Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Biarkan Aku Sendiri


__ADS_3

Seorang wanita sedang duduk bersama pria paruh baya di ruang keluarga. "Jadi ini yang kamu cari?" Tanya Papa Jihan sembari mengusap wajah cantik putrinya hanya di jawab anggukan lemah. "Papa bersamamu nak." Ucapnya merengkuh tubuh itu dengan hangat. Apa yang dirasakan putrinya Ia juga merasakan. Memang tidak ada hubungan darah diantara keduanya. Namun ikatan batin mereka sangat kuat.


Riza baru sampai di rumah. Pria mengucapkan salam sembari masuk ke dalam untuk mencari keberadaan sang istri. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan tersenyum menghampiri suaminya. "Mark mana?" Riza menggeleng pelan. "Kamu. Suami pulang bukannya di cium dulu malah menanyakan Mark." Riza langsung mengecup kening, bibir dan pipi istrinya sampai puas. "Lah itu kamu sudah mulai duluan." Jawab Jihan sambil terkekeh. "Em..Dek. Tadi Mas dapat surat undangan makan malam dari keluarga. Kita datang ya." Ajak Riza menggandeng tangan istrinya untuk diajak duduk bersama. "Kamu saja yang datang. Aku di rumah." Jihan menolak dengan halus. "Tapi...." ucapnya merasa keberatan jika harus datang sendiri. "Palingan makan malam terus pulang. Nggak akan lama. Aku di rumah saja sama Mark." Dengan terpaksa Riza mengangguk setuju sambil tersenyum. Mungkin istrinya sedang tidak mau pergi. Perutnya Jihan yang membesar kan biasanya membuat malas kesana kemari.

__ADS_1


Malam hari Jihan mengantarkan suaminya sampai ke depan rumah. "Aku berangkat Dek." pamitnya sembari mengecup seluruh wajah sang istri dan memeluk dengan hangat. "Hati hati." Pesannya. "Iya. Assalamualaikum Sayang." Riza tersenyum mulai masuk ke mobil. "Waalaikumsalam." Jawab Jihan sambil melambaikan tangan.


30 menit perjalanan Riza sudah sampai di hotel sesuai dengan yang tercantum di undangan. Pria itu diarahkan masuk ke dalam sebuah ruangan yang disana ternyata disana sudah ada mertua dan para iparnya. "Assalamualaikum." Ucap Riza mencium tangan pasang suami istri itu. "Waalaikumsalam Za. Jihan mana? Dia kan yang mengundang kita." Tanya Bunda membuat pria itu mengerutkan keningnya. Ia mengamati sekitar ternyata tempat duduk sudah di setting dengan nama masing-masing orang. "Loh Bun. Riza dapat undangan makan malam dari Ayah lo. Istri tidak datang katanya sedang lelah." Ucap Riza membuat semuanya bingung. "Kalau begitu duduk dulu." Ajaknya. Riza mengangguk dan duduk di kursi yang sudah disiapkan untuknya.

__ADS_1


Jihan berdiri setelah sesi makan malam usai. "Terimakasih." Ucap wanita itu tersenyum pada pelayan yang mengantarkan sebuah map hitam padanya. "Hari ini. Aku mengundang semuanya datang untuk meminta sebuah penjelasan. Sebenarnya aku sudah tau tapi ingin dengar dengan jelas dari kalian. Aku yakin kalian pasti tau tentang ini." Ucap Jihan mengeluarkan surat palsu itu, dan hasil investigasi. "Dek. Kami..." Ucap Ayah tak tau harus mengatakan apa. "Kami hanya ingin terbaik untukmu." Lanjut Bunda membantu suaminya. "Aku sudah bisa di bohongi. Sangat terbiasa sekali. Kalian menganggap ku bodoh dan mudah di manipulasi. Sangat miris bukan. Kalian menganggap ku apa? anak kecil atau apa? Sudah aku tanya dulu tapi kalian tidak ingin mengaku. Jika sudah seperti ini kalian tidak bisa mengelak nya lagi. Ok Fine. Kalian tidak menginginkanku, tidak menyayangiku atau tidak menganggap ku ada. Aku bisa terima. Tapi kenapa? Kenapa harus menjebak ku demi menjalankan sebuah janji yang aku sendiri tidak ingin terlibat di dalamnya. Itu adalah janji kalian. Kenapa aku? kenapa aku yang harus di bawa bawa? Kenapa kalian mencampakkanku dan menyuruh aku kembali untuk melunasi sebuah janji. Apa sebatas itu hargaku? Bukan soal pernikahan yang terlanjur terjadi. Tapi cara picik kalian yang melukai hati. Hanya ini yang ingin aku sampaikan. Terimakasih sudah datang." Jihan membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa meneteskan air mata sesuai janjinya sebelum pergi. Semua orang mematung di tempat berusaha meraih udara yang sempat dirasa hilang. Hari ini. Hari yang ditakutkan tiba. "Jangan di ganggu dulu." Ucap Mark mencekal tangan Riza yang hendak mengejar istrinya. "Aku ingin minta maaf." Riza menatap Mark penuh permohonan. "Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Jika kak Riza memaksakan diri. Dia akan tambah Membencimu. Biarkan dia tenang." Ucapnya bergegas pergi.


Pukul tengah malam Riza masih setia berdiri di depan rumah istrinya. Jihan tak pulang ke rumah suami melainkan di rumahnya sendiri. "Dek." Ucap Riza buru buru berdiri saat pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang begitu di cintainya. "Dek. Mas....." Ucapnya tak berlanjut langsung membawa tubuh sang istri dalam pelukan. "Pulanglah. Biarkan aku sendiri dulu." Ucap Jihan sudah dalam dekapan suaminya. "Mas mohon jangan seperti ini. Mas tau Mas salah. Tapi Mas mohon. Jangan tinggalkan Mas sedetik saja." Riza menangis lagi dan lagi membuat Jihan menghela napas. Jika bukan Riza yang terus memaksa orang tuanya untuk tetap melanjutkan perjodohan ini mungkin saja mereka juga tidak akan berbohong dan membawa nama neneknya untuk memuluskan rencana. Wanita itu mengurai pelukan suaminya dengan pelan. Ia menggenggam tangan pria itu kemudian mengusap air mata yang sudah membasahi pipi. "Biarkan aku sendiri dulu. Pulanglah. Jika kamu disini aku akan tambah marah. Besok kamu bekerja. Selamat malam. Assalamualaikum." Ucap Jihan mengecup pipi suaminya sekilas kemudian segera masuk ke dalam. Riza mematung. Kata kata yang tidak pernah keluar dari mulut istirnya hari ini terdengar mengalun di telinga. Ia tak mau mengambil resiko. Daripada membuat keadaan makin buruk lebih baik Ia menuruti keinginan sang istri. "Waalaikumsalam. Sayang." Jawab Riza mulai melangkah pergi.

__ADS_1


Ya di kasih bawang dong biar gimana gitu ya. Katanya cerita itu harus ngena. Nah ini sudah ngena belum? Para Reader sudah dapat feel ya belum?🤭🤭🤭🤭🤭🤭


__ADS_2