
Jihan melipat mukenanya setelah selesai sholat subuh berjamaah dengan yang lain. "Kalian kalau masih mengantuk tidur lagi saja ya. Nanti Ibu bangunkan kalau waktunya sarapan." Kata Wanita itu. "Iya Ibu." Jawab keduanya patuh. Riza berbalik kemudian bersalaman dengan yang lainnya. Hatinya tercubit mendapati sang istri sudah tidak ada.
"Mbak Jihan. Kok masuk dapur. Baru saja sembuh loh. Biar Bibi saja yang memasak sarapannya." Jihan menggeleng sambil tersenyum kemudian segera mengeluarkan bahan makanan dari kulkas. "Pagi ini mau sarapan pakai apa Mbak?" Tanya Bibi. "Papa dari kemarin pengen Sop daging Bi. Kita bikin itu saja. Yang lain pasti juga setuju." Jawab Jihan. "Kamu disini Dek. Baru sembuh kok sudah masak saja." Kata Jaafar menghampiri adiknya. "Sudah sembuh makannya masak." Jawabnya.
Riza kembali ke kamar. Pakaian kerjanya sudah siap di atas ranjang. Tentu saja Istrinya yang menyiapkan. Meskipun Jihan mendiaminya namun wanita itu tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Jihan memakaikan dasi suaminya seperti biasa kemudian menyiapkan makan untuk Riza dan yang lain juga. "Oh. Aku lupa ambilkan kamu susu Dek. Tadi sudah aku buat tapi lupa membawanya kesini." Ucap Riza. "Aku sudah minum subuh tadi." Jawab Jihan singkat kemudian memakan sarapannya diikuti yang lain.
Semuanya sudah berangkat. Tinggal Jihan, Riza dan anak anak yang masih berada di ruang makan. "Aku berangkat dulu Dek." Ucapnya. Jihan mengangguk kemudian mencium tangan pria itu. "Ayah berangkat dulu ya." Pamitnya pada si kembar. "Iya Yah." Jawab keduanya mencium tangan Riza bergantian. "Assalamualaikum." Riza mencium kening istrinya dan mengusap kepala anak anak bergantian. "Waalaikumsalam." Jawab Mereka.
Jihan sedang menemani anak anak menonton TV di ruang keluarga. "Ibu masih sakit?" Tanya Jaffan. "Tidak sayang. Ibu sudah sembuh. Tadi Ibu sudah memasak." Jawabnya sembari mengusap kepala anak anak dengan lembut. "Ayah sudah menyakiti Ibu." Lirih Jalwa. "Sayang Ibu tidak.." Belum sempat meneruskan perkataan Jihan sudah dipotong dengan anaknya. "Ibu tidak perlu menyembunyikannya. Kita mendengar sendiri. Malam itu Ayah membanting barang sembari membentak Ibu dengan keras." Ucap Jalwa dengan tegas. "Ayah telah menyakiti Ibu." Lanjutnya lagi sembari memeluk Ibunya.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang Riza tak sengaja melihat mobil istrinya. Pria itu putar balik kemudian mengikuti kemana arah Jihan pergi. "Mau kemana dia?" Gumam Riza terus mengikuti mobil mewah yang melaju dengan kecepatan sedang itu.
Cukup lama akhirnya mobil berhenti di sebuah toko kerajinan keramik. Jihan terlihat turun sembari membawa paper bag. "Itu keramik yang aku pecahkan. Dia bahkan menyetir sendiri untuk membenahinya." Riza merutuki kebodohannya yang telah membuat hati Jihan terluka. Beberapa saat kemudian Jihan terlihat keluar. Wanita itu melajukan mobilnya menuju tempat pencucian mobil dengan sistem Drive thru yang tak jauh dari sana.
Mobil Jihan mulai masuk ke dalam untuk melakukan proses pencucian. Wanita itu menangis kencang di dalam. Ia meluapkan semua kekecewaan yang di rasakan. Jihan kemari hanya untuk menyembunyikan tangisnya. Inilah cara Ia untuk menangis. Jika di tempat seperti ini tidak ada yang mendengar dan melihat seberapa rapuhnya dia. Suami yang Ia perjuangkan bahkan Ia rela mengesampingkan cita citanya di masa muda karena telah menikah. Dia mengubur impiannya karena mengandung buah cinta mereka dan ingin fokus menjadi Ibu dan istri yang baik. Bahkan Ia rela cacat seumur hidup untuk menyelamatkan suaminya. Jihan telah berusaha mati matian menjadi baik, dan lebih baik lagi untuk mengimbangi suaminya. Bahkan dia sering begadang saat suaminya terlelap untuk sekedar mempelajari hukum agar tidak mempermalukan suaminya ketika di tanya oleh orang orang usil. Dia melindungi suaminya dari orang orang yang menghina Riza karena perbedaan status sosial mereka yang cukup kontras. Riza pria sederhana Jihan menerimanya. Tidak masalah. Ia bersikap acuh bukan karena tak sayang dan tak cinta. Namun Ia ingin menjaga jarak agar memperbaiki diri dulu. Agar bisa pantas untuk suaminya yang sholeh. Kata selingkuh kemarin membuat Jihan terpukul. Ternyata semuanya sia sia. Memang benar yang dikatakan. Tidak ada manusia yang tidak menyakiti. Semuanya sama.
__ADS_1
Riza mengejar istrinya yang masuk rumah lebih dulu. "Dek." Panggil pria itu sembari mencekal tangan sang istri. Riza mengamati mata istrinya yang begitu sembab dengan hidung memerah yang menandakan wanita itu sudah menangis lama. "Kamu menangis Dek?" Tanyanya. "Ibu." Jalwa menghampiri ibunya. "Sayang." Jihan melepaskan tangan sang suami. "Ibu bawakan donat madu. Ayo dimakan bersama Kakak." Ucapnya sembari menggandeng tangan gadis kecil itu. Riza meneteskan air mata mengamati kepergian istrinya. Ia sudah menyakiti Jihan begitu dalam. Ia tak pernah melihat sang istri sesedih itu sebelumnya.