Penantian Cinta Ustadz Riza

Penantian Cinta Ustadz Riza
Seribu Cara


__ADS_3

Riza buru buru menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan. "Dek. Nanti antar sarapan ke kampus ya. Katanya kamu mau ke cafe sekalian jemput anak anak." Pria itu menyeruput jus jeruknya sembari menunggu Jihan selesai mengikat dasi. "Ini sudah aku siapkan. Kenapa nggak kamu bawa aja." Jawab Jihan dengan tatapan heran. "Nggak papa. Pokoknya antar saja ya. Mas berangkat dulu." Pria itu mengecup pipi sang istri dan berpamitan pada semuanya lalu bergegas pergi. Jihan menghela napas ikut duduk bersama anak anak, adik dan Papanya yang sedang sarapan. "Kamu nggak sarapan?" Tanya Papa melihat putrinya hanya minum jus saja. "Lagi males Pa." Jawab Jihan. "Kakak harus makan. Nanti sakit lo." Tutur Mark diikuti kedua ponakannya. "Nggak papa. Nanti kalau lapar juga makan."


Pukul 10 Jihan berhenti di parkiran kampus setelah mengantar anak anak ke restoran. Wanita itu turun dari mobil mewahnya seketika menjadi pusat perhatian. "Kamu dimana Mas?" Tanya Jihan pada suaminya. Keduanya kini tersambung oleh panggilan suara. "Yaudah aku kesana." Jawabnya bergegas pergi sembari menenteng paper bag berisi makanan.

__ADS_1


Riza tersenyum melihat Sang berjalan menuju ke arahnya yang sedang duduk di kantin. Wanita itu sangat cantik dengan gamis baby blue dan jilbab instan dengan warna senada. "Ini makanannya. Aku pergi dulu." Ucap Jihan karena risih jadi pusat perhatian. "Nanti dulu Dek. Temani Mas makan dong." Riza menggenggam tangan Sang Isteri tak membiarkan Jihan pergi. "Nggak mau. Anak anak nunggu aku di restoran." Jawabnya. "Mas cium nih." Ancam Riza membuat wanita itu akhirnya duduk dengan pasrah.


Mark menghampiri Kakak dan Iparnya. "Tumben kakak kesini. Ada apa?" Tanyanya. "Itu. Minta di antarkan makanan. Suruh temani pula." Jawab Jihan. "Ini buat kamu. Kakak bawa dobel." Lanjutnya mendorong kotak makan di depan Mark. "Makasih. Tau aja aku udah lapar lagi." Pemuda itu tersenyum kemudian mulai makan. "Dek suapi. Aku angkat telpon dulu." Ucap Riza. "Angkat telpon pakai tangan kiri makan pakai tangan kanan. Atau angkat dulu makannya berhenti. Kan bisa." Jawab Jihan. Kan malu harus menyuapi suaminya mana semua mata mahasiswa tak berhenti melihat di meja tempat mereka duduk. "Ayo dong Dek." Ucap ya membuat Jihan menghela napas. Wanita itu meraih sendok dan mulai menyuapi suaminya. "Katanya mau angkat telpon." Jihan kesal melihat Riza berbohong. "Nggak jadi Dek. Aku balas pesan saja." Mark menahan tawa. Ada saja cara iparnya itu untuk bisa mendapat perhatian sang kakak. Riza benar benar banyak akal. Punya istri tidak romantis memang harus seperti itu. Jika tidak mana ada manis manisnya sifat Jihan itu.

__ADS_1


"Weh...Mbak Jihan datang. Anak anak tadi heboh nanyain Mbak." Ucap mereka melihat kedatangan Bosnya. "Tadinya juga mau sebentar. Mas Riza lagi ribet. Minta suapi pula." Jawabnya bergumam di akhir kalimat. "Maklum Mbak." Mereka terkekeh melihat Bosnya cemberut sambil menyiapkan makan. "Makanan Papa sudah di kirim?" Tanyanya. "Sudah Mbak. Tadi langsung di makan sama Papanya Mbak. Tadi juga pesen kalau katanya mau pulang sore dari perkebunan." Jihan mengangguk kemudian segera berpamitan.


Selesai dari restoran Jihan langsung pulang ke rumah. Wanita itu menemani anak anaknya tidur siang. Ia membuka mata saat menyadari pintu kamar terbuka. "Sudah pulang?" Tanyanya melihat Riza menghampiri dan ikut berbaring di belakangnya. "Sudah." Jawabnya sembari mengecup bibir sang istri dan menenggelamkan wajah di ceruk leher Jihan. "Mandi sana." Titahnya namun Riza menggeleng. "Mau tidur dulu aja. Mandinya nanti sore sekalian." Jawab Riza sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Sore hari mereka berkumpul di halaman belakang untuk mengobrol. "Rambutmu sudah panjang Sayang." Ucap Jihan menyugar rambut putranya ke belakang. "Besok kita potong rambut mupung libur." lanjutnya lagi langsung menadapat anggukan dari bocah tampan itu. "Katanya kalau dewasa nanti mirip Ayahnya. Sampai sekarang mereka malah semakin mirip kamu. Lihat kalian bertiga seperti saudara kembar." Ucap Papa sambil terkekeh. "Iya ya pa. Mirip Ibunya. Nggak ada yang mirip Riza." Pria itu ikut tertawa menanggapi mertuanya. "Manjanya mirip kamu Mas. Jangan lupakan itu." Jawab Jihan di angguki oleh Papa dan Mark.


__ADS_2