jawab Pria itu setelah menelan makanan di mulutnya. "Ganti baju sana. Nanti makan lagi." Tegur Jihan. "Nanti lah Dek. Itu Mark juga belum ganti baju." Ucapnya mencari kawan dia...."Kalian sama saja. Ganti baju sana." Kompak menggeleng. Mark dan Riza sama sama menolak. "Tau ah." Kesal Jihan membiarkan dua orang itu sesukanya saja.

__ADS_1


Sore hari Jihan, suami dan anak anak jalan jalan di taman. "Jangan dekat dekat. Nanti jatuh." Tegur Jihan sambil duduk di undak undakan tangga yang melingkari air mancur. "Ibu lihat. Jalwa punya sesuatu." Ucapnya berlari menghampiri sepasang suami istri itu. "Apa?" Gadis kecil itu tersenyum kemudian membuka kedua tangannya. "Capung. Lepaskan sayang. Biar dia hidup bebas." Kata Jihan langsung di jawab anggukan. "Kalian sudah memikirkan?" Tanya Riza. "Sudah Yah. Tapi Cuman lima hari kan?" Riza mengangguk. "Gimana? Mau?" Tanyanya sambil tersenyum. "Mau. Tapi selama kita belum berangkat. Selama itu pula kita tidur sama Ibu." Ucap Jalwa membuat napas Riza tercekat. "Tidur sendiri dong. Kalian keseringan tidur sama Ibu." Ucap Riza lesuh. "Kita kan mau pisah sama Ibu Yah. Jadi harus habiskan banyak waktu sama Ibu." Jawab Mereka kompak.

__ADS_1


__ADS_2