
Jihan tak berhenti tersenyum. Mobil impiannya sudah terparkir di garasi rumah. "Iya deh yang punya mobil baru." Ucap Mark menyindir kakaknya. "Bisa aja. Nanti kalau kamu keluarin mobil hati hati. Awas saja sampai mobil kakak tergores." Jihan memperingati adiknya membuat remaja itu memutar bola matanya malas.
"Dek. Kamu belum mandi juga?" Riza menghela napas sambil menghampiri istrinya. Padahal dia tadi sudah menyuruh Jihan mandi dan bersiap karena akan mengajaknya ke toko. Namun entak masuk telinga kanan keluar telinga kiri Riza juga tidak paham. Kadang istrinya itu lebih kekanakan dari Mark. "Mau kemana Mas?" Nah kan uji kesabaran ini namanya. "Kan tadi sudah Mas bilang mau ajak ke toko Dek." Jawabnya sambil mengelus kepala Jihan. "Ah iya lupa. Yaudah tunggu sini. Aku mandi sebentar." Wanita itu bergegas berdiri lalu berjalan cepat meninggalkan suami, adik dan anak anak yang berkumpul disana.
"Ayo berangkat." Ajak Jihan kembali lagi dengan pakaian casualnya. Dua orang di depannya menggelengkan kepala melihat wanita itu mengenakan sepatu kets sambil berdiri. Riza menghampiri istrinya dan berjongkok untuk memasangkan sepatu Jihan. "Makasih." Ucapnya memberikan pelukan hangat sebagai hadiah. "Kita berangkat dulu Mark. Mau nitip apa?" Tanya Jihan sambil menggandeng tangan kedua anaknya. "Dimsum sama martabak." Remaja itu tersenyum menatap kakaknya. "Ok." Jawab Jihan berlalu pergi. "Kakak berangkat dulu. Assalamualaikum." Ucap Riza lalu menyusul istrinya. "Waalaikumsalam." Mark kembali lagi tiduran sambil menonton TV.
__ADS_1
30 menit perjalanan Riza dan istri beserta kedua anaknya sampai di toko. "Mau sama Ibu." Jaffan dan adiknya mulai merengek. "Iya iya. Ayo." Jihan langsung membantu dua bocah itu untuk turun. "Ustadz. Mbak Jihan." Sapa karyawan melihat kedatangan sepasang suami istri itu. "Hallo Jaffan. Jalwa. Kenapa nih???" Tanya mereka begitu antusias melihat Si kembar yang bersembunyi di balik Ibunya. "Lagi rewel mbak..." Jawab Jihan sambil tersenyum. "Kamu kalau mau istirahat di ruangan Mas saja Dek. Nanti Mas susul. Mas mau cek barang yang baru datang dulu." Ucap Riza mengecup kening istrinya sebelum pergi. "Kita kesana dulu ya Mbak...." Jihan berpamitan mengajak anak anaknya untuk pergi ke ruangan suaminya.
Hembusan napas lega terdengar dari mulut seorang wanita yang sedang memangku kedua anaknya. Jaffan dan Jalwa akhirnya tenang juga setelah sekian lama rewel. "Pelan pelan makannya sayang." Ucap Jihan mengelap bibir Jalwa yang belepotan karena makan biscuit.
Di sisi lain Riza sedang sibuk menghitung barang yang baru saja datang. "Kurmanya kurang. Saya pesannya 9 dus lo." Ucap pria itu. "Oh. Yang dua lagi sebentar lagi akan datang Ustadz. Karena mobil box yang mengangkut tidak muat." Jawab karyawannya. "Em... Ustadz boleh tanya nggak?" Riza mengangkat pandangannya sambil tersenyum. "Boleh. Tanya saja." Jawabnya. "Saya sudah 4 tahun menikah kok belum dapat momongan ya ustadz. Padahal saya sama istri sehat saja waktu cek ke dokter. Kalau boleh tau apa sih rahasianya biar cepet punya anak. Ustadz kan baru menikah sudah punya anak. Sementara saya belum." Pria itu meletakkan penanya kemudian menegapkan tubuh. "Ya mungkin belum waktunya. Allah kasih kita yang terbaik. Mungkin kamu di suruh pacaran dan menikmati waktu berdua dulu dengan istri kamu. Ya berusaha terus dan berdoa yang paling penting. Sekarang kan banyak alternatif herbal. Bisa di coba itu." Jawab Riza membuat lawan bicaranya mengangguk. "Kalau Ustadz juga pakai herbal begitu?" Tanyanya lagi penasaran. "Alhamdulillah Tidak. Kalau kamu sama istri pengen coba nanti saya kasih nomornya. Itu temannya teman saya." Kata Riza. Pria itu mengangguk kemudian berterimakasih pada bosnya.
__ADS_1
"Dek." Panggil Riza memasuki ruangannya. Pria itu tersenyum melihat sang istri sedang menemani anak anak tidur di karpet. "Sudah selesai?" Tanya Jihan dan suaminya mengangguk. Seperti biasa Riza langsung mengecup kening dan bibir istrinya mupung anak anak sedang terlelap. "Kamu traktir mereka?" Ucapnya di jawab anggukan sang istri. "Iya. Sekalian pesan buat Mark tadi. Nggak boleh ya?" Tanya Jihan. "Bukan begitu Dek. Itu kan pakai uang pribadi kamu. Kalau mau apa apa pakai uang dari Mas saja." Ucapnya sambil membawa sang istri dalam pelukan. Riza tau Jihan jarang membelanjakan uang darinya karena tidak mendapatkan laporan penggunaan. "Nggak papa. Itu kan aku yang mau." Jawab Jihan membuat suaminya menggeleng. "Lain kali kalau ada apa apa pakai uang yang dari Mas. Itu nafkah Mas Dek. Kamu bebas menggunakannya." Ucap Riza dan Jihan hanya bisa mengangguk pasrah.
Riza makan sambil menyuapi istrinya seperti biasa. Pria itu mengecup gemas pipi Jihan yang sedang menggembung karna penuh makanan. "Ih...Ngeselin." Ucap wanita itu tak jelas membuat Riza mengulangi kecupannya lagi. "Ih. Ngeselin." Ucap Jihan mencubit pinggang suaminya. "Nyebelin gini Suami kamu lo Dek." Ia mulai menggoda. "Mau di tukar?" Kata Jihan membuat Riza menatap istrinya tak percaya. "Tega kamu?" tanyanya dengan wajah sedih. "Eh...Aku cuman bercanda Mas." Ia memeluk suaminya membuat pria itu diam diam tersenyum. "Minta Cium." Ucapnya langsung mendapat anggukan dari sang istri.
Yuh....Up nya banyak sekale di hari yang panas ini. Kek kerja rodi... wkwk... Terimakasih yang sudah baca, like dan comment.
__ADS_1
Love you pulll pokoknya....