Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Memaafkan


__ADS_3

Riza berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa. Pria itu sudah seminggu ini diabaikan karena kejadian itu. Ribuan kali Ia meminta maaf namun istrinya enggan menjawab. "Dek. Jangan begini. Aku tau aku salah karena egois. Aku minta maaf." Katanya sambil memeluk pinggang sang istri. Hati Jihan tercubit. Apalagi kini Ia mendengar isakan isakan kecil yang dari suaminya. "Bangunlah." Kata wanita itu sembari mengangkat pelan bahu suaminya. "Tidak mau. Aku akan begini terus sampai kamu memaafkanku." Riza semakin mengeratkan pelukannya membuat Jihan menghela napas. "Baiklah. Aku memaafkanmu. Bangun aku risih kamu begini." Kata Jihan membuat suaminya mendongak menatap wajah cantik itu. "Terimakasih banyak." Ucapnya sembari berdiri kemudian duduk di samping sang istri. "Kamu mau minta apa? Semuanya aku turuti." Kata Pria itu saking senangnya karena sudah di maafkan. "Nggak. Mungkin nanti ada. Awas aku mau lihat Mark dulu." Jawabnya bergegas pergi.

__ADS_1


Mark menggeleng pelan melihat kedatangan sepasang suami istri itu. Ia heran karena Iparnya selalu mengikuti sang kakak kemanapun wanita itu pergi. "Chester." Panggilnya menghampiri Mark yang sedang menonton bersama serigala kesayangannya. Jihan ikut duduk bergabung di karpet bulu begitupun juga dengan suaminya. Jihan menidurkan kepalanya dengan nyaman di bantal dengan Chester yang juga berbaring di sampingnya. "Kau semakin gemuk Ches."Ucapnya membelai lembut kepala Chester. "Besok aku antar kamu Vaksin Ches." Jihan memeluk Hewan itu dengan hangat membuat Riza cemburu. Dia yang suaminya saja tidak pernah di perlakukan semanis itu. "Oh. Betapa kejamnya istriku." Batinnya meruntuki nasibnya yang tidak semujur Chester yang selalu di peluk, di cium dan di elus. "Kakak kenapa?" Tanya Mark melihat iparnya sedang termenung. "Ah tidak papa " Jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Riza dan Mark sudah siap dengan baju kokonya. "Dek. Kita berangkat jumatan ya." Pamitnya pada Sang istri. "Iya." Jawab Jihan singkat kemudian meneruskan menonton. Kedua orang itu hanya tersenyum melihat tingkah Jihan. Mereka kemudian segera berangkat sebelum terlambat.

__ADS_1


Keduanya sudah sampai di rumah. Riza tersenyum melihat sang istri tertidur pulas di karpet. Tanpa mengganti bajunya pria itu langsung mendekat dan mengamati wajah cantik Jihan yang begitu tenang. "Kenapa?" Tanya Jihan sambil membuka matanya. "Em tidak. Kamu kalau mau tidur di kamar saja. Kalau di bawah masuk angin nanti." Tutur Riza pada istrinya. "Aku mau masak dulu." Kata Jihan sambil mendudukkan diri. "Aku bantu ya." Riza begitu antusias membuat istrinya tak tega. Wanita itu mengangguk lemah menyetujui. "Ganti dulu bajumu. Ini mau masak bukan tausiyah." Kata Jihan membuat suaminya tersenyum.

__ADS_1


Riza mengganti pakaiannya dengan cepat. Ia bergegas menghampiri istrinya yang sedang berada di dapur. "Mark. Kamu disini juga." Kata Riza ikut bergabung dengan istri dan iparnya. "Iya. Daripada menganggur." Jawabnya sambil tersenyum. Tadinya Riza pikir Ia akan masak berdua dengan istrinya. Eh ternyata tidak. Namun tidak mengapa karena dengan begini hubungannya dengan sang istri akan semakin membaik. "Ini di potongnya gimana Dek?" tanya Riza sudah memegang wortel dan pisaunya. "potong serong." Jawab Jihan dan Riza mengangguk. Pria itu mulai memotong sesuai instruksi sang istri. "Bukan begitu. Begini yang benar." Jihan memegang tangan suaminya membantu pria itu mengarahkan pisau dengan benar. Riza tersenyum mengamati wajah cantik Jihan yang begitu dekat. "Heh. Malah bengong. Nanti jari kamu hilang juga tidak terasa." Kata Jihan membuat Suaminya fokus kembali.

__ADS_1


__ADS_2